Turisme di Hindia-Belanda

VTV-office     VTV merupakan perhimpunan turisme pertama di Hindia-Belanda. Perhimpunan yang didirikan pada tahun 1908 ini menandai turisme modern sebagai industri di Hindia-Belanda yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.  Sebelum dibentuknya VTV para pengunjung yang datang belum terorganisasi, kebanyakan mereka masih sendiri-sendiri (individu) dan tidak bertujuan untuk khusus berwisata, melainkan karena tugas dari pemerintah.

Sementara itu tujuan dari VTV adalah mengembangkan turisme di Hindia-Belanda yang dalam prakteknya diawali dengan membentuk suatu biro/kantor di Weltevreden. Kantor tersebut bertugas mempromosikan, memberikan informasi dan membuat reklame turisme yang kemudian disebarkan di dalam maupun di luar negeri.

Para anggota perhimpunan ini adalah para pengusaha yang mempunyai hubungan dengan turisme, seperti pengusaha transportasi (perusahaan pelayaran), perhotelan, pemilik toko, perbankan (asuransi). Selain itu juga terdiri dari para pejabat perusahaan kereta api, Dinas Bea dan Cukai.

Sebagai perhimpunan semi pemerintah (officieël) yang status officieël-nya diperoleh pada tahun 1929. VTV juga menjadi alat pemerintah yang mengawasi, mengontrol dan mengatur turisme. Pengawasan tersebut ditandai dengan adanya wakil pemerintah dalam struktur kepengurusannya. Diawali dari Direktur Onderwijs, Eeredienst, en Nijverheid (Pengajaran, Agama dan Industri) pada 1908, lalu pada 1909 diwakili oleh Hoofdinspecteur der Staatsspoor- en Tramwegen (inspektur kepala dinas kereta api dan trem) yang berada di bawah Departemen Gouvernementsbedrijven (perusahaan pemerintah). Departemen ini didirikan pada 1908 dan salah satu alasan pendiriannya adalah untuk ikut membiayai praktek politik Etis di Hindia-Belanda yang cukup mahal. Dengan ikut terlibat dalam VTV yang bergerak di bidang turisme, pemerintah mengharapkan sumber pemasukan keuangan baru untuk membiayai praktek politik Etis tersebut. Tidak mengherankan jika Gubernur Jenderal Hindia-Belanda ketika VTV ini dibentuk yaitu J.B. van Heutsz yang merupakan pendukung politik Etis, turun tangan langsung dalam proses pembentukannya.

Pada  1931 wakil pemerintah di VTV dipegang oleh de Hoofdinspecteur der In-en Uitvoerrechten en Accijnzen (kepala dinas bea dan cukai). Lalu pada 1933 pemerintah diwakili oleh Hoofd van het kantoor voor Reiswezen (kepala kantor urusan perjalanan) yang berada di bawah Departement van Financiën (departemen keuangan) dan pada 1940 diwakili oleh het Hoofd van de afdeling Handelspolitiek, Algemeene Zaken en Scheepvaartgelegenheid (kepala bagian politik perdagangan, urusan umum dan pelayaran) yang berada di bawah Departement van Economische Zaken (Departemen urusan ekonomi).

Dalam upaya mendukung pengembangan turisme ini, pemerintah Hindia-Belanda mempersiapkan sarana infrastruktur seperti jalan raya, jalur kereta, pelabuhan laut, alat transportasi (kereta api, kapal laut), akomodasi (hotel, pasanggrahan), komunikasi (sambungan telepon, telegraf) yang sebenarnya telah dibangun di masa sebelumnya dan bukan ditujukan untuk pengembangan turisme. Selain sarana infrastruktur ini, pemerintah juga menjamin faktor keamanan dan kenyamanan para turis.

Dalam hal kontrol/pengawasan, pemerintah Hindia-Belanda menerapkan sistem toelatingskaart (kartu izin masuk seperti paspor) yang harus dimiliki oleh para turis bila ingin keluar dari Buitenzorg (Bogor) serta bekerjasama dengan hotel-hotel dalam pencatatan data para tamu (turis). Sistem ini sebelum dibentuknya VTV telah diterapkan oleh pemerintah Hindia- Belanda. Sehubungan dengan hal tersebut VTV juga mengajukan permohonan mengenai kemudahan pengurusan toelatingskaart yang terkadang memakan waktu lama sehingga dinilai kurang menguntungkan kegiatan turisme.

VTV juga mengatur obyek-obyek turisme yang dapat dikunjungi dan sebaiknya dilihat oleh para turis, seperti :

–          obyek turis alam (pegunungan, pantai, perkebunan)

–          obyek turis buatan (budaya: tari-tarian, kerajinan tangan, upacara adat dan keagamaan, bangunan kuno)

Obyek-obyek ini, baik alam maupun buatan telah ada dan sebagian juga telah dikunjungi oleh para pengunjung sebelum dibentuknya VTV. Dengan adanya VTV , para turis yang datang diarahkan untuk mengunjungi obyek-obyek turisme tersebut.

Secara struktur VTV dapat dibagi menjadi pengurus pusat dan pengurus cabang/perwakilan. Pengurus cabang dibagi menjadi cabang di dalam negeri (Surabaya, Semarang, Padang) dan luar negeri (Eropa, Asia, Amerika, Australia, Afrika). Pengurus cabang/perwakilan VTV ini menjadi tulang punggung promosi turisme. Alasan penempatan cabang-cabang di kota-kota tersebut, baik di dalam maupun di luar negeri karena kota-kota tersebut dilalui oleh jalur-jalur pelayaran. Seperti Surabaya yang menjadi pintu masuk ke Jawa selain Batavia. Sedangkan Semarang menjadi perwakilan VTV, selain karena memiliki pelabuhan dan jalur pelayaran, mereka memberikan informasi bagi turis yang akan berkunjung ke wilayah Jawa Tengah, khususnya vorstenlanden (daerah kesultanan Yogya dan Solo). Daerah ini memiliki obyek turisme buatan, seperti keraton, tari-tarian, wayang kulit dan orang, reruntuhan candi-candi kuno. Di samping itu, alasan penempatan perwakilan tersebut adalah untuk menjaring calon turis potensial yang akan berkunjung ke Hindia-Belanda.

Sumber keuangan VTV berasal dari subsidi para anggotanya dan pemerintah. Subsidi itu digunakan untuk membiayai kegiatan operasional sehari-hari dan terutama untuk promosi. Pihak swasta yang menjadi pemberi bantuan terbesar adalah perusahaan pelayaran KPM. Selain bersumber dari subsidi, VTV juga menjual produk-produk mereka berupa buku panduan turisme, peta-peta, majalah serta buku-buku.

Sejak dibentuk pada 1908, upaya promosi VTV meningkatkan jumlah turis dapat dikatakan berhasil. Jumlah turis yang datang ke Hindia-Belanda meningkat. Promosi tersebut berupa penerbitan buku panduan turisme, peta, pembuatan reklame, pemasangan iklan di majalah, penerbitan majalah, buku, penyelenggaraan sayembara reklame, pembuatan foto-foto dan film, ikut serta dalam pameran baik di dalam maupun luar negeri. Dalam berpromosi, VTV bekerjasama dengan pihak-pihak di dalam maupun luar negeri. Seperti perwakilan mereka di Hindia-Belanda dan di luar negeri (Eropa, Asia, Amerika, Australia, dan Afrika). VTV juga bekerjasama dengan perhimpunan-perhimpunan lain seperti J.M.C. (Java Motor Club) dan A.B.H.N.I. (Algemeenen Bond Hotelhouders in Nederland-Indië), serta pemerintah yakni Staatspoor- en Tramwegen (perusahaan kereta api dan trem negara), Departement Landbouw, Nijverheid en Handel (departemen pertanian, industri dan perdagangan), Topografie Dienst (dinas topografi).

Dari turis yang datang dapat diketahui profil mereka.  Profil tersebut antara lain jenis turis (individu, kelompok/grup) yang kebanyakan menggunakan kapal-kapal pesiar yang secara teratur mengunjungi Hindia-Belanda.  Lalu kebangsaan/kewarganegaraan (Belanda, Inggris termasuk Australia, Amerika, Jerman, Prancis, Jepang.

Dalam perkembangannya VTV menghadapi kendala baik dari dalam maupun dari luar. Kendala-kendala tersebut seperti ketidaksiapan VTV sehingga menuai kritik,  minimnya pegawai VTV sehingga tidak dapat melayani para turis dengan baik, tidak adanya dukungan dari warga negara dan pers Belanda di Belanda, meletusnya Perang Dunia I (1914-1918) yang mengakibatkan menurunnya jumlah turis dibanding tahun-tahun sebelumnya, lalu adanya usul pengambilalihan VTV oleh pemerintah untuk menjadikannya sebagai salah satu dienst (dinas) pemerintah. Usulan tersebut mendapat tentangan dari para pengurus yang kebanyakan juga para pejabat pemerintah hingga akhirnya VTV tetap menjadi perhimpunan semi resmi. Namun, pemerintah tetap menempatkan wakil-wakilnya di VTV.

Di tengah-tengah perkembangan VTV, pada akhir 1920-an diperkenalkan turisme udara yaitu menikmati pemandangan dari udara yang pertama kali di Hindia-Belanda. Hal ini ditandai dengan pembentukan K.N.I.L.M. (Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtvaart Maatschappij) yang sekaligus juga menjadi sarana transportasi baru, selain kapal laut, kereta api, dan mobil, pendukung/penunjang turisme modern di Hindia-Belanda.

Ketika Jawa dianggap telah modern dan tidak lagi ‘primitif’, daerah tujuan turisme mulai bergeser ke Bali yang dianggap masih kuno dan belum modern. Selain Bali, VTV juga mengembangkan daerah-daerah obyek turisme di Sumatra, Sulawesi, Maluku. Mereka memanfaatkan serta mengadakan kerjasama dengan perusahaan pelayaran yang memiliki jalur pelayaran ke wilayah-wilayah itu dari segala penjuru dunia.

VTV pun memberikan pengaruh terhadap masyarakat pribumi di Hindia-Belanda. Para pribumi tersebut ada yang menjadi obyek turisme (penari, pengrajin, atau penonton para turis), menjadi bagian dari pendukung turisme yang bertugas sebagai pelayan (jongos), pegawai hotel (mandor, pengawas). Bahkan ada syarat, berupa taraf pendidikan tertentu untuk dapat bekerja di sebuah hotel. Dengan demikian dapat dikatakan peran mereka dalam turisme modern tidaklah sekecil yang kita bayangkan karena pada masa itu tidak semua orang berkesempatan menikmati pendidikan.

Pengaruh lainnya adalah pergeseran budaya dengan adanya komersialisasi budaya (tari-tarian, pertunjukan wayang) yang dulunya sakral dan hanya untuk upacara keagamaan menjadi komoditas yang dapat dinikmati para turis. Bahkan dengan adanya turisme ini, kebiasaan memberikan tip (imbalan) dilanjutkan oleh para turis yang sebelumnya memang sudah menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat setempat. Praktek ini menjadi bagian dari komersialisasi budaya dalam turisme.

Selain itu muncul cara pandang terhadap konsep ‘Indonesia’ dari para neo-priyayi (terutama dari pulau selain Jawa) yang memiliki kesempatan menikmati pendidikan Barat dan kelak menjadi founding father Indonesia. Hindia-Belanda yang diperkenalkan oleh para guru mereka sebagai bagian dari Pax-Neerlandica yang terbentang dari Barat ke Timur. Hindia- Belanda yang telah didomestikasi (dijinakkan), ditaklukkan oleh Belanda. Bahkan ketika mereka menerima pelajaran di sekolah, dalam buku-buku pelajaran tersebut terdapat gambar-gambar yang kebanyakan diambil dari foto-foto yang dibuat VTV untuk mempromosikan Hindia- Belanda.

Fasilitas infrastruktur pendukung turisme Hindia-Belanda dan obyek turisme alam, terutama di Jawa juga dinikmati oleh para neo-priyayi tersebut dalam upaya menemukan dan mengenali keindonesiaan mereka. Proses itu diawali dengan keinginan menjadi Barat dengan menikmati fasilitas modern. Padahal fasilitas dan obyek turisme itu sebenarnya diperuntukan bagi para turis asing (terutama kulit putih). Selain itu secara tidak langsung VTV turut memperbaiki sarana infrastruktur yang menunjang turisme.

Obyek-obyek turisme dan fasilitas-fasilitas pendukungnya yang dipersiapkan oleh pemerintah melalui VTV hingga kini masih dapat dinikmati serta membentuk citra keanekaragaman dan kekayaan alam Indonesia.

Kiprah VTV terhenti ketika Jepang berkuasa pada 1942 dan mengambil alih pemerintahan. Pada masa ini kegiatan turisme di Hindia-Belanda ambruk. Kalaupun ada sifatnya tidak sebesar masa-masa sebelumnya.

Sehubungan dengan penelitian tentang VTV, perhimpunan turisme pertama di Hindia- Belanda (Indonesia) ini ada kritik dan saran yang mungkin dapat dipertimbangkan oleh pemerintah Indonesia. Dari hasil penelitian ini dan kenyataan yang ada tampaknya pemerintah Indonesia sekarang sebagian masih menggunakan pola-pola lama dalam mempromosikan wisata di Indonesia, misalnya masih tetap mempromosikan obyek wisata alam dan budaya. Pemerintah Indonesia masih menjagokan Bali dan Borobudur sebagai obyek yang dipromosikan meskipun sekarang pemerintah juga mulai mengembangkan daerah-daerah lain. Oleh karena itu sebaiknya perlu dicari obyek wisata alternatif di daerah-daerah lain, selain obyek wisata alam dan buatan/ budaya di Jawa dan Bali. Misalnya memadukan obyek wisata budaya alam dan buatan  dalam bentuk olahraga tracking, obyek wisata sejarah, obyek wisata religi serta obyek wisata maritim. Jika perlu pemerintah membuat tema-tema menarik untuk segmen-segmen turis yang berbeda.

panorama

Pemerintah Indonesia tampaknya memerlukan strategi baru yang mengubah kebiasaan-kebiasaan lama dari ‘mengatur’ menjadi ‘menjual’ dan ‘memasarkan’. Sementara itu kerjasama dari semua pihak yang terlibat dalam kegiatan wisata, baik pihak swasta maupun pemerintah, mutlak diperlukan apabila menginginkan hasil maksimal. Dukungan tersebut tidak hanya dalam bentuk keuangan tetapi juga pemikiran dan keinginan untuk mengembangkan pariwisata di tanah air. Dengan visi-visi pemasaran yang jelas, pariwisata di Indonesia diarahkan sebagai suatu industri yang tidak boleh berhenti karena peristiwa-peristiwa politik. Arahnya tidak boleh berubah hanya karena berganti pemerintahan.

Pemerintah juga diharapkan serius dalam mengembangkan dan mempromosikan wisata. Tidak sekedar menjadikannya obyek, terutama masyarakat di sekitar obyek wisata tersebut, tetapi juga menjadikannya subyek yang berperan aktif dalam kegiatan wisata.

Dalam upaya promosi, pemerintah dapat meniru upaya promosi dan kerjasama VTV  dalam mempromosikan turisme di Hindia-Belanda yaitu bekerjasama dengan semua pihak yang dianggap potensial bahkan membuka perwakilan di luar negeri. Kita harus berupaya membuat para turis yang datang berkunjung ke Indonesia merasa tak cukup datang sekali sehingga keinginan untuk kembali datang terus ada. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah tidak sekedar mengharapkan keuntungan ekonomi belaka sehingga menjual budaya dengan cara yang tak berbudaya.

One thought on “Turisme di Hindia-Belanda

  1. Saya sangat suka sejarah namun artikel di atas menampilkan sejarah dari sudut yang berbeda dari sejarah yang biasa kita dapatkan di bangku sekolah / kuliah so.. so.. intersting…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *