Should I stay, should I go?

Inilah judul lagu dari The Clash, kelompok musik punk yang seolah mewakili pertanyaan dalam benak saya. Apakah sudah saatnya saya ‘berkelana’ lagi untuk meneguk ilmu? Dari pihak jurusan dan universitas jelas mereka sepertinya mendukung. Ada beberapa kesempatan yang ditawarkan, diberitahukan kepada saya. Namun, saya tidak mau asal-asalan seperti masih sendiri. Semua itu butuh persiapan yang matang. Ibarat ingin mendaki gunung, perlengkapan mendaki harus disiapkan. Tidak hanya bermodal nekad.

Salah satu syarat untuk ‘berkelana’ (khususnya ke luar negeri) yaitu paspor. Tahun lalu paspor saya sudah lewat masa berlakunya. Dengan kata lain, jika tahun ini harus ke luar negeri berarti harus dibuat yang baru. Paspor pertama saya dikeluarkan oleh Jakarta Pusat tahun 1996. Saya masih ingat sewaktu mengurus pembuatannya di kantor imigrasi Jakarta Pusat di Jl. Teuku Umar, di sebuah bangunan kuno peninggalan Belanda. Sengaja saya tidak menggunakan jasa perantara. Saya ditemani almarhum bapak. Seharian kami menunggu, naik dan turun tangga. Intinya, inilah ujian kesabaran sebelum berkelana yang sesungguhnya. Akhirnya paspor pertama saya selesai juga dan dengan paspor ini saya ‘berkelana’ ke Belanda, Belgia, Jerman dan Perancis.

Paspor kedua dikeluarkan oleh Jakarta Timur tahun 2002. Dengan alasan waktu, kali ini saya menggunakan jasa perantara. Saya datang hanya untuk berfoto. Sempat bersitegang dengan petugas di loket lantaran pekerjaan di formulir saya tidak sesuai dengan KTP. Setelah menunggu, berbaur dengan para Laskar TKW dan TKI, paspor kedua saya selesai. Saya kembali ‘berkelana’.

Kali ini, entah akan dikeluarkan di mana paspor saya tersebut. Yang jelas, tahun depan saya diminta untuk menyiapkan diri untuk Colloqium di Utrecht, Belanda. Berarti paspor harus dipersiapkan. Saya sebenarnya juga berniat untuk membuat paspor baru dalam rangka persiapan kembali ‘berkelana’. Berhubung niat dan perbuatan masih belum kuat karena ‘telanjur sayang’ dan ‘selalu terkenang’ dengan wajah-wajah lucu anak-anak saya, persiapan untuk ‘berkelana’ selalu dikalahkan.

Tahun lalu sempat seorang professor asal Belanda yang menikah dengan warga Amerika mengundang saya untuk mengambil Phd di Belanda. Namun, sepertinya niat dan perbuatan masih belum kuat. Saya mau keluarga juga bisa ikut. Belum lama seorang kenalan saya yang sedang mempersiapkan Phd nya di Cornel University juga ‘menantang’ saya untuk melamar di kampusnya. Cornel? Mau dong. Awalnya sempat pesimis tapi toh di mana ada kemauan di situ ada jalan. Kenalan saya juga memberikan motivasi bahwa jangan mengecualikan diri sendiri. Siapa tahu bisa memboyong keluarga. Istri saya sempat berkelakar bagaimana jika Obama menang saya mengambil Phd di Amerika saja. Wah, Should I stay, should I go? I should go saja deh!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *