‘Vlieg Er’s uit’: Turisme di Belanda pada Masa Pendudukan Jerman

Perang dan kegiatan turisme merupakan dua hal yang tampaknya tidak dapat disatukan. Faktor keamanan dan kenyamanan yang merupakan faktor penting dalam kegiatan turisme, tidak dapat dipenuhi dalam kondisi perang. Kondisi damai merupakan kondisi ideal untuk kegiatan turisme. Hal lain adalah perang dapat mempengaruhi kegiatan turisme di suatu wilayah yang berada dalam kondisi perang. Kegiatan turisme di wilayah dalam kondisi perang tersebut dapat terganggu hingga berhenti sama sekali. Namun, dalam praktiknya kegiatan turisme di suatu wilayah dalam kondisi perang tidak berhenti begitu saja. Kegiatan turisme ternyata masih ada walau dengan bentuk dan pelaku yang mungkin berbeda.

Berkaitan dengan hubungan antara perang dan kegiatan turisme terdapat beberapa konsep yang muncul. Pertama adalah konsep war tourism (turisme perang) yang merupakan kegiatan melakukan perjalanan ke wilayah atau tempat-tempat yang sedang atau pernah menjadi ajang perang untuk tujuan tamasya atau studi sejarah. Hal ini bermula dari pernyataan jurnalis Amerika P.J.O’Rourke dalam kumpulan kisah pada 1988 yang merupakan bentuk peyoratif dari reportase koresponden perang (Butler & Suntikul, 2013: 2). Konsep war tourism ini berdampingan dengan war tourist yang juga memiliki makna peyoratif bagi mereka yang suka mencari dan mengunjungi wilayah atau tempat berbahaya dan terlarang.

Selain konsep war tourism terdapat juga dark tourism (Lennon & Foley, 2006: 4). Dark tourism merupakan kegiatan turisme ke tempat-tempat yang pernah mengalami tragedi dan berhubungan dengan penderitaan dan kematian (lokasi pembunuhan, medan pertempuran, pemakaman, mausoleum, lokasi bencana). Turisme jenis ini merupakan bagian dari cultural tourism experiences (pengalaman turisme budaya) yang tertanam dalam kesadaran massal melalui budaya populer dan media (Lennon & Foley, 2006: 10). Pada kedua konsep jenis turisme tersebut ada unsur petualangan yang merupakan akar dari kegiatan turisme, sebelum kegiatan turisme diatur dan dikenal seperti sekarang.

Beberapa kajian yang membahas kegiatan turisme dan perang dapat dibagi atas kegiatan turisme pada masa perang dan pasca perang. Kajian Gordon (1998) membahas kegiatan turisme tentara NAZI di Paris pada masa Perang Dunia II. Smith (1998) meneliti kegiatan turisme pada periode Perang Dunia I dan dampak Perang Dunia II dalam meletakkan dasar untuk turisme massal modern di Amerika. Beberapa artikel dalam Butler dan Suntikul (2013) membahas dinamika dan kompleksitas hubungan antara fenomena turisme dan perang di berbagai wilayah seperti di Pasifik, Eropa, Timur Tengah, Amerika Utara, dan Asia Tenggara, baik pada masa perang maupun pasca perang.

Artikel ini menitikberatkan pada situasi kegiatan turisme di Belanda pada masa Pendudukan Jerman atau Perang Dunia II (1940-1945). Pertanyaan yang diajukan adalah bagaimana situasi kegiatan turisme pada masa itu, ketika Belanda berada di bawah pendudukan Jerman? Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakan metode sejarah dengan menggunakan sumber berupa majalah, surat kabar sezaman yang terbit di Belanda.

Hasilnya memperlihatkan bahwa kegiatan turisme di Belanda pada masa pendudukan Jerman (1940-1945) masih ada dan dianggap perlu untuk memenuhi kebutuhan berlibur. Namun, kegiatan turisme pada masa itu lebih menitikberatkan pada kegiatan turisme di dalam negeri (Belanda). Pada masa perang tersebut, di tengah keterbatasan dan situasi perang muncul beberapa kegiatan turisme baru serta kebijakan yang tetap digunakan hingga sekarang. Konsep yang sesuai untuk kondisi di Belanda pada masa pendudukan Jerman adalah war tourism tetapi dengan makna sebenarnya yaitu kegiatan turisme pada masa perang.

Kata kunci: pendudukan Jerman, Perang Dunia II, turisme di Belanda, turisme perang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *