0

Wisata Mata, Wisata dalam Gambar

‘….seindah warna aslinya’. Ini adalah potongan dari iklan sebuah produk film kamera analog yang kerap muncul di TVRI, satu-satunya stasiun televisi di negeri tercinta ini. Maksudnya adalah foto yang dihasilkan oleh film tersebut diklaim memiliki warna seindah situasi aslinya. Apakah memang benar demikian, tentunya tergantung pada banyak hal.

Namun, keindahan yang dihasilkan dan terdapat dalam foto ternyata tergantung siapa yang membuatnya. Misalnya selembar foto berobjek landmark kota Paris yaitu Menara Eiffel, kelihatannya begitu indah. Bagi yang sudah pernah ke sana dan melihat sendiri, terutama Menara Eiffel, perasaan yang muncul sepertinya biasa-biasa saja.
Berbicara film kamera, maka akan berhubungan pula dengan wisata. Bagi generasi yang sempat mengalami zaman kamera berfilm, maka wajib hukumnya ketika itu membawa kamera analog (minimal kamera saku) jika pergi berwisata. Berbeda dengan zaman now, cukup membawa kamera digital atau telepon genggam, semua pengalaman selama berlibur dapat direkam. Gambar yang dihasilkan pun tidak hanya gambar statis (foto). Gambar bergerak (film) juga dapat dihasilkan untuk mengabadikan kenangan. Berbeda dengan zaman sebelumnya, untuk menghasilkan film harus menggunakan kamera khusus.

Ketika masih berkamera analog, setiap foto yang akan dihasilkan harus diperhitungkan benar-benar. Tujuannya untuk menghasilkan gambar seperti janji iklan produk film tadi. Dari sebanyak 1 rol dapat berisi 36 atau 24 frame, kemungkinan tidak semua menghasilkan foto dengan baik ketika dicuci-cetak. Mungkin saja ada foto yang terbakar, pencahayaan yang berlebihan atau terlalu gelap. Berbeda dengan kamera digital yang dapat menghasilkan foto sebanyak-banyaknya. Jika ada foto tidak memuaskan, maka dengan mudah dapat dihapus.

Oleh karena di masyarakat kita terbiasa untuk membuktikan bahwa kita pernah ke suatu tempat dengan bukti foto, maka persoalan berikutnya adalah harus ada yang bertugas mengambil foto (memegang kamera). Persoalan ini dapat diatasi dengan tripod atau monopod. Kamera diletakkan di tripod lalu dipasangi timer (waktu) untuk dapat mengambil foto kita. Jika kepepet, maka terpaksa menggunakan tangan kita sendiri untuk mengambil foto. Ini sebelum ditemukannya tongkat narsis (tongsis). Hasilnya adalah objek di belakang kita yang seharusnya kelihatan terhalang oleh wajah dan tubuh kita. Foto yang dihasilkan pun menjadi tidak proporsional.

Lalu, bagaimana dengan latar pemandangan yang juga merupakan unsur penting. Hal ini tidak perlu dipikirkan. Saat ini di beberapa tempat yang menjadi atau dijadikan objek wisata baik di dalam maupun luar negeri, memang sengaja dibuat beberapa objek pemandangan menarik (titik menarik) yang dapat menjadi latar untuk foto. Istilah kekiniannya adalah tempat-tempat yang instagramable , instagram-genic.

Bisa saja, pemandangan di tempat itu secara kesuruhan biasa-biasa saja, tetapi karena dengan tujuan supaya layak dan tampak indah jika dimasukkan ke dalam Instagram, maka dipilihlah sudut-sudut yang membuat tempat itu menjadi luar biasa. Bahkan, beberapa selebriti sengaja menggunakan jasa para fotografer professional untuk mengabadikan kegiatan liburan mereka. Para fotografer professional tersebut tentu tahu sudut-sudut menarik mana yang dapat menjadi latar.

Jadi, dapat dikatakan kegiatan wisata yang dilakukan bukan untuk menikmati pemandangan secara keseluruhan sehingga ‘menggugah hati’, membuat pikiran kembali segar, dan menambah pengalaman batin. Namun, wisata yang dilakukan adalah justru untuk kepentingan orang lain (wisata mata orang lain) sehingga mengagumi foto kita dengan latar objek indah. Apakah hal itu salah?

achmad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *