Tag Archives: achmad sunjayadi

Dari Turisme ke Pariwisata: Melacak Jejak Istilah Turisme di Indonesia

Salah satu artikel yang dimuat dalam Jurnal Melancong. Jurnal Perjalanan Wisata, Destinasi, dan Hospitalitas, Vol.1, 1, Maret 2018.

Berikut abstrak artikel tersebut.

Abstract
As one of the human activities for their leisure time, tourism is often considered as unimportant activities. According to Thorsten Veblen who examined the behavior of the upper classes, leisure activities owned by the upper classes is the non-productive use of time. This article discusses the origin of words related to tourism activities in Indonesia. The words that are discussed such as Dutch words vreemdelingenverkeer, toeristenverkeer, toerisme, toerist(en). By using newspapers from the Netherlands Indies period and Indonesian newspapers today and also the newspapers from the Netherlands in the 19th century, this article analyzes which words have a shift in the meaning. The official documents issued by the government of the Netherlands Indies and the Republic Indonesia are also used in this article. The result is there are the words that have a shift in the meaning because they related to using of the words and its original meaning in the Netherlands.

Kata kunci: istilah turisme; pariwisata Indonesia; toeristenverkeer; vreemdelingenverkeer

(Bukan) Tabu di Nusantara

Bulan Agustus, September, dan Oktober merupakan bulan-bulan penuh kesibukan. Kesibukan masih akan berlanjut menjelang akhir tahun. Di sela-sela kesibukan ada kabar gembira. Akhirnya setelah sekian lama menjalani proses, buku (Bukan) Tabu di Nusantara terbit.

Continue reading

Akulturasi dalam Turisme di Hindia-Belanda

Satu artikel lagi yang terbit dalam bahasa Indonesia. Artikel ini dimuat di jurnal Paradigma dengan judul Akulturasi dalam Turisme di Hindia-Belanda.
Continue reading

‘Come to Holland’

This is my article in Bahasa Indonesia on Jurnal Kajian Wilayah.

‘Come to Holland’: Promosi Pariwisata Belanda bagi Hindia-Belanda dan Indonesia

Abstract
Relation between Indonesia and The Netherlands, particularly in the tourism sector has been established long time ago. The relation has been built since Indonesia still part of Dutch colony until now. Relation in the tourism sector had disconnected between the beginning of Second World War until the 1950s. This article tries to trace the relation and the contemporary situation of the tourism sector in Netherland. The discussion focuses on the Netherlands as a tourism destination for the Dutch East Indies’ verlofgangers (those who furlough) and for Indonesian tourists. The question is how Netherlands promote their country as tourist destination and the reason why they promote their country to Dutch East Indies and Indonesian tourists. The data sources for this article are from Dutch’s newspapers and magazines during the colonial period, archives of tourism agencies in the Netherlands as well as Dutch contemporary newspapers.

Keywords: The Netherlands, Indonesia, Dutch East Indies, tourism, promotion

For the full text article, please see: http://jkw.psdr.lipi.go.id/index.php/jkw/article/viewFile/759/pdf

Cover of the book Come to Holland, source: https://www.arranalexander.co.uk

Promosi Budaya Melalui Lidah

Ketika kita bepergian ke suatu tempat biasanya kita ingin mencicipi hidangan khas daerah tersebut. Jika tidak ada hidangan khas, maka ditemu-ciptakan suatu hidangan dan diperkenalkan sebagai hidangan khas. Hidangan itu kemudian disosialisasikan sehingga terkenal dan membuat orang penasaran untuk mencicipinya. Hal ini lah yang mendorong kegiatan wisata kuliner yang marak belakangan ini.
Continue reading

Literasi Kartini: Apa yang ditulis akan abadi

Verba Volant, Scripta Manent. Apa yang dikatakan akan lenyap, apa yang ditulis akan abadi. Demikian makna ungkapan bahasa Latin ini. Ungkapan dalam bahasa Latin tersebut sesuai dengan kiprah R.A.Kartini yang menghasilkan sejumlah karya tulis. Jejak karya beliau masih dapat kita baca hingga hari ini. Dari kumpulan surat hingga beberapa karangan beliau. Baik yang dipublikasikan, maupun tidak. Jejak tersebut akan abadi dan tak akan terhapus oleh waktu karena scripta manent.
Continue reading

Tahun 2017

Tahun 2017 yang telah dilewati menyisakan kenangan. Ada banyak kenangan yang membahagiakan. Semua datang silih-berganti. Ada yang memang sudah diniatkan dan diresolusikan dari tahun-tahun sebelumnya. Ada pula yang datang tiba-tiba, tak diundang tapi harus dilaksanakan.

Tahun 2017 ada sejumlah artikel yang dihasilkan dan dipresentasikan di berbagai acara.
1. ‘Wisata Imaji’ Chairil Anwar dalam Ruang dan Waktu dipresentasikan acara Mengenang Chairil Anwar: Kepenyairan dan Pemikiran 4 Mei 2017. Dalam acara ini saya satu panel dengan Prof. Sapardi Djoko Damono.

2. ‘Raffles dan Pariwisata di Jawa’, artikel dalam buku Raffles dan Kita: Peringatan 200 Tahun The History of Java dengan editor Catrini Kubontubuh dan Eka Budianta. Sebelumnya, pada tanggal 6 Mei 2017 saya menyampaikan artikel tersebut dalam diskusi 200 Tahun The History of Java di Griya BPPI Jakarta.

3. ‘Chinese Community in the Netherlands-Indies in the View of Foreign Women Travelogue Writers of the 19th-20th Century’, makalah disampaikan di The 4th International Conference on Chinese-Indonesia Studies di FIB UI Depok (Agustus 2017)

4. ‘The Early Tourist Guidebooks to the Dutch East Indies and Malaya in the 19th and 20th Centuries’, makalah disampaikan di the 11th International Conference on Malaysia-Indonesia Relation (PAHMI 11) di FIB UI Depok (Agustus 2017)

5. ‘Cultural Aspects of Tourism Promotion Activities in the Dutch East Indies (1908-1941), makalah disampaikan di 2nd Asia Pasific Research in Social Sciences and Humanities (APRiSH) di Hotel Margo Depok (September 2017)

6. ‘Tracing the Early Tourism Activity in Eastern Indonesia’, makalah disampaikan di International Scholar Summit ‘On Shaping the Beter World 2017’ di Universitas Indonesia (Oktober 2017)
Makalah yang terakhir ini ‘mengakibatkan’ saya diberangkatkan ke University New South Wales, Sydney Australia pada pertengahan bulan November 2017.


Sebenarnya puncak ketegangan saya pada tahun 2017 adalah pada bulan Mei 2017 karena saya menjalani sidang tertutup dan dilanjutkan pada 6 Juli 2017 dengan sidang terbuka. Persiapan menghadapi ujian di saat menjelang liburan lebaran sangat menegangkan. Alhamdulillah saya berhasil mempertahankan disertasi tersebut yang berjudul ‘Dari Vreemdelingenverkeer ke Toeristenverkeer: Dinamika Pariwisata di Hindia-Belanda 1891-1942’.

Untuk tahun 2018 sedang dipersiapkan sejumlah artikel dan naskah. Semoga semua terwujud.

Wisata Menantang Maut

Meletusnya Gunung Agung di Bali akhir November 2017 silam membuat dunia kepariwisataan di wilayah tersebut mengalami gangguan. Banyak turis yang membatalkan liburan ke pulau tersebut. Namun, ada juga para turis yang nekad bertahan tinggal di Bali. Mereka malah mengabadikan momen langka yang mungkin hanya sekali seumur hidup. Fenomena para turis ‘menantang maut’ dengan menikmati objek wisata yang dalam kondisi tidak normal ini bukan lah fenomena baru. Bila kita menelusuri catatan masa silam, kita menemukan fenomena yang sama. Continue reading

KISAH PARA PEREMPUAN BELANDA PENDUKUNG REPUBLIK

Judul: Tanah Air Baru, Indonesia
Judul asli: Enkele Reis Indonesië. Vier Amsterdamse vrouwen in hun nieuwe vaderland
Penulis: Hilde Janssen
Penerjemah: Meggy Soedjatmiko
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: I, 2016
Tebal: 360 halaman
ISBN: 978-602-03-3541-4
Harga: Rp. 89.000

Berawal dari sehelai foto yang dibeli Hilde Janssen pada pameran peringatan 65 tahun Republik Indonesia tahun 2010 di Jakarta. Dalam foto itu memuat gambar dua perempuan kulit putih berambut pirang yang sedang menjulurkan badan di atas kereta api. Di bagian bawah foto terdapat keterangan bertuliskan: ‘Wanita-wanita Belanda dalam perjalanan menuju Republik, 1947’.

Beragam pertanyaan muncul di benak Hilde Janssen dan mungkin kita ketika melihat foto tersebut. Mengapa mereka menuju wilayah Republik? Siapa sebenarnya kedua perempuan Belanda itu? Apa yang mereka lakukan di wilayah Republik ketika orang-orang Belanda justru meninggalkan wilayah Republik? Bagaimana nasib mereka selanjutnya? Continue reading