Wisata Alam Pendukung Pariwisata Berkelanjutan di Masa Adaptasi Baru

Serentak hampir semua kegiatan manusia di seluruh dunia terhenti ketika pandemi Corona mulai merebak pada akhir tahun 2019 di China. Sebelumnya, virus berbahaya itu disebut virus Wuhan, mengacu pada nama tempat ditemukannya virus tersebut. Penamaan ini seperti penamaan nama-nama penyakit yang muncul pada masa silam, seperti Flu Spanyol, Flu Hongkong. Pada bulan Februari 2020, organisasi kesehatan dunia WHO secara resmi menamakan virus tersebut Covid-19 (Corona Virus Disease-19).

Virus hantu Corona merenggut nyawa manusia satu per satu tanpa pandang bulu, kaya-miskin, tua-muda. Hanya dalam waktu sebulan, jumlah orang terinfeksi virus ini melampaui serangan virus SARS yang mewabah pada November 2003-Juni 2003. Pada bulan Januari 2020 jumlah kasus infeksi virus ini mencapai 9.776 kasus di 23 negara. Semua negara terhenyak. Negara-negara segera menerapkan karantina, menutup diri pergerakan warganya, baik yang keluar maupun masuk (Kompas, 1/2/2020). Berbagai kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan berhenti sama sekali. Sejenak bumi dapat menikmati keheningan dari hiruk-pikuk kegiatan manusia yang nyaris tidak berhenti dalam batasan waktu manusia sehari-semalam.

Ketika semua orang terpaksa beraktivitas di rumah masing-masing, bumi seperti bernafas dengan lega. Setiap pagi, jika cuaca tidak mendung, langit tampak begitu cerah. Suara kicauan burung-burung terdengar di tengah keheningan dan dengan santai mereka singgah di teras rumah. Alam sedang menyeimbangkan dirinya. Alam tengah menyembuhkan dan memulihkan dirinya setelah sekian lama (di)rusak dan diperlakukan semena-semena oleh kita.

Di satu sisi, disrupsi yang disebabkan oleh Pandemi Covid-19 sangat berpengaruh terhadap semua kegiatan kepariwisataan. Kegiatan kepariwisataan yang mengandalkan pada perjalanan terpaksa terhenti. Imbauan untuk tidak melakukan perjalanan diberlakukan. Kegiatan kepariwisataan terpaksa tiarap, menunggu keadaan kembali normal.
Dalam kondisi pandemi yang mengharuskan orang tinggal di rumah, keinginan dan kerinduan orang untuk berwisata atau paling tidak melakukan perjalanan menjadi keharusan. Pun saya teringat pengalaman beberapa tahun silam ketika dalam proses menyelesaikan disertasi yang mengharuskan saya harus diam di rumah. Keinginan untuk melakukan perjalanan menjadi suatu kebutuhan. Di tengah rasa bosan menekuri layar komputer dan berbagai literatur. Sebenarnya tidak perlu bepergian jauh, dengan berkeliling kampung dengan bersepeda atau berjalan kaki sudah dirasa cukup. Jika cuaca sedang cerah, pemandangan gunung dari kejauhan di jalan yang saya lalui sudah sangat menghibur. Secara psikologis, kegiatan tersebut sangat membantu menyegarkan pikiran. Kegiatan tersebut sesuai dengan pemuasan motivasi menurut Crompton yaitu lari dari lingkungan kesibukan keseharian. Selain itu juga sesuai dengan teori spillover effect positif yaitu bila ciri-ciri menyenangkan pada pekerjaan ditemukan kembali pada kegiatan bersantai yang dipilih oleh orang tersebut (Ross, 1998).

Saya merenungkan tulisan dari Yuswohady, pakar pemasaran dalam blognya mengenai ‘The Future of Traveling’ (2020). Dia menulis: “Bahkan ketika ancaman virus terus mengintai, kita tetap akan berlibur tapi dalam situasi dan kondisi yang bisa dikontrol dan tak terpapar virus. Travellers kian sadar melakukan self social distancing.” Mungkin hal tersebut dapat dilakukan ketika situasi ketika pandemi mulai mereda atau lenyap. Namun, pertanyaannya adalah dalam kondisi pembatasan seperti sekarang, apakah kita masih dapat bergerak, melakukan perjalanan. Saya berpendapat, kalaupun melakukan perjalanan, kita tidak akan bepergian jauh.

Kondisi sekarang, jelas seperti kondisi pada masa lampau. Ketika manusia masih mengandalkan fisik alias kakinya untuk melakukan perjalanan. Sejauh dan sekuat kaki melangkah itulah tujuannya. Ketika perjalanan masih mahal dan hanya orang-orang kalangan tertentu yang mampu melakukannya. Ketika wabah penyakit pernah menjadi ancaman di suatu wilayah tetapi pemerintahan saat itu begitu lambat meresponsnya. Ketika itu belum dikenal istilah mass tourism, rombongan turis dan orang lebih banyak melakukan perjalanan sendiri. Ketika itu orang melakukan perjalanan lebih karena faktor petualangan, mencari pengalaman hingga aktualisasi diri.

Data sejarah mengenai kaitan antara pandemi dan pariwisata memang belum ditemukan atau mungkin memang tidak ada. Mengingat hal tersebut dapat dimasukkan sebagai catatan gelap dalam sejarah dan juga bersinggungan dengan perekonomian. Sebagai contoh masa pandemi flu Spanyol di Indonesia pada masa kolonial (1918). Dalam buku Yang Terlupakan Pandemi Influenza 1918 di Hindia-Belanda (2009) karya Priyanto Wibowo dan kawan-kawan disebutkan ketika rancangan Influenza ordonantie (undang-undang influensa) diselesaikan pada awal 1919, rancangan itu diserahkan kepada Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Van Limburg Stirum. Stirum kemudian membagikan rancangan undang-undang kepada institusi pemerintah dan kalangan swasta.

Dalam rancangan undang-undang 1919 tersebut disebutkan bahwa berdasarkan hasil penelitian Dr. de Vogel, kepala Burgerlijke Government Dienst (Dinas kesehatan Pemerintah) salah satu penyebab penyebaran influenza adalah kegiatan transportasi, dalam hal ini transportasi kapal. Para penumpang kapal, terutama yang berasal dari luar negeri ditengarai dan patut dicurigai membawa penyakit (carrier) serta sumber penularan utama ke Hindia. Oleh karena itu kapal-kapal yang datang harus singgah selama beberapa hari di pelabuhan kelas 4 untuk menjalani pemeriksaan bagi para awak kapal dan para penumpang kapal. Reaksi keras muncul dari direksi KPM (Koninlijke Pakketvaart Maatschappij), perusahan pelayaran yang melayani jalur pelayaran di Hindia-Belanda, dari Sabang hingga Papua. Alasan mereka adalah undang-undang tersebut membatasi kinerja dan akan mengakibatkan kerugian besar bagi perusahaan (Wibowo et al, 2009).

Dari data sejarah di atas terlihat tidak secara langsung menyebutkan pengaruh dan kaitan antara pandemi influenza dengan kegiatan kepariwisataan di Hindia-Belanda yang mulai dipromosikan secara gencar oleh pemerintah Hindia-Belanda pada 1908. Sejak diresmikannya Vereniging Toeristenverkeer (VTV) di Batavia, suatu perhimpunan yang mengatur kegiatan pariwisata di Hindia-Belanda (Sunjayadi, 2007). Pembatasan kapal dan pemeriksaan terhadap penumpang yang merupakan gagasan de Vogel yang ditujukan untuk memutus rantai penyebaran wabah influenza jelas akan menganggu propaganda pariwisata. Jika melihat laporan tahunan VTV, mereka juga sama sekali tidak menyinggung perihal pandemi.

Salah satu catatan perjalanan bahkan menyinggung pandemi sebagai anekdot. Dalam When the Strange Trails Go Down (1921), buku catatan perjalanan E. Alexander Powell berjudul yang berkunjung ke Hindia-Belanda (Borneo, Celebes, Bali, Jawa), ia menulis pengalamannya. Ketika tiba di Bali, dia merasa heran karena suasana yang sangat sepi. Tidak seperti yang ditulis dalam buku-buku panduan. Awalnya Powell mengira hal itu karena ada wabah penyakit seperti kolera atau pes. Dia lalu menanyakan hal itu pada seorang pelayan Tionghoa di Concordia Club dan ia mendapatkan jawabannya bahwa saat itu sedang ada perayaan Nyepi sehingga tak ada seorang pun di jalan. Powell tiba di Bali tepat bersamaan dengan perayaan Nyepi di mana semua orang tinggal di rumah.

Kembali pada tulisan Yuswohady. Pada kondisi pasca pandemik, menurutnya akan ada kegiatan yang menjadi pilihan yaitu staycation dan wellness tour. Lalu kegiatan perjalanan tidak lagi menjadi kegiatan grup (kelompok) tetapi lebih menjadi kegiatan individual. Niche tourism lebih berkembang daripada mass tourism. Selain itu virtual tourism dengan teknologi VR (virtual reality) akan berkembang pesat.

Beberapa istilah menarik muncul dari ‘ramalan’ Yuswohadi tersebut, seperti staycation, niche tourism, wellness tourism, virtual tourism. Staycation diambil dari kata stay (tinggal) dan vacation (liburan). Menurut English Oxford Living Dictionaries, staycation adalah liburan yang dihabiskan di negara asal seseorang daripada di luar negeri, atau liburan di rumah dan melibatkan perjalanan sehari ke tempat-tempat wisata lokal. Dengan kata lain kita berlibur dekat rumah saja. Lalu Niche tourism yang merupakan kegiatan wisata minat khusus, seperti pariwisata petualangan, pariwisata warisan budaya.

Adapun Wellness tourism merupakan kegiatan wisata dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan melalui kegiatan fisik, psikologis, atau spiritual. Sementara itu virtual tourism adalah kegiatan wisata dengan merangkum spektrum luas pengalaman virtual yang tersedia di sektor pariwisata, mulai dari menonton video promosi, pengalaman museum interaktif hingga mengalami seluruh liburan melalui virtual.

Kembali pada perjalanan di masa mendatang setelah pandemi. Orang bepergian tidak lagi menuju tempat yang jauh. Tempat yang dekat jika memenuhi syarat sudah cukup. Saya juga sempat berseloroh kepada istri saya bahwa pemanfaatan virtual reality dapat diterapkan. Namun, saya berpendapat lebih jauh yaitu perlu mengkondisikan sisi psikologis. Maksudnya adalah dalam situasi normal, pengalaman kita melakukan perjalanan atau bepergian ke suatu tempat merupakan salah satu faktor penting. Sisi psikologis kita disiapkan untuk melakukan perjalanan. Antara lain persiapan berbagai perlengkapan sebelum berangkat, Kegugupan kita ketika menanti pesawat dan perasaan mendapat pengalaman baru di tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi.

Dalam pemanfaatan VR, perasaan kita tentu masih mengatakan bahwa kita tidak kemana-mana sehingga ada penolakan dalam memperoleh pengalaman baru. Maka sisi psikologis ini yang perlu dikulik. Alam bawah sadar perlu diyakinkan bahwa kita melakukan perjalanan. Saya mencoba mengkaitkan dengan film Inception (2010) karya Christoper Nolan dengan pemain Leonardo DiCaprio yang menggunakan mimpi, alam bawah sadar sebagai sarana untuk mencapai sesuatu, terutama memperoleh informasi. Apakah perlu sampai demikian?

Pendapat Yuswohadi mengenai pergeseran dari mass tourism ke individual tourism sejalan dengan pendapat saya ketika pandemi Covid-19 mulai merebak di Indonesia. Saya berkomentar pada istri saya bahwa mass tourism akan berkurang, bahkan dapat saja menghilang, digantikan dengan individual tourism dan pariwisata sesuai minat. Bahkan, seperti yang saya bahas dalam disertasi mengenai turisme pada masa kolonial (saya mengakhiri periode tahun 1942 dan mengawalinya pada tahun 1891). Saya menemukan data bahwa ketika itu kegiatan turisme sempat berhenti tetapi bukan berarti tidak ada. Kegiatan turisme masih ada tetapi dengan pelaku dan suasana yang berbeda (Sunjayadi, 2019).
Saat ini kita berada dalam kondisi ‘adaptasi kebiasaan baru’, meskipun pandemi belum mereda dan vaksin belum selesai. Kegiatan kepariwisataan di Indonesia yang sempat tiarap, mulai bangkit dan kembali menata diri. Secara bertahap kegiatan kepariwisataan mulai berjalan dan harus mengikuti protokol kesehatan. Protokol kesehatan ini disusun oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/ Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama para pemangku kepentingan dan kementerian terkait. Protokol ini disahkan pada 22 Juli 2020 melalui KMK Nomor HK.01.07/Menkes/382/2020 tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas Umum dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (COVID-19).

Untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif ada tiga isu utama protokol kesehatan yaitu kebersihan, kesehatan, dan keamanan. Protokol ini digunakan sebagai acuan bagi semua pihak yaitu kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi, pemerintah daerah kabupaten/kota, dan masyarakat. Termasuk asosiasi, pengelola, pemilik, pekerja, dan pengunjung tempat dan fasilitas umum (kemenparekraf.go.id diakses 26 Juli 2020).

Sehubungan dengan dimulainya kembali kegiatan kepariwisataan, salah satu tanggung jawab kita adalah juga memperhatikan kegiatan pariwisata berkelanjutan. Konsep pariwisata berkelanjutan adalah mengunjungi suatu tempat sebagai seorang wisatawan dan berusaha membuat dampak positif terhadap lingkungan, masyarakat, dan ekonomi. Di sini saya melihat wisata alam menjadi salah satu jalan keluar dalam kondisi seperti sekarang yang dapat disandingkan dengan kegiatan pariwisata berkelanjutan. Setidaknya wisata alam lebih minim resikonya dibandingkan dengan wisata perkotaan (urban tourism). Dengan catatan, wisata alam itu tidak dilakukan secara massal dan mengikuti protokol kesehatan.

Berdasarkan pengalaman, wisata alam selama ini diperlakukan secara salah kaprah oleh masyarakat kita. Padahal wisata alam dapat menjadi penunjang pariwisata berkelanjutan jika kita dapat mengelolanya dengan baik. Selama ini sebuah tempat wisata alam atau tempat yang berpotensi menjadi tempat wisata alam hanya sekedar menjadi latar untuk foto dan kemudian diviralkan melalui media sosial. Akibatnya orang banyak yang datang berbondong-bondong hanya untuk sekedar mendapatkan foto dan memperlihatkan bahwa mereka pernah berada di tempat yang viral tersebut. Sebagai contoh kawasan perbukitan Ranu Manduro di Mojokerto, Jawa Timur yang pemandangannya disebut mirip dengan Selandia Baru dan Gunung Luhur ‘Negeri di atas awan’ di Desa Citorek, Lebak, Banten.

Di satu sisi wisata alam sebenarnya bukanlah hal baru di Indonesia. Sejarawan Australia Robert Cribb (1995: 198) mengungkapkan bahwa itinerario (rencana perjalanan) dari lembaga turisme Vereeniging Toeristenverkeer (VTV) pada awal abad ke-20 menunjukkan tempat-tempat berpemandangan alam indah. Dalam itinerario buku panduan resmi pemerintah kolonial Java: the land of eternal summer (1909) menganjurkan kepada para pelancong untuk mengunjungi tempat-tempat yang berhubungan dengan pemandangan alam di tanah Jawa. Tempat-tempat tersebut, antara lain Kebun Raya Bogor, Puncak Pass, Sindanglaya, Gunung Pangrango, Cibodas, Sukabumi, Garut, Gunung Papandayan, Kawah Manuk, Tosari, Gunung Bromo, Pananjaan Pass.

Perjalanan dan pariwisata di masa depan akan berubah. Bahkan setelah pandemi, sarana transportasi, akomodasi, dan objek pariwisata harus mengikuti prosedur dan standar tertentu. Kebersihan, kesehatan dan kekhawatiran terhadap suatu penyakit menjadi perhatian semua pihak. Situasi yang berbeda ketika sebelum pandemi. Oleh karena itu demi kepentingan bersama kepatuhan terhadap protokol kesehatan dari semua pihak menjadi keharusan. Tanpa kecuali.

sumber foto: wikipedia

One thought on “Wisata Alam Pendukung Pariwisata Berkelanjutan di Masa Adaptasi Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *