Sejarah Obyek Turisme

borobudurSalah satu unsur penting dalam turisme adalah obyek turisme. Tentu saja penting karena untuk apa para turis datang berkunjung ke suatu tempat jika tidak ada yang dilihat.

Dalam menelusuri sejarah obyek turisme kita dapat melihat buku catatan perjalanan yang terbit pada abad sembilan belas hingga awal abad ke-20. Catatan perjalanan tersebut kebanyakan ditulis oleh orang-orang dari Amerika utara, Eropa. Hanya segelintir penulis catatan perjalanan dari kalangan pribumi.

Bila ditelisik lebih dalam, dalam buku catatan perjalanan pada periode berikutnya, ada pengulangan dari obyek yang dikunjungi. Hal ini disebabkan para penulis catatan perjalanan tersebut tentunya sebelum berkunjung ke Hindia, membaca buku catatan perjalanan pada periode sebelumnya.

Secara kronologis dapat dikatakan, mereka masuk ke Hindia-Belanda melalui jalur laut. Mereka mendarat di pelabuhan-pelabuhan yang terdapat di Hindia. Jika mendarat di Jawa, maka mereka akan tiba di pelabuhan Tanjung Priok. Dari sana, mereka menuju Batavia dengan menggunakan kereta kuda atau kereta uap. Di Batavia mereka mengunjungi Oude Stad (Kota Tua), menikmati bangunan-bangunan peninggalan abad ke-17. Di wilayah lain (Weltevreden) mereka juga menikmati bangunan-bangunan seperti bangunan gereja yang dibangun satu abad sebelumnya. Jika hendak keluar Batavia, maka Buitenzorg menjadi pilihan. Transportasi yang digunakan adalah kereta api.

Dari Buitenzorg, perjalanan dapat dilanjutkan melintasi daerah  pegunungan. Daerah tujuannya adalah wilayah Priangan (Preanger) hingga wilayah Vorstenlanden (kerajaan), Surakarta dan Yogyakarta. Pemandangan alam berupa pegunungan, air terjun, lembah, danau hingga pantai menjadi obyek yang mereka temui dan mereka catat dalam buku .  Dalam perjalanan, obyek bangunan peninggalan kuno juga mereka kunjungi. Sesekali mereka membuat catatan mengenai kebiasaan, adat istiadat penduduk yang mereka temui.

Beberapa obyek bangunan kuno yang mereka kunjungi adalah candi-candi, seperti Prambanan, Borobudur. Di beberapa wilayah juga terdapat candi-candi. Kota-kota besar yang dikunjungi adalah Semarang, Surabaya. Di kota-kota besar ini, seperti halnya di Batavia, fasilitas serta bangunan peninggalan periode sebelumnya juga mereka nikmati.

Mengingat situasi di wilayah binnenlanden (pedalaman) di Jawa, khususnya pasca 1830 (Perang Jawa/Perang Diponegoro), yang dianggap tidak aman. Mereka yang hendak mengunjungi wilayah Vorstenlanden, misalnya, ketika belum dibangun jalur kereta, harus menggunakan jalur laut. Mereka berangkat dari Tanjung Priok menuju pelabuhan Semarang. Dari Semarang mereka melanjutkan perjalanan menuju Vorstenlanden.

Obyek-obyek yang dikunjungi oleh para pengunjung (visitor), pejalan (traveller)- (di sini menurut saya belum dikenal konsep turis)- kemudian dimuat dalam buku panduan turis (gidsboek voor toerist). Dalam buku panduan turis ini jelas obyek-obyek yang dapat dilihat ditandai serta diberi penjelasan. Para turis disarankan, dianjurkan untuk mengunjungi dan melihat obyek-obyek tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *