Sekotak ‘Swiss’ dalam Kantong

Bandara Changi pukul 21.50 waktu setempat. Masih ada satu jam untuk naik ke pesawat yang akan membawa saya ke Eropa. Bagi saya Changi semacam gerbang untuk masuk ke ‘dunia’ Eropa. Saya tidak sempat menikmati fasilitas Changi berhubung jari tengah di tangan kiri saya memar. Warna kebiru-biruan, rasa nyut-nyut, dan jari yang tampak mulai membengkak membuat saya malas bergerak. Padahal biasanya sebelum naik pesawat untuk penerbangan malam, saya akan berkeliling, sengaja melelahkan diri supaya nanti di pesawat tinggal tidur dan tiba di tujuan dengan badan segar.

Setelah mengurus boarding pass menuju Zurich dan Amsterdam saya segera mencari pintu boarding. Di Changsi saya hanya singgah sejenak di sebuah toko buku untuk melihat-lihat. Tak ada buku yang menarik. Saya segera mencari posisi yang enak untuk duduk menunggu di dekat pintu boarding. Saya lihat sudah ada beberapa penumpang. Bahkan ada yang berbaring.

Saya melirik ke kantong kemeja. Sekotak kecil permen dengan gambar pemandangan pegunungan di Swiss terpampang di sana. Saya mengambil sebutir permen dan mengulumnya sambil membayangkan pemandangan bak lukisan yang menjadi latar film Sound of Music dan Heidi. Ah, beberapa jam lagi saya akan dapat menikmati pemandangan itu, gumam saya.

Setelah melewati pemeriksaan saya duduk sejenak. Tak lama panggilan kepada para penumpang dikumandangkan. Pertama, tentunya untuk kelas bisnis, penumpang yang membawa anak-anak dan orang tua. Lalu barulah kelas ekonomi yang dibagi berdasarkan nomor tempat duduk. Tak lama saya masuk ke pesawat. Dari tiket yang saya pegang, saya melihat posisi bahwa tempat duduk saya dekat jendela. Wah, mudah-mudahan penumpang di sebelah saya cukup akomodatif sehingga perjalanan panjang ini menjadi nyaman doa saya dalam hati. Dua pramugari menyambut ramah dan menunjukkan posisi tempat duduk saya.

Saya sedikit lega karena posisi tempat duduk saya di dekat pintu darurat. Namun, konsekuensinya pemandangan di jendela terhalang sayap pesawat. Di tempat duduk saya sudah ada yang menduduki, seorang perempuan. Ketika saya menunjukkan kartu boarding dan nomor tempat duduk saya, ia pun bergeser sambil meminta maaf dalam bahasa Inggris yang logatnya seperti tak asing bagi saya. Logatnya seperti dari Eropa Timur. Setelah mengambil posisi duduk, saya bersiap-siap tidur. Perempuan itu menitipkan kaca mata hitamnya di jendela dekat tempat duduk saya. “ It’s, Ok?” tanyanya. Saya jadi teringat film-film James Bond yang salah seorang peran antagonis, perempuan mata-mata dari Eropa Timur atau Rusia. Waduh!

Pesawat pun siap berangkat. Saya duduk dekat jendela, perempuan itu duduk dekat lorong. Di tengah-tengah kami kursi kosong. Seperti biasa, untuk perjalanan malam biasanya ada makan malam. Saya meminta hidangan ikan. Setelah makan malam, saya bersiap-siap tidur. Perempuan itu masih menikmati film. Sinar dari layar monitor di hadapannya sedikit menganggu saya, membuat saya sulit tidur. Saya lupa membawa sarung ke kabin. Perangkat tradisional serba guna untuk situasi darurat. Saya tetap mencoba tidur.

Tengah malam saya terbangun. Seorang pramugari lewat, tanpa diminta memberikan saya sebotol air mineral. Kebetulan saya sangat haus. Posisi di dekat pintu darurat memang lebih leluasa dan lega karena tidak ada kursi penumpang di depannya. Namun, harus selalu siaga dan siap membantu jika terjadi keadaan darurat. Menjelang pagi saya bangun dan menuju toilet sekaligus melemaskan kaki. Saya juga mengambil sebotol air mineral.

Pukul enam lewat sepuluh menit pagi pesawat tiba di Zurich. Perempuan di sebelah saya bercakap-cakap dengan salah seorang pramugari. Dari beberapa patah kata yang saya dengar, mereka menggunakan bahasa Rusia. Dari jendela saya melihat langit sedikit mendung. Sepertinya mereka membicarakan cuaca. Kami pun antri bersiap-siap turun. Rupanya kami harus naik bis terlebih dahulu. Saya yang masih mengantuk mengikuti rombongan penumpang. Zurich Flughaven tampak sepi. Setelah melewati imigrasi dan memperoleh cap, saya kembali mengikuti rombongan. Kali ini kami menaiki semacam metro. Di tengah perjalanan, suara-suara khas pegunungan Swiss, seperti klenengan sapi, lenguhan sapi menjadi pengiring kami dalam kereta bawah tanah. Waktu perjalanan sekitar dua menit.

Saya memiliki waktu enam jam dua puluh menit di Zurich, sebelum berangkat pukul setengah satu siang. Jari yang memar membuat saya kehilangan semangat untuk menghabiskan waktu di Zurich. Setelah sampai terminal keberangkatan menuju Amsterdam saya memutuskan untuk tetap tinggal di bandara. Apalagi suhu ketika itu sekitar 29 derajat dan gerimis pula. Pemandangan pegunungan indah Swiss tetap berada dengan manisnya dalam kantong. Saya hanya dapat menikmatinya dari balik kaca bandara sambil menikmati coklat suvenir dari Swiss Air. Sayup-sayup terngiang suara lenguhan sapi, dentang bel dan suara alphorn, alat tradisional khas pegunungan di Swiss.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *