Turis itu orang asing

vvv

Turis adalah orang asing. Demikian makna dari kata turis ketika pertama kali digunakan. Mereka bukan bagian dari wilayah yang dikunjunginya. Dalam hal ini saya menggunakan konteks di Eropa serta secara khusus di Belanda dan Hindia-Belanda.

Kata ‘turis’ merupakan bagian dari kata ‘tur’ yang berasal dari kata ‘tour’. Etimologi kata ‘tur’ yang dikaitkan dengan kegiatan turisme memiliki beberapa kemungkinan. George Van Den Abbeele (1991) dalam ‘Cartesian Coordinates’, yang membahas metafora perjalanan menunjukkan bagaimana kata tour menurut peletak dasar Trias Politica  Montesquieu (1689-1775) memiliki makna ganda (Welten 2013: 34).

Menurut Van Den Abbeele, Montesquieu yang juga menulis Lettres Persanes (1721), roman berisi surat-surat (koresponden) mengenai dua orang Persia Usbek dan Rica yang melakukan Grand Tour ke Eropa (Paris), kata tour memiliki dua makna. Gagasan Montesquieu mengenai turisme berdasarkan pada kata un tour (tur, perjalanan keliling) dan une tour (menara). Menara merupakan tempat tertinggi, tempat kita bisa melihat pemandangan kota dan wilayah tertentu. Kata tour yang bermakna menara berhubungan dengan tur yang bermakna perjalanan keliling/wisata (Welten 2013:34)

Istilah ‘tour’ sebenarnya telah masuk dalam perbendaharaan kata bahasa Inggris sejak lama. Adalah Adam Smith (1723-90) ekonom Inggris penulis The Wealth of Nations (1776) yang menambahkan akhiran ‘ist’ ke kata ‘tour’ untuk membentuk istilah baru tourist pada 1770-an. Namun, makna yang dihasilkan oleh Smith untuk ‘tourist’ bersifat peyoratif dan merendahkan karena ia menganggap tourist sebagai orang yang mengerjakan sesuatu yang tidak penting sehingga kurang dihargai. Alasan Adam Smith tersebut tampaknya karena persepsinya mengenai banyak orang yang mengikuti ritual Grand Tour di kawasan Prancis dan Italia telah kehilangan karakter dan jiwa. Ritual itu hanya dilakukan dengan mengikuti rute perjalanan yang sudah ada untuk mendapat pengalaman pribadi melihat kota, situs, dan obyek terkenal, terutama peninggalan-peninggalan bangsa Romawi.

Istilah ‘toerisme’ (turisme) pada pertengahan abad ke-19 belum dikenal di Belanda. Bahkan dalam edisi pertama kamus Van Dale (1864) istilah ini tidak ada. Dalam Etymologisch Woordenboek van het Nederlands (Kamus etimologi bahasa Belanda) disebutkan bahwa istilah toerisme baru digunakan di Belanda tahun 1897 yang berasal dari kata tourism dari bahasa Inggris.

Bagaimana dengan ‘turis’? Kata ‘tourist’ di Belanda ditemukan pertama kali dalam artikel majalah De Gids tahun 1839: “Waarlijk, alleen uit het oogpunt van scenery beschouwd, zoude de Geschiedenis eenen nooit voldan tourist bevredigen kunnen” (Sungguh, bila dianggap dari sudut pandang pemandangan saja, maka sejarah tidak akan pernah dapat memuaskan turis). Artikel ini tidak membahas kegiatan turisme, melainkan mengenai pelajaran sejarah kuno. Apabila kita melihat kata tourist yang dipakai dalam artikel ini, kata tourist tersebut berasal dari bahasa Inggris. Apabila kita memperhatikan konteks kata tourist dalam artikel tersebut, makna yang dimiliki oleh kata tersebut tampaknya seperti makna yang dikemukakan oleh Adam Smith yaitu bersifat peyoratif.

Penggunaan makna serupa (peyoratif) pada istilah turis dapat kita temukan juga dalam surat kabar sezaman yang terbit di Belanda. Dalam sebuah artikel di bawah rubrik Mengelingen dengan judul Het gezelschap van Rome (kelompok di Roma) yang dimuat dalam Leydse courant (14/03/1842) muncul istilah toeristen, kata toerist dalam bentuk jamak (kata toerist mendapat akhiran –en). Artikel ini mengenai situasi di Italia, khususnya peninggalan kuno di Italia. Satu hal yang menarik dalam artikel ittu adalah situasi di Forum (daerah terbuka) Campo Vaccino digambarkan orang-orang yang datang ke sana, para pedagang yang bepergian, para pembantu, para turis dan orang manja dari seluruh dunia.

Anderen genoeg spreken over de gedenkteekenen, ik heb mij voorgenomen er niets van te zeggen. De Hunnen en Gothen vertreden nog altoos het edel stof van den Forum of de Campo Vaccino: het zijn de reizende handels, bedienden, de toeristen en verweelden van geheel wereld.”

(Lainnya berbicara sangat cukup tentang kenangan, saya telah mengusulkan untuk tidak mengatakan apa-apa. Hunnen (kumpulan orang nomaden Eurasia, kemungkinan orang dari Altai dan Uralic)  dan Gothen (orang dari Jerman timur yang memegang peranan atas runtuhnya Romawi) menginjak debu mulia dari Forum atau Campo Vaccino: mereka adalah para pedagang yang bepergian, para pembantu, para turis dan orang manja dari seluruh dunia)

Hingga beberapa puluh tahun setelah digunakan kata toerist, kata toerisme di Belanda masih belum dikenal oleh masyarakat. Kata yang digunakan adalah vreemdelingenverkeer yang memiliki makna orang asing. Seperti yang terlihat dalam  Dagblad van ZuidHolland en ‘s Gravenhage (17/12/1862):

Gaat het vreemdelingen-verkeer in China vooruit, in Japan kan men zich nog maar niet aan de nieuwen toestand gewennen. Het leven der vreemdelingen verkeert steeds in gevaar en wereldlijke Keizer, die de vreemdelingen begunstigt, zal misschien het slagtoffer eener ophanden zijnde revolutie worden. Intuschen zijn Europeanen op alles gewapend, zodat de vrees voor hunne persoonlijke veiligheid is verminderd.

(Akankah arus orang asing di Cina lebih maju, sementara itu  di Jepang, orang belum terbiasa dengan situasi baru. Kehidupan orang asing tetap dalam bahaya dan kehidupan duniawi Kaisar, yang berpihak pada orang asing, akan menjadi korban di tangan revolusi. Sementara itu semua orang Eropa bersenjata sehingga rasa takut pada keselamatan pribadi mereka berkurang.)

Bahkan hingga dibentuknya sebuah asosiasi yang berkaitan dengan kegiatan turisme di Belanda, pada 1883, mereka masih menggunakan istilah vreemdelingenverkeer. Asosiasi itu adalah  de Vereniging tot bevordering van het Vreemdelingenverkeer yang memulai kegiatannya di Amsterdam. Setelah itu diikuti dengan kota-kota lainnya.

Bagaimana dengan di Hindia-Belanda?  Di Belanda, istilah toerisme digunakan di surat kabar pada 1894. Sedangkan di Hindia-Belanda, dari sumber yang ada dijumpai istilah turisme dalam De Locomotief (15/12/1896). Artikel ini mengenai rapat sebuah perhimpunan pengendara sepeda di Harmonie, Batavia. Anggota perhimpunan tersebut terdiri dari delapan orang yang semua anggota tersebut akan menjadi anggota NIWB (Nederlandsch Indische Wielrijders Bond). Sementara itu tujuan dari perhimpunan itu adalah:

Haar doel is het toerisme en het zaalrijden te beoefenen. Het bestuur bestaat uit de Heeren G.H. Mohr, voorzitter-penningmeester en Beuker, secretaris kapitein.

(Tujuannya adalah turisme dan untuk berlatih dalam ruangan. Pengurus perhimpunan itu terdiri dari Tuan G. H. Mohr sebagai bendahara dan Beuker, sekretaris kapten.)

vtv

Selain toerisme, Hindia-Belanda juga menggunakan istilah toeristenverkeer. Hal tersebut dapat dilihat dalam artikel di Sumatra Courant (30/09/1897). Istilah tersebut mengacu pada kegiatan turisme:

Dit wil zeggen, te veel voor hunne geldelijke middelen. Want de engelsche badplaatsen en de centra van toeristenverkeer  op het platteland zijn pepperduur.; wanneer gij niet oppast ‘plukt’ en ‘vilt’ men er u, dat u de tranen over de wangen loopen. Ik heb hier niet alleen de hoofdcentra van het toeristenverkeer: Schotland en het eiland Wight, op het oog, doch zelfs in de dorpen en gehuchten in het graafschap Kent, ver re van de londensche beschaving en invloed….

(Artinya terlalu banyak barang-barang mereka yang berhubungan dengan uang. Oleh karena kota-kota pantai di Inggris dan pusat turisme di daerah pedesaan terlalu mahal, maka ketika Anda tidak hati-hati, orang akan ‘memilih’ dan ‘merasakan’ bahwa Anda akan menangis. Saya tidak hanya melihat pusat dari turisme di sini: Skotlandia dan pulau Wight, tapi juga desa-desa dan dusun-dusun di daerah Kent, jauh dari pengaruh kota London yang beradab…)

Berbeda dengan Belanda yang menggunakan istilah vreemdelingenverkeer untuk asosiasi yang berkaitan dengan kegiatan turisme, di Hindia-Belanda pada 13 April 1908 didirikan Vereeniging Toeristenverkeer (VTV) di Batavia. Seperti halnya Vereeniging voor Vreeemdelingenverkeer (VVV) di Belanda, tujuan dari VTV adalah mempromosikan turisme di Hindia-Belanda, khususnya Jawa.

Dengan demikian, dapatkah kita simpulkan turis itu adalah orang asing karena mereka adalah pendatang di bukan wilayah asalnya?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *