Tag Archives: achmad sunjayadi

Wisata Mata, Wisata dalam Gambar

‘….seindah warna aslinya’. Ini adalah potongan dari iklan sebuah produk film kamera analog yang kerap muncul di TVRI, satu-satunya stasiun televisi di negeri tercinta ini. Maksudnya adalah foto yang dihasilkan oleh film tersebut diklaim memiliki warna seindah situasi aslinya. Apakah memang benar demikian, tentunya tergantung pada banyak hal.
Continue reading

‘Vlieg Er’s uit’: Turisme di Belanda pada Masa Pendudukan Jerman

Perang dan kegiatan turisme merupakan dua hal yang tampaknya tidak dapat disatukan. Faktor keamanan dan kenyamanan yang merupakan faktor penting dalam kegiatan turisme, tidak dapat dipenuhi dalam kondisi perang. Kondisi damai merupakan kondisi ideal untuk kegiatan turisme. Hal lain adalah perang dapat mempengaruhi kegiatan turisme di suatu wilayah yang berada dalam kondisi perang. Kegiatan turisme di wilayah dalam kondisi perang tersebut dapat terganggu hingga berhenti sama sekali. Namun, dalam praktiknya kegiatan turisme di suatu wilayah dalam kondisi perang tidak berhenti begitu saja. Kegiatan turisme ternyata masih ada walau dengan bentuk dan pelaku yang mungkin berbeda.
Continue reading

Target di tahun 2019

Tahun 2019 sudah berjalan hampir sebulan. Agenda tahun ini pun sudah mulai dicanangkan. Capaian tahun lalu dievaluasi dan dilihat kembali. Mana yang harus diperbaiki dan mana yang perlu ditingkatkan. Tahun lalu diwarnai dengan dua buku dan berbagai artikel yang ditulis sendiri dan yang berkolaborasi dengan rekan serta beberapa mahasiswa. Artikel-artikel itu pun sudah dipresentasikan in konferensi. Bahkan, artikel-artikel itu sempat dikonsultasikan dengan seorang pakar di Belanda.
Continue reading

Kembali ke Yogya

Akhir tahun 2018 ditutup dengan mengikuti kegiatan ilmiah, tepatnya Seminar Sejarah Nasional tahun 2018. Seminar ini bertema Paradigma dan Arah Baru Pendidikan Kesejarahan di Indonesia yang diselenggarakan oleh Direktorat Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Sebelumnya acara seminar akan diselenggarakan pada 14-15 Desember 2018 tetapi kemudian dimajukan menjadi 3-4 Desember 2018.
Continue reading

Dari Turisme ke Pariwisata: Melacak Jejak Istilah Turisme di Indonesia

Salah satu artikel yang dimuat dalam Jurnal Melancong. Jurnal Perjalanan Wisata, Destinasi, dan Hospitalitas, Vol.1, 1, Maret 2018.

Berikut abstrak artikel tersebut.

Abstract
As one of the human activities for their leisure time, tourism is often considered as unimportant activities. According to Thorsten Veblen who examined the behavior of the upper classes, leisure activities owned by the upper classes is the non-productive use of time. This article discusses the origin of words related to tourism activities in Indonesia. The words that are discussed such as Dutch words vreemdelingenverkeer, toeristenverkeer, toerisme, toerist(en). By using newspapers from the Netherlands Indies period and Indonesian newspapers today and also the newspapers from the Netherlands in the 19th century, this article analyzes which words have a shift in the meaning. The official documents issued by the government of the Netherlands Indies and the Republic Indonesia are also used in this article. The result is there are the words that have a shift in the meaning because they related to using of the words and its original meaning in the Netherlands.

Kata kunci: istilah turisme; pariwisata Indonesia; toeristenverkeer; vreemdelingenverkeer

(Bukan) Tabu di Nusantara

Bulan Agustus, September, dan Oktober merupakan bulan-bulan penuh kesibukan. Kesibukan masih akan berlanjut menjelang akhir tahun. Di sela-sela kesibukan ada kabar gembira. Akhirnya setelah sekian lama menjalani proses, buku (Bukan) Tabu di Nusantara terbit.

Continue reading

Akulturasi dalam Turisme di Hindia-Belanda

Satu artikel lagi yang terbit dalam bahasa Indonesia. Artikel ini dimuat di jurnal Paradigma dengan judul Akulturasi dalam Turisme di Hindia-Belanda.
Continue reading

‘Come to Holland’

This is my article in Bahasa Indonesia on Jurnal Kajian Wilayah.

‘Come to Holland’: Promosi Pariwisata Belanda bagi Hindia-Belanda dan Indonesia

Abstract
Relation between Indonesia and The Netherlands, particularly in the tourism sector has been established long time ago. The relation has been built since Indonesia still part of Dutch colony until now. Relation in the tourism sector had disconnected between the beginning of Second World War until the 1950s. This article tries to trace the relation and the contemporary situation of the tourism sector in Netherland. The discussion focuses on the Netherlands as a tourism destination for the Dutch East Indies’ verlofgangers (those who furlough) and for Indonesian tourists. The question is how Netherlands promote their country as tourist destination and the reason why they promote their country to Dutch East Indies and Indonesian tourists. The data sources for this article are from Dutch’s newspapers and magazines during the colonial period, archives of tourism agencies in the Netherlands as well as Dutch contemporary newspapers.

Keywords: The Netherlands, Indonesia, Dutch East Indies, tourism, promotion

For the full text article, please see: http://jkw.psdr.lipi.go.id/index.php/jkw/article/viewFile/759/pdf

Cover of the book Come to Holland, source: https://www.arranalexander.co.uk

Promosi Budaya Melalui Lidah

Ketika kita bepergian ke suatu tempat biasanya kita ingin mencicipi hidangan khas daerah tersebut. Jika tidak ada hidangan khas, maka ditemu-ciptakan suatu hidangan dan diperkenalkan sebagai hidangan khas. Hidangan itu kemudian disosialisasikan sehingga terkenal dan membuat orang penasaran untuk mencicipinya. Hal ini lah yang mendorong kegiatan wisata kuliner yang marak belakangan ini.
Continue reading

Literasi Kartini: Apa yang ditulis akan abadi

Verba Volant, Scripta Manent. Apa yang dikatakan akan lenyap, apa yang ditulis akan abadi. Demikian makna ungkapan bahasa Latin ini. Ungkapan dalam bahasa Latin tersebut sesuai dengan kiprah R.A.Kartini yang menghasilkan sejumlah karya tulis. Jejak karya beliau masih dapat kita baca hingga hari ini. Dari kumpulan surat hingga beberapa karangan beliau. Baik yang dipublikasikan, maupun tidak. Jejak tersebut akan abadi dan tak akan terhapus oleh waktu karena scripta manent.
Continue reading