Mempelajari Budaya Merantau Orang Boyan

Judul   :  Orang Boyan Bawean: Perubahan Lokal Dalam Transformasi Global
Penulis  :  Dr. Drajat Tri Kartono, M.Si.
Penerbit :  Pustaka Cakra, Surakarta, 2004
Tebal  :  xxvi + 334 halaman

Nasib TKI (Tenaga Kerja Indonesia) memang sangat memprihatinkan. Tidak jarang, perlakuan yang mereka terima, baik di negeri tempat mengadu nasib maupun negeri asal sangatlah buruk. Padahal mereka adalah para pahlawan devisa yang menyumbang devisa cukup besar bagi negara. Tidaklah berlebihan jika presiden Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu memerintahkan untuk membentuk posko pemulangan TKI nasional. Terutama, bagi mereka yang bekerja di Malaysia.
Salah satu daerah asal para TKI adalah Pulau Bawean yang secara geografis terletak di Laut Jawa, 80 mil sebelah utara Surabaya. Sedangkan secara administratif, pulau ini masuk wilayah kabupaten Gresik, Jawa Timur. Penduduknya yang disebut orang Bawean ternyata memiliki budaya merantau sejak abad ke-19. Budaya merantau untuk bekerja di negeri jiran inilah yang ternyata mampu mengubah struktur perekonomian di pulau itu.
Diangkat dari laporan penelitian untuk disertasi bidang sosiologi ekonomi di Universitas Indonesia, buku ini membahas tentang masyarakat pulau Bawean dengan budaya merantaunya. Dalam buku ini Drajat Tri Kartono menempatkan persoalan perantauan dalam konteks kebudayaan, jaringan sosial di daerah asal dan perantauan serta perkembangan kebijakan ekonomi politik di Indonesia melalui pendekatan institusional.
Buku ini dapat dibagi menjadi empat bagian pokok. Bagian pertama (bab 1 dan 2) membahas masyarakat Bawean/Boyan serta pembahasan tentang peran negara dan respon migran. Pada bagian kedua (bab 3, 4, 5, 6) kita disuguhi dinamika kehidupan ekonomi masyarakat Bawean yang bersumber pada migrasi kerja ke Malaysia. Ditambah satu bab khusus (bab 7) yang mendeskripsikan strategi atau penyesuaian sosial orang Bawean untuk bertahan dalam kompetisi pasar tenaga kerja tidak terampil di Malaysia.
Sementara pada bagian ketiga (bab 8) dibahas dampak migrasi tenaga kerja internasional orang Bawean terhadap perkembangan ekonomi masyarakat di pulau Bawean. Buku ini ditutup dengan simpulan pada bagian keempat (bab 9) tentang diskusi kehidupan ekonomi masyarakat Bawean dengan pendekatan sosiologi ekonomi.
Orang Bawean ternyata dikenal dengan dua sebutan yaitu orang Bawean atau orang Boyan. Sebutan orang Boyan biasanya digunakan di negara tujuan merantau (Singapura dan Malaysia), sedangkan sebutan orang Bawean dipakai di Pulau Bawean dan di wilayah Indonesia. Tidak ada sejarah tertulis yang menyebutkan asal usul sebutan Boyan itu. Namun, menurut salah satu laporan penelitian, sebutan itu muncul karena salah ucap terutama orang Eropa dan Cina yang mempekerjakan mereka di Singapura dan Malaysia (hal.18).
Pada awalnya diduga penduduk pulau Bawean berasal dari Madura. Hal ini dapat dilihat dari gaya bahasa yang digunakan sebagian besar penduduknya hampir mirip dengan bahasa Madura. Namun, sejak kapan proses ini terjadi belum dapat dipastikan. Menurut cerita rakyat Bawean, orang Madura masuk bersamaan dengan kedatangan agama Islam yang dibawa Said Maulana Umar Mas’od, setelah sebelumnya mengalahkan Raja Babi yang kafir dan ahli sihir. Meskipun demikian, orang Bawean tidak mau disebut orang Madura tetapi mereka menamakan dirinya orang Bawean. Ada beberapa alasan yang mereka kemukakan, antara lain orang Bawean bukan  berasal dari keturunan campuran (Jawa, luar Jawa, dan Madura). Lalu mereka menganggap orang Madura biasa hidup kurang bersih dan tidak rapi (hal.6).
Menurut Jacob Vredenbregt dalam Bawean dan Islam, sampai tahun 1743, pulau ini  berada di bawah kekuasaan Madura dengan raja Madura yang terakhir, Tjakraningrat IV dari Bangkalan. Pada masa itu, VOC yang menduduki pulau tersebut, berkuasa melalui seorang prefet. Di masa pemerintahan Inggris, pulau Bawean menjadi keasistenresidenan di bawah Surabaya. Kemudian digabung dengan afdeling Gresik dibawah seorang kontrolir. Lalu sejak 1920 sampai 1965 berubah menjadi kawedanan. Sejak 1965 pulau ini kemudian diperintah oleh dua camat dibawah pimpinan bupati Surabaya.
Kelompok masyarakat lain yang tinggal di pulau Bawean adalah para nelayan Bugis, orang Jawa di Bawean Utara serta para pedagang dari Palembang yang disebut Kemas. Keberadaan orang Kemas ini cukup menarik karena merekalah yang memelopori kehidupan ekonomi komersial di Pulau Bawean pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Sementara itu penduduk Bawean asli lebih tertarik untuk merantau
Hal inilah yang mungkin penyebab penduduk Bawean asli tidak turut merasakan perubahan struktur ekonomi di kepulauan Indonesia pada masa-masa itu. Sebaliknya, orang-orang Kemaslah yang memanfaatkan kesempatan tersebut. Kemas pertama yang menetap di Bawean tercatat pada tahun 1876. Salah satu Kemas tertua adalah Kemas Haji Jamaluddin bin Kemas Haji Said, seorang pedagang tekstil dan bahan makanan. Ia juga menjadi agen perusahaan pelayaran yang dikelola dengan kongsi Cina untuk jalur Surabaya-Bawean-Banjarmasin-Singapura (hal.9).
Menurut Vredenbregt sejarah migrasi orang Bawean dimulai pada abad ke-19 dengan menggunakan perahu-perahu layar. Awalnya, perantauan itu dilakukan dengan kerjasama dan ikatan persaudaraan yang kuat. Pada masa ini modal orang Bawean yang hendak merantau hanya uang yang sangat terbatas, tenaga dan semangat.
Komersialisasi kegiatan merantau dimulai ketika Bawean disinggahi kapal laut dari kongsi milik orang Cina yang dikelola oleh bangsawan Kemas dari Palembang. Kemas Haji Djamaludin bin Kemas yang ingin mengembangkan daya angkut kapalnya, meminjamkan modal kepada orang Bawean yang hendak merantau. Mereka membayar kembali pinjamannya setelah tiba di tempat tujuan dan telah memiliki pekerjaan. Sistem ini menarik banyak penduduk Bawean untuk merantau sehingga kapal yang sebelumnya mengangkut penumpang dan barang, berubah menjadi kapal penumpang (hal.136).
Ketika perang revolusi tahun 40-an, tidak ada pelayaran yang singgah di Pulau Bawean. Pada masa ini, kegiatan merantau kembali menggunakan kapal-kapal layar. Kapal yang digunakan berasal dari Madura dan Bugis. Setelah perang, fungsi agen (orang Kemas) di Bawean digantikan oleh nakhoda perahu. Mereka yang tidak dapat membayar biaya perjalanan diperbolehkan membayar ketika sampai di negeri tujuan dengan jalan mencicil
Mereka yang telah berhasil di perantauan berupaya mengembangkan usaha peminjaman modal. Bahkan ada diantara mereka yang menjadi penghubung antarcalon tenaga kerja dan tauke di perantauan (hal.137)
Drajat Tri Kartono juga menyempatkan untuk melakukan penelitian di Malaysia guna mengetahui karakteristik kehidupan masyarakat Bawean di negeri itu. Meskipun, menurut penuturannya, sebelumnya ia harus bersusah payah meyakinkan narasumbernya. Mereka khawatir kalau-kalau ia pihak yang berwajib dan akan menangkap mereka. 
Hasilnya, ternyata telah terjadi perubahan penting masyarakat Bawean dalam kehidupannya di Malaysia. Perubahan tersebut ditandai dengan hadirnya pola-pola kehidupan baru di tingkat budaya, ekonomi, dan politik. Perubahan itu juga berdasarkan pada pola kehidupan di Bawean tetapi dalam banyak hal, melalui upaya kreatif, mereka mengembangkan semangat dan pola kehidupan yang tidak dijumpai di Pulau Bawean.
Perubahan pada orang Bawean atau Boyan itu sebagai akibat dari kontak, penyesuaian dan kepentingan memenuhi tuntutan masyarakat dan pasar kerja di negara tujuan migran. Proses ini adalah proses yang dinamis dalam pembentukan identitas antar-etnis. Keberhasilan mengubah dan membentuk identitas baru ini secara ekonomi penting untuk memperoleh kesempatan dan kelangsungan hidup serta bekerja di mancanegara.
Manuel Castells dalam jilid II trilogi The Information Age Economy, Society and Cultural, The Power of  Identity mengemukakan bahwa perkembangan masyarakat jaringan menimbulkan kebutuhan perhatian terhadap proses konstruksi identitas selama masa pembentukannya dimana di dalamnya terjadi perubahan sosial. Hal ini pula yang terjadi pada masyarakat Pulau Bawean.
Di samping itu ada satu lembaga yang cukup berperanan penting dalam proses migrasi tenaga kerja dari Pulau Bawean ke Malaysia. Lembaga itu disebut ‘pengawal’ yang menjadi penghubung antara migran di Pulau Bawean dengan pasar tenaga kerja di Malaysia (bab 5). Untuk menjadi pengawal, ia dituntut memiliki pengetahuan, pengalaman, keuletan, kelincahan serta modal besar. Di samping itu mereka harus jujur dan dapat dipercaya oleh masyarakat. (hal.127).
Hal menarik lainnya dalam buku ini yaitu kepercayaan tentang nilai anak perempuan sebagai penjaga orang tua dan kekayaan yang ditinggalkan. Inilah salah satu faktor penekan aliran orang Bawean ke luar negeri. Sehingga Pulau Bawean sering disebut juga ‘pulau putri’ karena banyaknya penduduk perempuan dibanding laki-laki (hal.98).
Ditinggal suaminya merantau para istri yang tidak terpenuhi kebutuhan batinnya tentu memiliki peluang untuk berselingkuh. Namun, perselingkuhan di Pulau Bawean sangat jarang terjadi. Kalaupun ada, hanya terjadi di daerah pelosok atau pegunungan bukan di daerah perkotaan. Jarangnya perselingkuhan ternyata karena adanya kontrol sosial dalam bentuk ‘gunjingan’ yang masih cukup kuat pengaruhnya. Perempuan yang ketahuan berselingkuh akan dibicarakan dan disampaikan dari mulut ke mulut oleh para tetangganya hingga yang bersangkutan merasa risih (hal.105).
Mereka pun ternyata masih percaya pada mitos pulang kampung yang diketahui secara turun menurun dan cerita teman. Menurut mereka ada aturan tidak tertulis bahwa orang yang merantau harus pulang pada waktu tertentu (biasanya dua tahun). Pulang kampung yang pertama kali bagi mereka dipercayai sebagai upaya ‘buang sial’ dengan membawa gaji untuk membangun rumah, mentraktir teman dan tetangga. Meskipun ada juga yang melanggarnya tetapi biasanya mereka yang melanggar diingatkan oleh teman atau anggota keluarga yang sama-sama merantau.
Meskipun orang Bawean suka merantau, mereka tidak meninggalkan kebiasaan makan ikan laut dengan cara menangkapnya (kegiatan nelayan). Hanya saja kegiatan nelayan ini telah berubah fungsi. Dari mata pencaharian pokok menjadi pengisi waktu senggang (rekreasi) atau sekedar untuk memuaskan rasa rindu makan ikan. Karena itu mereka selalu merawat jala untuk menangkap ikan (hal.170)
Stereotip orang Bawean yang sepintas tampak selalu suka memamerkan kekayaan dan tidak mau kalah juga tidak luput dari pengamatan penulis. Salah seorang informan penulis mengungkapkan stereotip orang Boyan itu. Orang Boyan akan selalu menunjukkan bahwa mereka harus kelihatan sukses walaupun itu hasil berutang atau bekerja habis-habisan. Tidak mengherankan jika perempuan Bawean memakai perhiasan besar-besar. Kemudian jika kita bicara dengan mereka sebaiknya tidak melebihi mereka karena dengan itu kita akan diterima. Sebaliknya, jika kita belum-belum sudah mengalahkan mereka, maka kita akan dicurigai dan ditinggalkan (hal.180).
Secara khusus buku yang dilengkapi dengan tabel, gambar serta foto sebagai ilustrasi ini memang merupakan karya pionir di Indonesia yang mempelajari perantauan di luar negeri dengan menggunakan sudut pandang sosiologi ekonomi. Alasannya, seperti yang ditulis oleh Dr. Rochman Achwan dalam kata pengantarnya, karena hingga kini masih jarang para ahli ilmu sosial Indonesia yang menaruh perhatian pada persoalan ekonomi dengan sudut pandang sosiologi ekonomi.
Sepertinya cukup menarik mengutip pertanyaan dalam kata pengantar yaitu mengapa orang Boyan, orang Bawean  yang merantau ke Malaysia belum berhasil menduduki posisi penting dalam kehidupan ekonomi dan masyarakat di sana tetapi mereka justru memperkokoh ikatan primordialnya?. Jawaban pertanyaan ini tampaknya perlu digali lebih lanjut oleh para ahli ilmu sosial Indonesia lainnya. Di samping tentunya perlu juga meneliti kelompok-kelompok masyarakat lain di Indonesia yang juga memiliki budaya merantau ke negeri jiran. Dengan demikian diharapkan masalah TKI yang bernasib mengenaskan tidak perlu terjadi lagi di masa mendatang.

28 thoughts on “Mempelajari Budaya Merantau Orang Boyan

  1. reesa

    brengsek ngatain orang madura gak bersih..!!!!!!!!! emang kita dari luar kita gak bersih tapi kita yakin hati orang madura sangat lebih bersih drpada hati orang bawean

    Reply
  2. syah razad

    orang madura dan bawean ada hubungan primordial karena islam di sana disebarkan oleh omar mas’od beserta muridnya yang berasal dari madura yang mengalahkan raja babi yang animism.tapi orang madura itu keras kepala, kemana2 bawa senjata tajam makanya mereka tidak mau dibilangin madura, walaupun banyak orang madura sudah banyak menjadi orang bawean

    Reply
  3. sahip

    orang bawean anti banget disebut sebagai orang madura, kecuali mereka yang memang asli dan merantau ke bawean…alasannya, karena orang bawean tutur katanya lebih lembut dan sopan,,,,banyak teman saya saat mendengarkan bahasa Bawean, mereka menganggap bahasa sunda…sikap orang bawean lembut, tidak kasar, tidak suka carok…
    Tapi masalah ini janganlah sampai menjadi SARA, karena siapapun kita…tetaplah bersaudara…

    dalam buku ini,sayangnya…kenapa yang diungkap hanya orang Bawean yang merantau??? memang tradisi tersebut sudah sejak lama adanya,,,,tapi saat ini pemikiran masyarakat bawean untuk memakmurkan/ mengharukan nama keluarganya tidak hanya terpusat pada kekayaan atau merantau ke luar negri…saat ini mereka sudah berlomba- lomba menyekolahkan anggota keluarganya setinggi-tingginya, meskipun dari beberapa keluarga, modal yang digunakan untuk sekolah adalah berasal dari hasil merantau

    coba kita survey…10 tahun ke depan akan ada perbedaan yang signifikan dalam hal mata pencarian dan tatanan kota di pulau Bawean..
    saya percaya itu,,,,karena saya bersama rekan- rekan yang lain akan mengubah pulau ini menjadi pulau yang tingkat kesehatannya tinggi, perekonomiannya maju,dll..tapi, itu pasti terwujud kalau ada dukungan penuh dari pemerintah Daerah,,,atau jika suatu saat Bawean menjadi sebuah kabupaten…i wish

    Reply
  4. achmadsunjayadi

    Buku ini merupakan buku ‘proyek’ Adikarya Ikapi Ford Foundation dengan penerbit-penerbit di Indonesia. Kemungkinan jumlahnya sangat terbatas.
    Terima kasih untuk komentarnya. Memang kita memerlukan pendapat jernih mengenai ‘Indonesia’ kita yang masih berproses dan yang kita cintai. Stereotipe masyarakat Indonesia yang dibuat oleh bangsa asing perlu kita kritisi dengan kepala dingin tanpa emosi.

    Reply
  5. ahmadzaini@bulyamin haki

    terima kasih atas buku tersebut, saya adalah warga malaysia kelahiran Bawean, terharu apabila mendapat tahu sejarah kepulauan bawean melalui laman laman internet dan mendapat tahu perkembangan dari masa kesemasa. kalau boleh dapatkan gambar gambar yang menarik , insyaallah panjang umur akan ku jejakkan kaki di bumi bawean.

    Reply
  6. Hamzah Al Barik

    Assalamualaikum.
    Di Singapura orang Boyan banyak yang sudah jauh maju dari segi pendidikan dan juga socio-economy. Tidak kurang juga yang juga menjadi ahli parlimen, engineer, lawyers, asatizah, ketua ugama dan bermacam profession lagi. Tapi orang2 Boyan sudah susah hendak dikenali latar belakang mereka sebagai orang Boyan, kerana pertuturan dan cara hidup mereka bukan lagi orang Boyan.

    Sebagai pepatah sejarah Melayu, “Takkan hilang Melayu di dunia.” Disebaleknya orang Boyan yang menetap di negara lain sudah di globalisasikan dan bukan lagi orang Boyan. Dan akan hilang Boyan di dunia ini. Tak tahu pula orang di Bawean…adakah dengan arus kemajuan terus menyapu kuat, mereka suatu hari kelak akan mengikut jejak orang2 Boyan yang keluar negeri dan mengubah cara kehidupan mereka di tanah tumpah darah. Hanya masa yang akan dapat menentukan.

    Reply
  7. Taufik Banjar

    Kenapa orang Madura marah dan ngomong brengsek (reesa) ketika ada kajian tentang etnis ini begitu adanya. Di Banjarmasin aja membawa atas nama Islam, tetapi bohong minta sumbangan atas nama masjid dan madrasah yang fiktif. Ini sebuah kenyataan yang banyak para ahli memandang streotifnya begitu. Mungkin orang Bawean sadar akan hal itu. Instrosfeksilah.

    Reply
  8. hirzi

    Kenapa reesa harus berkata brengsek, seharusnya ini menjadikan intropeksi diri. Hanya karena ulah sekelompok kecil dari ulah orang MADURA sehingga membuat image yang jelek terhadap masyarakat madura. yah memang banyak contoh yang menggambarkan hal yang negatif, Ini merupakan tantangan untuk memperbaiki citra. Kalau orang madura bisa meninggalkan sifat keras kepala, hal ini akan bisa menjadikan lapang dada.

    Reply
  9. Gerbang Bawean

    Bawean adalah pulau kecil yang jaraknya 80mil dari Kabupaten Gresik. Kami khawatir kalau lumpur lapindo meluas se Pulau Jawa. Pulau Bawean akan dijadikan tempat pengungsian kedua setelah Madura. Suara Gerbang Bawean

    Reply
  10. aron

    orang bawean itu kebanyakan datangnya dari org yang beagama dan tidak telalu sosial.Walaupun mereka itu hidupnya susah.Banyak bangsa2 dari luar bawean yang datang untuk mempelajari ilmu tauhid.Walaupun banyak orang bawean yang merantau ke malaysia atau singapura tapi meraka tidak lupa asal usul mereka.Contohnya di malaysia,mereka disini sentiasa bersatupadu walaupun ada di negara orang.mengamalkan sikap bertoleransi.orang malaysia suka bergaul dengan orang bawean kerana sikap ramah mereka.Tidak perlulah kita menuding jari kepada mereka.Memang benar madura dengan bawean itu jauh berbeza.Adat mereka jauh berbeza.Percakapan mereka pula tidak jauh berbeza cuma dapat dibezakan dengan halus dan kasar.Dengan itu jangan beza2kan mereka kerana mereka itu rakyat indonesia dan pegangan mereka adalah kitab suci al_quran.saya pohon dari bangsa bawean dan madura hiduplah dengan cara aman di negara orang.ingatlah kita hanya mencari nafkah untuk keluarga di kampung.hindari dari sikap kasar kita baru ler orang akan memandang tinggi martabat bangsa kita.ayoh bangunlah bangsaku jadilah org yang berakal.

    Reply
  11. ocank

    orang bawean sudah lama berada di tanah melayu bahkan lebih dulu orang bawean di sana daripada berdirinya negara Malaysia yang merdeka tahun 1957. orang bawean dan orang melayu sudah hidup berdampingan sejak lama dan tidak ada masalah , orang bawean juga banyak di temukan di kepulauan riau, bangka belitung, borneo dan berunei darussalam yang mayoritas penduduknya melayu. orang bawean juga ada di siam (thai), indocina (vietnam). jadi tidak ada masalah dengan orang bawean.

    Reply
  12. raja_samudera

    orang bawean itu lembut..suka mengalah..dan tidak pernah dendam…apalagi membunuh.

    salam semua……dari boyan rantau

    Reply
  13. eson lah oreng

    Saya kira BOYAN itu datang dari penyebutan perkataan dari orang Inggris (singapura pernah di jajah British suatu waktu dulu)di mana BAW=BO ;
    EAN= YAN atau IAN.
    Satu lagi yg menyedihkan saya kehalusan bahasa Bawean sudah tercemar,Sebagai contoh perkataan ‘Kake’ ,kata ayah saya yg berumur 80,dulu kata itu jarang di gunakan/tidak pantas di ungkapkan pada orang yg lebih tua.Ia hanya digunakan untuk memarahi anak anak atau orang yg lebih muda.Tapi sekarang sudah beda.Perkataan ini sudah tidak di tapis apabila berbicara dgn yg lebih tua.Saya mohon pada orang Bawean asli jagalah bahasa kalian dan yg berada di luar Bawean tanah pusaka jangan di jual.Tanamilah dgn jati atau bermitra dgn orang yg sanggup mengelolakan tanah ini dgn sistim bagi hasil.Dgn cara ini keturunan kita akan ke Bawean suatu hari nanti kerana di sana ada harta peningglan orang tua-JATI.Jangan KARANG RA

    Reply
  14. Endink Rauf

    Yaaa etnis Bawean itu unik. Dia merasa senasip dlm kebaweanan tapi tidak mudah utk disatukan. Berbeda dgn etnik Madura yng Khas dgn loyalitas yang kuat pada tradisi, etnik Bwn mudah cair dan lentur di lingkungan dan tradisi masyarakat lain. Bahasa Halusnya mudah beradaptasi tapi kasarnya gampang melupakan tradisi. Mungkin -barangkali- karena etnik Bwn merupakan asimilasi dari banyak etnik dan tradisi (jawa,Sulawesi, Palembang dan Madura)yang menyatu (karena ada dalam wilayah yg sama)mjd etnik tersendiri. Bawean…memang aneh dan unik… tapi aku bangga jd org Bawean. karena itu, walaupun sy sekarang tinggal di Jakarta sy tetap concern dgn nasip org Bwn. Untuk itu, Kami di jakarta membentuk lembaga BAWEAN INSTITUTE yg lebih concern pada pengembangan SDM Bawean khsusnya di bdg pendidikan. Baru 7 bln yg lalu di bentuk kami sdh memberikan bantuan Beasiswa utk 17 anak SMA berprestasi dan kurang mampu tiap bulan sebanyk 100 Ribu/anak. Mohon doa dan dukungan.

    Reply
  15. Yanto

    Pangapora Togelen!!!
    “Takkabessa nyo’on” sudah perduli ada orang Bawean! hubungan primordial bawean dan madura sangat erat. dengan kedewasaan dalam berfikir dan bertutur kata, semoga dalam tulisan selanjutnya tidak selalu menonjolkan perbedaan yang saya pikir dapat mengurangi kesantuan orang-orang bawean. kemajemukan masyarakat Bawean lebih disebabkan letak geografis yang sangat strategis dimana berada di tengah-tengah Nusantara. sehingga Bawean menjadi tempat singgah kapal-kapal niaga dari dari pulau yang satu dan yang lain. jadi berbicara tentang bawean, jangan lupakan madura, bugis, palembang, jawa dll. semoga kemajemukan ini menjadi bekal bagi kami Putra-putri Bawean untuk lebih maju.
    Salam persaudaraan buat orang bawean dimanapun berada!!!
    Sukses buat BAWEAN INSTITUTE “Biarpun bumi berguncang Bawean tetap pulauku tercinta”

    Reply
  16. eson lah oreng

    Syabas buat Pak Endink Rauf dan teman2 yg telah mewujudkan Bawean Institue.Ini hanya satu masukan saya.Sebaiknya kewujudan Institute ini dapat di khabarkan pada PBS-Persatuan Bawean Singapura dan mungkin di Malaysia.Siapa tahu Institute ini mendapat sumbangan yg seadanya dari orang2 Bawean di Singapura dan Malaysia melalui persatuan masing2.Atau kerjasama dengan badan teater di Singapura dalam pementasan Teater Bawean untuk memungut dana.Dulu teater seperti ini pernah di adakan dalam tahun2 80an tapi terkubur dengan wafatnya Pak Wira (kalau tidak salah).Persembahan teater ini adalah mayoritas ocak Pebian.Cuma kalo bisa jika wang telah terkumpul nanti diharapkan tidak ada kebocoran.Terima kasih

    Reply
  17. eson lah oreng

    B=Bangsa Bawean yg
    A=Ada di mana mana
    W=Walau ada di perantauan
    E=Etika harus tetap terpelihara
    A=Amal maaruf
    N=Nahi mungkar

    Reply
  18. telk

    pengapor sebedena…
    kemana hilangnya para ilmuan agama di bawean?
    sehinggakan sekarang ini anak mudanya bertambah parah tingkahnya…..
    kembalinkan kegemilangan islam di bawean……
    wasalam

    Reply
  19. rifi hamdani bin haji syam syam

    saya orang boyan yg kehilangan kebudayaan, atas adanya bacaan ini sangat bersyukur mengetahui masih adanya yang perduli dengan suku boyan kita. allahhu’akbar.

    Reply
  20. Triyono Wignyo Saputro

    Maaf banget…..ya. ini fakta dan logika. saya salut dengan orang Bawean yang tidak sama dengan orang Madura. Tapi orang Madura memang rata-rata tidak berpendidikan dan penampilannya norak, kasar, suka bergerombol dengan sesamanya dan paling banyak dibenci suku lain. maaf ya. Beda dengan suku Bawean.

    Reply
  21. maryam boyan

    salam semangat dan cinta tanah kelahiran (pulau bawean)untuk keturunan bawean / boyan yang ad di negeri orang…
    dan kami yang ada di indonesia selalu menerima orang bawean yang sudah lama tidak menginjak kakinya ke pulau bawean…
    pulau bawean akan tersenyum bangga apabila kalian mengunjunginya… 😉
    welcom to bawean island…

    Reply
  22. shaffry sanusi

    Asskum wbt wahai saudaraku sekalian,saya keturunan Bawean generasi ketiga yg lahir dan adalah warganegara Malaysia.
    Memang tidak dinafikan orang Bawean dari segi penampilan/pembawakan dirinya jauh berbeda dari orang Madura meskipun bahasa mereka seakan akan sama,namun jika diteliti, ianya lebih halus dan sopan serta rendah diri orangnya,lebih suka mengalah serta low profile.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *