Selamat Jalan, Bu Frances (1950-2019)!

Sebuah kabar duka di bulan Juni. Frances Gouda wafat. Berita tersebut saya peroleh dari timeline Facebook milik Prof. Hans Pols penulis buku Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch Indonesia (2018) – Merawat Bangsa: Sejarah Pergerakan Para Dokter Indonesia (2018). Sontak kenangan saya 12 tahun silam dengan Prof. Gouda muncul.

Awal tahun 2017 terbit terjemahan buku Dutch Culture Overseas karya Frances Gouda. Saya meresensi buku tersebut dan surat kabar Kompas memuatnya pada 1 April 2007. Beberapa bulan kemudian, tepatnya bulan Juni saya dihubungi oleh penerbit Serambi yang menerbitkan terjemahan buku tersebut. Mereka memberitahukan saya bahwa pada akhir Juni Frances Gouda akan berkunjung ke Indonesia dan akan mengadakan tur. Penerbit Serambi meminta saya untuk ikut pada tanggal 26 dan 28 Juni 2007. Tanggal 26 Juni diadakan diskusi di MP Book Point dan tanggal 28 Juni sore di Radio 68H Utan Kayu dan malamnya di Perpustakaan Depdiknas. Saya bersedia dan ketika itu selain diberi honor saya mendapat satu kardus buku pilihan saya dari penerbit Serambi.

Pertemuan pertama saya dengan Prof. Frances Gouda pada tanggal 26 Juni 2007 di MP Book Point. Saya memanggilnya ‘Ibu Frances’. Kami bercakap-cakap dalam bahasa Belanda, Inggris, dan sedikit bahasa Indonesia. Ketika membahas buku terjemahan tersebut saya menggunakan bahasa Indonesia. Beliau tampak serius mengikuti uraian saya. Usai diskusi, beliau berkata pada saya, “Bung Sjahrir adalah idola saya.” Dalam salah satu tampilan power point memang saya menampilkan sosok Bung Sjahrir. Saya teringat, Prof. Gouda bersama Thijs Brocades Zaalberg juga menulis buku American Visions of the Netherlands East Indies/Indies: US Foreign Policy and Indonesian Nationalism, 1920-1949 (2002). Dalam cover buku tersebut terpampang wajah Sutan Sjahrir.

Tanggal 28 Juni. Sore itu saya masih di kereta dan pihak Serambi terus-menerus menghubungi saya melalui pesan layanan singkat (SMS). “Sudah di mana, mas?”. Akhirnya saya tiba di Utan Kayu 68H. 10 menit terlambat. Acara seharusnya dimulai pukul 15.00. Kalau tidak salah, penyiarnya Mas Novrianto Kahar. Sebelum acara ia menanyakan apakah ada aspek Islam dalam buku Prof. Gouda. Siaran berlangsung lancar. Ada banyak pertanyaan dari pendengar. Pertanyaan yang banyak muncul mengenai kolonialisme. Sesekali Mas Novrianto menerjemahkan pertanyaan pendengar yang ditujukan kepada Prof. Gouda ke dalam bahasa Inggris.

Pukul 16.00 siaran usai. Kami bercakap-cakap sejenak di kantin. Prof. Gouda menanyakan rencana saya usai studi master. Saya menyampaikan kepada beliau rencana penelitian lanjutan tentang turisme masa kolonial. Beliau mendengarkan dengan seksama, lalu menyarankan untuk memperluas wilayah penelitian, tidak hanya Indonesia tetapi wilayah sekitar seperti Singapura, Malaysia, Vietnam. “Saya bersedia menjadi promotor!”, ujar beliau. “Tiga tahun, lalu promosi.” Katanya mantap. Kami melanjutkan obrolan saat makan malam di Restoran Pulau Dua, Senayan sebelum diskusi buku di Perpustakaan Depdiknas. Saya sampaikan bahwa putra saya belum genap 1 tahun. Intinya, saya tidak mau berpisah dengan keluarga. “Itu sulit,” kata beliau sambil menghembuskan asap rokok.

Pertemuan terakhir saya dengan Prof. Gouda dalam diskusi bukunya pada 29 Juni di Erasmus Huis. Beliau mengingatkan saya mengenai studi lanjut tersebut. Manusia berencana, Tuhan menentukan. Saya tidak jadi studi lanjut di Belanda tapi menyelesaikan apa yang telah saya rencanakan. Meskipun bukan tema seperti yang ditawarkan Prof. Gouda. Selamat Jalan, Bu Frances!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *