Virus Corona dan Dark Tourism

Memasuki bulan kedua di tahun 2020 yang akan berakhir, diwarnai dengan beragam peristiwa. Satu tawaran pada akhir tahun 2019 untuk memberikan kuliah tamu di salah satu negeri jiran Indonesia. Setelah berkomunikasi selama beberapa kali dan belum diputuskan apakah tawaran tersebut akan diterima, muncul berita merebaknya virus Corona dari Wuhan, China. Selanjutnya virus tersebut diberinama Covid 19. Sepertinya saya belum diizinkan untuk go internasional. Namun, tawaran memberikan kuliah tamu tetap ada. Kali ini di dalam negeri, di salah satu provinsi di pulau Sumatra. Mudah-mudahan semua berjalan lancar.

Dalam kesempatan lain, saya diminta menjadi narasumber seorang mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara untuk diwawancarai terkait dark tourism untuk tugas akhir. Sebenarnya, saya tidak begitu nyaman dengan dark tourism tetapi tema ini merupakan bagian dari penelitian saya mengenai turisme. Setelah membuat janji, wawancara dilakukan di Kampus FIB UI tanggal 19 Februari.
Salah satu pertanyaan yang diajukan adalah mengenai definisi dark tourism. Dark tourism memiliki banyak definisi. Para pakar turisme masing-masing memberikan definisi untuk dark tourism. Menurut saya dark tourism adalah perjalanan wisata ke suatu tempat yang pernah mengalami tragedi/ berhubungan dengan kematian, kekerasan, penderitaan, dan bencana. Di sini saya mengacu pada definisi dari Malcolm Folley & J. John Lennon (2006). Sementara itu pemerintah Indonesia menyebut wisata dark tourism sebagai wisata memorial. Hal tersebut terdapat dalam Peraturan Pemerintah No. 50, 2011 tentang rencana induk kepariwisataan nasional.

Beberapa contoh kegiatan dark tourism di luar negeri, di Jerman dan Vietnam kegiatan dark tourism berkaitan dengan masa perang. Misalnya di Jerman mengunjungi kamp konsentrasi dan di Vietnam, lubang-lubang persembunyian pasukan Vietcong. Sementara di Indonesia, dark tourism seringkali diartikan mengunjungi tempat-tempat mistis. Hal ini sebenarnya keliru.

Dark tourism memiliki ciri umum. Salah satunya adalah memiliki nilai sejarah gelap (dark history) atau peristiwa gelap (dark event) , termasuk atraksi, koleksi yang ditampilkan. Ada perbedaan antara the site of …(lokasi dari suatu kejadian) dan the site associated with…(lokasi yang berhubungan dengan kejadian). Lokasi dari suatu kejadian misalnya Museum Pancasila Sakti di Lubang Buaya dan lokasi yang berhubungan dengan kejadian misalnya Museum Sejarah Jakarta (Fatahillah).

Wisatawan yang tertarik untuk melakukan dark tourism adalah wisatawan minat khusus, dalam hal ini sejarah. Ini berkaitan dengan segmentasi atau bagian pasar. Mereka mencari sesuatu yang baru (novelty), mencari pengalaman yang berkualitas dan mencari kegiatan turisme yang memiliki unsur petualangan. Mereka ini masuk wisatawan post modern (ceruk/tema khusus). Dilihat secara psikologis para wisatawan, ada empat interaksi emosional yang mereka miliki ketika mengunjungi sebuah situs yang masuk dalam kategori dark tourism yaitu rasa tidak aman, rasa terima kasih, perasaan rendah hati, perasaan menjadi unggul. Selain itu ada juga perasaan penghormatan, keharuan, perasaan senang melihat penderitaan orang lain yang oleh Seaton dan Lennon disebut schandenfreude. Sehingga kita harus menjaga sikap dan perilaku ketika mengunjungi situs dark tourism.

Berkaitan dengan situasi sekarang yaitu kekhawatiran kegiatan pariwisata di Indonesia terhadap dampak penyebaran virus Corona, hal tersebut sangat besar pengaruhnya. Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia ada tiga destinasi wisata domestik yang berdampak isu virus Corona dengan nama resmi Covid-19. Tiga destinasi tersebut adalah Bali, Menado, dan Kepulauan Riau (travel.kompas.com).

Masing-masing destinasi memiliki dampak yang berbeda. Menurut Nia Niscaya Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Bali berdampak terhadap para wisatawan mancanegara karena Bali merupakan salah satu pilihan wisatawan mancanegara, tidak hanya wisatawan dari China. Sementara untuk Manado mengalami dampaknya karena pasar wisatawan di sana kebanyakan berasal dari China. Penutupan penerbangan dari dan menuju China berdampak besar terhadap destinasi wisata di Manado. Sedangkan untuk Kepulauan Riau terbagi atas dua daerah yaitu Bintan dan Batam. Batam menyasar para wisatawan dari Singapura dan Bintan menyasar wisatawan dari China.

Dampak virus Corona juga dialami sejumlah kegiatan pariwisata negara-negara di Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura, Thailand, Kamboja, Malaysia, dan Filipina. Para warga dunia takut untuk berkunjung ke sana. Aktivitas pariwisata di negara-negara tersebut menurun drastis. Dalam konteks tersebut situasi kegiatan pariwisata di wilayah Asia dapat mengalami ‘kesuraman’ dan dapat menjadi ‘dark tourism’ alias kesuraman dalam kegiatan pariwisata. Semoga semua cepat kembali pulih dan terang.

foto: forbes.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *