Turisme di Depok Masa Hindia-Belanda bag 2

336ff6b2-a3f5-4c4b-afcf-b8c328f4dd57

 Kereta Batavia-Buitenzorg via Depok 

Transportasi menuju Depok dari Batavia pada masa kolonial, selain jalan yang bila ditempuh dengan delman ditempuh selama 6-7 jam, juga mengandalkan kereta api. Jalur jalan mengambil rute Batavia-Meester Cornelis (Jatinegara)-Buitenzorg yang kemudian berbelok di sekitar Cimanggis menuju Pancoran Mas. Jalur kedua adalah Batavia-Pasar Minggu-Lenteng Agung-Pondok Cina-Pancoran Mas yang hampir sejajar dengan jalur kereta.

Jalur kereta Batavia ke Buitenzorg mulai dibangun tahun 1869-1873 (Doorn 1994:181). Di antara jalur itu dibangun pula beberapa halte (tempat perhentian) yang lebih kecil daripada stasiun. Halte-halte itu menjadi pusat perdagangan dan lalu lintas di daerah tersebut serta tidak jarang terdapat pula pasar-pasar (Koloniaal Verslag 1892:15;86) . Halte-halte yang dibangun pada jalur itu adalah Pasar Mingo (Pasar Minggu), Lenteng Agong (Lenteng Agung), Pondok Tjina (Pondok Cina), serta Depok di tepi Krokot (Sungai Krukut) yang terkenal dengan hutan dan pemerintahan Kristen pribumi (Veth 1882:82). Pada saat pembebasan tanah untuk pembangunan jalur kereta  tersebut timbul masalah mengenai siapa yang berhak mendapat penggantian. Dengan alasan kepemilikan lahan Depok yang belum jelas. Oleh karena itu ganti ruginya ditahan Weeskamer atau Balai peninggalan harta. Namun, akhirnya ‘Kaoem Depok’ lah yang menang (Sinar Harapan 22/08/2001).

Halte Depok ini juga dicatat oleh Justus van Maurik, seorang pengusaha cerutu asal Amsterdam, Belanda yang berwisata keliling Jawa pada abad ke-19 (1897-an). Ketika itu ia hendak melakukan perjalanan ke Buitenzorg dengan kereta. Kereta singgah sejenak di halte Depok (Maurik 1897:217).

Catatan tentang Depok dari turis lain adalah catatan seorang turis perempuan Amerika, Eliza. R. Scidmore yang melakukan perjalanan di Jawa juga pada akhir abad ke-19. Ketika itu ia hendak menuju binnenlanden (daerah pedalaman) Jawa. Ia menceritakan situasi halte Depok serta Depok yang merupakan sebuah desa dengan penduduk Kristen Pribumi. Salah satu kesannya adalah situasi di peron yang dipenuhi dengan hasil kebun berupa buah-buahan yang melimpah (Scidmore 1984:55).

Berikut jadwal kereta Nederlandsch Indische Spoorwegmaatschappij (N.I.S) dari dan menuju Buitenzorg/Bogor yang jalurnya dibuka untuk umum pada 31 Januari 1873.

Dari tabel tersebut kita dapat mengetahui kereta yang berangkat dari Buitenzorg menuju Batavia, tiba di Depok pukul 7.54 pagi menggunakan kereta VII dan pukul 3.34 (15.34) dengan kereta XVII. Sedangkan kereta yang menuju Buitenzorg, tiba di Depok pukul 9.02 (kereta II) dan pukul 4.42 (16.42) dengan kereta XVI.

Di sini kembali kita melihat terpenuhinya salah satu unsur penting pariwisata yaitu tersedianya sarana transportasi (jalur kereta api) di Depok. Namun, ternyata para turis masa kolonial tidak tinggal lama di Depok meski mereka sempat singgah. Tentunya karena ada faktor lain, misalnya promosi serta kebijakan pemerintah setempat dan yang tak kalah pentingnya adalah tersedianya obyek yang dapat dikunjungi

Cagar Alam Pancoran Mas Depok 

Salah satu potongan kalimat dalam surat wasiat Chasteleijn yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Melayu tertulis: “… MAKA hoetan jang laen jang disabelah timoer soengei Karoekoet sampai pada soengei besar, anakkoe Anthony Chasteleyn tijada boleh ganggoe sebab hoetan itoe misti tinggal akan goenanya boedak-boedak itoe mardaheka, dan djoega mareka itoe dan toeroen-temoeroennja tijada sekali-sekali boleh potong ataoe memberi izin akan potong kajoe dari hoetan itoe boewat penggilingan teboe… dan mareka itoe tijada boleh bikin soewatoe apa djoega jang boleh djadi meroesakkan hoetan itoe dan kasoekaran boeat toeroen-temoeroennja,…” (Kompas 30/7/2003)

Adapun hal yang menarik adalah isi surat wasiat Chasteleijn itu melukiskan wajah Depok pada abad ke-18 yang dihiasi sungai, hutan, rimbunan pohon bambu yang memang sengaja ditanam dan tak boleh dirusak. Bahkan ada penggilingan tebu. Dengan kata lain perhatian terhadap lingkungan alam pada masa itu sudah sangat besar, khususnya untuk resapan air.

Kepedulian kepada alam, khususnya hutan memang telah ditanamkan sejak masa Chasteleijn. Hal ini ditandai dengan adanya Cagar Alam Pancoran Mas warisan Chasteleijn yang diserahkan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Cagar Alam Pancoran Mas ini dahulu merupakan bagian dari tanah milik Chasteleijn.

Pada 1714 Chasteleijn mewariskan tanah seluas 6 hektar di Depok pada pekerjanya yang dimanfaatkan untuk natuur reservaat (cagar alam). Lahan ini kelak ditetapkan sebagai cagar alam pertama di Indonesia. Lahan di Depok ini dinyatakan sebagai cagar alam jauh sebelum Taman Nasional Yellowstone di Amerika pada 1872 yang akhirnya dipertimbangkan sebagai daerah cagar alam pertama di dunia (Wiratno 2008:26).

Setelah diserahkan pada Pemerintah Hindia Belanda, Cagar alam Pancoran Mas ini berada di bawah pengawasan Nederlandsch Indie Vereniging tot Natuurbescherming (Perhimpunan Perlindungan Alam Hindia Belanda) yang didirikan oleh Dr. S.H. Koorders pada 1912/1913. Hal itu diperkuat dengan kesepakatan antara Nederlandsch Indie Vereniging tot Natuurbescherming dengan Gemeente Depok tanggal 31 Maret 1913 (Jaarverslag Nederlandsch Indie Vereniging tot Natuurbescherming 1940:63).

Di dalam cagar alam itu terdapat hutan dengan berbagai jenis burung, kera, kijang (Muntiacus muntjak). Di sana pernah hidup pula beragam hewan seperti harimau Jawa (Panthera tigris sondaica), kancil (Tragulus javanicus), kelinci hutan (Lorus microcellis), bangau putih (Egrette bulbulus ibis). Selain hewan, Penelitian Badan Perencanaan Pembangunan Kota Depok pada tahun 2000 menemukan 47 jenis tumbuhan seperti saninten (Castranopsis acuminatisima), dammar (Agathis dammara), puspa (Schima wallichi), dan kemiri (Aleuritas mulluccana) (Koran Tempo, 23/10/2004). Tentunya, sekarang hewan-hewan tersebut sudah punah tergusur oleh manusia.

Cagar alam di Depok yang seharusnya mendapat perhatian untuk menjadi obyek turisme, khususnya alam ternyata ‘dilewatkan’ dan tidak tercantum dalam buku panduan wisata. Misalnya dalam buku panduan wisata di Jawa yang dikeluarkan VTV 1909 para turis hanya disarankan mengunjungi Kebun Botani Buitenzorg dan Cibodas (Cribb 1995:199).

Padahal menurut Robert Cribb, pada masa itu sudah ada kecenderungan menawarkan para turis menikmati alam atau yang sekarang kita kenal  eco-tourism. Namun, menurut Cribb para turis tersebut diharapkan hanya mengagumi pemandangan alam (yang telah didomestikasi) dan bukan alam liar. Hal ini juga menjadi karakteristik turisme awal abad ke-20 (Cribb 1995:202

 

PENUTUP

 

Dari uraian mengenai situasi pariwisata di Depok masa Hindia Belanda dapat diketahui bahwa pariwisata di Depok masa Hindia Belanda berada pada kurun waktu turisme modern, namun masih menerapkan turisme pramodern. Hal itu ditandai dengan tidak banyaknya turis yang datang meski bila ditinjau lebih jauh, obyek, akomodasi, transportasi, jaminan keamanan sudah tersedia. Turis yang datang kemungkinan turis individu yang hendak mengunjungi keluarganya yang memiliki vila-vila pribadi atau turis individu yang singgah di Depok.

 

Selain itu Depok bukan salah satu tempat yang dianjurkan Pemerintah untuk dikunjungi. Hal ini dapat diketahui dari tidak tercantumnya Depok dalam buku panduan wisata masa lalu (kecuali buku panduan yang terbit tahun 1891). Kemungkinan Depok dianggap hanya sebuah halte/stasiun pemberhentian menuju Buitenzorg serta dianggap tanah partikulir yang tidak memiliki hubungan dengan pemerintah di Batavia.

 

Hal yang menarik adalah meskipun Cagar Alam Pancoran Mas pernah dianggap sebagai cagar alam tertua di Hindia-Belanda dan bahkan di dunia, tampaknya pemerintah tidak mempromosikannya. Kemungkinan cagar alam ini kalah terkenal dengan Kebun Botani Buitenzorg yang lebih dekat dengan kekuasaan pemerintah di Buitenzorg dan tercantum dalam buku panduan wisata. Kemungkinan lain, wilayah Depok ini dipersiapkan pemerintah untuk daerah resapan banjir mengingat bahaya banjir yang kerap terjadi di Batavia sehingga Depok menjadi kawasan yang dilindungi dan tidak dianjurkan untuk dikunjungi.

 

Foto: Koleksi KITLV

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *