Menyibak Kegemilangan Masa Lalu Banten

Judul: Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X-XVII
Penulis: Claude Guillot
Penerjemah: Daniel Perret (ed)
Penerbit: KPG, EFEO, Forum Jakarta-Paris, Pusat Penelitian dan Perkembangan Arkeologi Nasional Jakarta, 2008
Halaman: 430 hal

Masa lalu memang tak akan pernah kembali dan terulang. Namun, bukan berarti masa lalu dapat dinafikkan begitu saja. Masa lalu dapat menjadi cerminan diri kita apakah akan mengulangi kesalahan yang sama, membiarkan diri masuk ke lubang yang sama atau mau mengubahnya demi masa depan.

Apa yang muncul di benak kita pada masa kini ketika mendengar nama ‘Banten’? Ada berbagai hal menarik yang akan muncul. Salah satunya adalah kisah sejarah kegemilangan Banten di masa silam..

Banten pada masa kini merupakan salah satu pintu gerbang Pulau Jawa melalui udara (Bandara Soekarno-Hatta masuk provinsi Banten). Sedangkan pada masa silam Banten juga menjadi salah satu bandar niaga yang diperhitungkan di dunia internasional. Dengan latar belakang masa kolonial di Banten, Prof. Sartono Kartodirdjo menulis salah satu karya terbaiknya tentang pemberontakan petani Banten 1889. Selain itu, salah satu kabupaten di Banten, Rangkasbitung, menjadi setting novel Max Havelaar karya Multatuli. Novel yang menurut Pramoedya Ananta Toer sebagai novel yang ‘membunuh’ kolonialisme.

Periode sebelum kolonial inilah yang menjadi subyek temporal kumpulan berbagai tulisan karya Claude Guillot beserta penulis lain dalam buku ini. Sumber buku ini adalah kumpulan tulisan yang tersebar di berbagai jurnal dan buku membahas Banten pada abad ke-5 sampai 17. Masa yang luput dari pengamatan dan penelitian para ahli lainnya.

Claude Guillot sendiri adalah peneliti asal Prancis yang pernah menjadi dosen bahasa Prancis di berbagai universitas di Mesir, Tanzania dan Indonesia. Disertasinya membahas perjuangan Kiai Sadrach dan masyarakat Kristen pertama di Desa Karangjoso (1981).

Buku ini terbagi atas tiga bagian ‘Banten sebelum Islam’, lalu ‘Masyarakat dan Politik dalam Kesultanan Banten’, serta ‘Banten dan Dunia asing’. Ketiga bagian itu disusun dari lima belas artikel berbahasa Prancis yang berasal dari majalah ilmiah, seperti Archipel dan sejumlah buku yang diterbitkan tahun 1989 sampai 2006.

Pada bagian pertama dibicarakan sejarah kuno Banten sebelum kedatangan Islam. Ketika itu pusat ibu kota masih di Banten Girang, sepuluh kilometer dari Laut Jawa di hulu Sungai Cibanten. Lalu sebuah peristiwa penting terjadi sewaktu Demak menempatkan raja muslim pertama di Banten pada 1526-1527.

Selama ini kita seolah menyetujui hipotesa Hoesein Djajadiningrat dalam disertasinya di Universiteit Leiden, Critische beschouwing van de Sadjarah Banten. Bijdrage ter keschetsing van de Javaansche geschiedschrijving (1913) yang menjadi rujukan utama tentang sejarah Banten. Djajadingrat ternyata menggunakan sumber-sumber Portugis yang tidak dipilih dengan baik dan mengabaikan sumber-sumber setempat hingga kesimpulannya yang ‘keliru’ yang menyanggah teks yang justru paling lengkap yaitu Sajarah Banten.

Bukti mengenai ‘kekeliruan’ tersebut disajikan dalam tulisan pertama buku ini. Karya bersama Guillot dengan Lukman Nurhakim dan Sonny Wibowo ‘Negeri Banten Girang ‘dari hasil penggalian arkeologi selama empat tahun (1988-1992) di situs Banten Girang, sepuluh kilometer di hulu Banten, pinggiran selatan kota Serang (hal.16). Simpulan hasil penggalian adalah ternyata dinasti Islam bukanlah pendiri Banten tetapi dinasti inilah perebut kekuasaan dalam ‘negara’ yang telah memiliki sejarah yang panjang dalam perniagaan internasional. Tulisan menarik lainnya adalah ‘Perjanjian Antara Portugis dan Sunda Tahun 1522 dan Masalahnya’ (hal.31). Tulisan ini merupakan penafsiran sumber-sumber tertulis yang masih menjadi kendala bagi para sejawaran Indonesia karena menggunakan bahasa Portugis. Teks-teks tersebut antara lain catatan dua penulis kronik asal Portugis, Joao de Barros dan Diogo de Couto, serta teks perjanjian asli antara kerajaan Sunda dan Portugis.

Beberapa sumber dalam beberapa artikel menggunakan laporan pengunjung asing khususnya orang Eropa. Hal yang menarik adalah beberapa laporan tersebut ternyata merupakan laporan rahasia hasil ’spionase’ pada abad ke-17 yang ditulis musuh dan sekaligus tetangga mereka yaitu orang Belanda di Batavia. Orang Belanda itu khawatir dan iri terhadap kemajuan Banten.

Pada bagian kedua diuraikan aspek-aspek sejarah kemasyarakatan dan peradaban Banten pada jaman Islam. Di sini dibahas aspek tata kota, orang Keling, orang Tionghoa penghasil gula, politik produksi pangan, serta perjuangan masyarakat Banten merebut kekuasaan.

Bagian terakhir disajikan hubungan Banten dengan pihak asing. Dalam salah satu artikel disebutkan seorang ’tukang insinyur’ dari abad ke-17 di Banten. Ia adalah Kiyai Ngabehi Cakradana yang namanya kerap disebut oleh para pendatang Eropa yang singgah dan berniaga di Banten pada masa itu (hal.351). Dari berbagai sumber diketahui jika Kiyai Ngabehi Cakradana mengawali karirnya dari seorang “Touckan Bessi” (Tukang Besi) dan Syahbandar. Yang menarik dari sumber yang lain diketahui bahwa ternyata ia adalah seorang keturunan China yang beragama Islam (hal.353).Bagian ketiga ini ditutup dengan tulisan mengenai citra Banten yang muncul dalam kesusastraan Inggris, Prancis dan Belanda. Misalnya dalam The Alchemist (1610) karya Ben Jonson, The Court of the King of Bantam (1689) karya Aphra Ben, La Princesse de Java (1739) karya Madeleine de Gomez, lalu Agon, Sulthan van Bantam (1769) karya Onno Zwier van Haren.

Banten memang sebuah negeri yang kaya akan sumber sejarah. Banten tidak hanya telah menulis sejarahnya sendiri tetapi juga merangsang banyak tulisan dari pengunjung asing. Secara garis besar buku ini tidak meliputi sejarah Banten secara keseluruhan dengan maksud seperti yang juga diungkapkan penulisnya, agar kelak ada peneliti atau pihak-pihak lain yang akan menuliskannya. Namun, sebagai kajian sejarah dan arkeologi buku ini patut untuk disimak oleh mereka yang berminat pada sejarah dan peradaban Banten di masa silam.

3 thoughts on “Menyibak Kegemilangan Masa Lalu Banten

  1. Pingback: Mencari Presiden yang Peduli Sejarah dan Budaya Bangsa «

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *