Tetap Sehat dan Waras di Tengah Pandemi

“all the best people are Taureans,!” tulis Prof. Peter Carey di laman Facebook saya.
18 Ramadhan 1441. 11 Mei 2020. Menambah usia di tengah pandemi. Semoga berkah di sisa usia. Demikianlah do’a yang disampaikan kepada saya. Ya, sisa usia. Tiga tahun lagi, jika Allah mengizinkan, saya memasuki usia setengah abad. Sebagai manusia yang dilahirkan di abad lalu, abad ke-20, diberi kesempatan menikmati kehidupan di abad ke-21 adalah suatu kenikmatan tiada tara. Puji syukur atas karunia-Nya.

Harus banyak disyukuri. Kesehatan yang diberikan di tengah masa tak menentu. Beberapa rencana perlu dipikirkan ulang. Mana yang menjadi prioritas, mana yang terpaksa ditunda. Usia bertambah, jatah hidup berkurang. Maka harus dapat menjaga diri, menghindari makanan yang dulu terasa nikmati di lidah, belum tentu sehat di badan. Selain sehat badan, pikiran juga harus tetap waras.

Ada banyak hal yang pada abad ke-20 belum atau tak pernah dipikirkan dan hanya ada dalam film-film sains fiksi, sekarang sudah seperti hal yang biasa. Misalnya dalam satu adegan berkomunikasi dalam film Star Trek. Pengembangan dari teknologi telepon tetapi dapat melihatnya seperti televisi. Saat ini berbicara dengan orang yang jauh hanya dengan alat yang kecil disebut telepon pintar menjadi hal biasa. Seperti sekarang, kita dapat berkomunikasi, dapat saling melihat, berbicara walau ada jarak yang memisahkan. Kita telah menjadi masyarakat digital cum virtual.

Begitulah situasi di abad ke-21 ini. Segalanya ingin cepat. Segalanya ingin praktis. Pepatah ‘biar lambat asal selamat’ sudah tak berlaku. Bahkan mungkin sudah berganti ‘biar cepat asal tepat’. Contohnya kegiatan yang saya lakukan di hari jadi ini. Sambil mengkoreksi draf tesis, saya menjawab pertanyaan seorang wartawati dari sebuah majalah nasional. Pekerjaan mengkoreksi selesai, menjawab pertanyaan wawancara pun lancar.

Lalu sore harinya, pada waktu yang sama saya harus mengikuti dua acara. Acara yang satu menguji draf proposal tesis sedangkan acara yang lainnya mengikuti diskusi. Dua-duanya dimulai pukul 15.30. Jika saat ini masih di abad ke-20 mungkin hal itu mustahil dilakukan. Namun, karena saat ini teknologi sudah memungkinkan, jika perangkatnya tersedia, segala yang mustahil jadi tak masalah.

Saya nyalakan dua laptop di kamar. Kebetulan laptop masa perjuangan membuat disertasi masih ada meskipun semestinya sudah harus diistirahatkan. Laptop yang satu untuk mengikuti ujian draf proposal tesis. Laptop yang lain disediakan untuk mengikuti diskusi. Nah, sambil menunggu giliran menguji saya mengikuti diskusi. Akhirnya kedua acara dapat diikuti. Ujian proposal dapat selesai dengan hasil baik. Diskusi pun dapat diikuti. Semua senang dan saya pun tenang. Demikianlah berkat kemajuan teknologi di abad ke-21. ‘Nikmat mana lagi yang kau dustakan’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *