Serabi

Dinginnya pagi memeluk tubuh. Mata masih enggan dibuka.  Aroma harum menggelitik penciuman. Hidungku kembang-kempis mencium aroma yang belum aku akrabi. Perutku tiba-tiba lapar. Aku menggeliat dan menengok. Kursi kemudi kosong.  Aku mengerjapkan mata. Dari arah jendela aku melihat bapak berjongkok di depan emperan toko yang masih tutup, menikmati sesuatu di hadapannya.  Bapak mengangkat daun pisang di hadapannya. Aku pun membuka pintu mobil, berjalan ke arahnya.

‘Namanya Serabi,’ kata bapak sambil menyodorkan daun pisang berisi beberapa potong serabi berselimut saus gula merah.

‘Di mana kita, Pak?,’ tanyaku sambil mengambil sepotong serabi.  Aku menarik jari-jariku karena terkejut. Serabi itu masih panas rupanya. Aku berjongkok di samping bapak.

‘Cirebon,’ jawab bapak. Kami dalam perjalanan menuju Surabaya.

Aku melirik. Dua orang asyik jongkok. Mereka mengudap, menikmati serabi.  Beberapa orang berdiri di dekat penjual serabi.

Aku bangkit, berjalan ke arah penjual serabi. Penjual serabi  itu seorang perempuan tua. Dia  mengenakan kebaya. Persis mbah uyut, batinku. Tangannya yang kecil menarik-narik kayu bakar di bawah tungku tanah.  Kepulan asap kayu bakar keluar dari bawah tungku tanah. Di atasnya ada wajan tanah kecil berisi adonan serabi setengah matang.  Dengan cekatan, si mbah penjual serabi membalikkan adonan itu. Aroma harum itu bercampur dengan yang menggelitik penciumanku tadi.

Aku kembali ke tempat bapak jongkok. Bapak menyerahkan daun pisang berisi serabi. Serabi-serabi itu sudah tidak panas. Aku mengambil serabi itu dan memasukkannya ke dalam mulut.  Rasa gurih bercampur manis bertempur dalam ruang mulut.

Aku mengunyahnya perlahan, mencoba merasakan susunan formula adonan serabi. Tepung beras, air santan, dan parutan kelapa.

‘Kita jalan, yuk!’ Bapak berjalan ke arah mobil.

— Mengenang Bapak (1944-2006)

One thought on “Serabi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *