Saya menulis (lagi)….

Menyambut usia blog ini yang kelima, saya berniat akan menulis (lagi). Saya katakan (lagi) karena setelah sekian lama, kegiatan menulis yang saya lakukan seperti tak berjiwa dan tak bermakna. Saya menulis karena terpaksa, menulis karena tugas, menulis karena tuntutan pekerjaan. Saya menulis dengan terburu-buru tanpa menikmatinya.

Memang, pada awalnya ketika menulis, saya dipenuhi berbagai tuntutan. Sekedar mengingat saja, beberapa tahun silam, saya selalu peka pada situasi di sekitar. Berita di televisi, di koran, bahkan radio selalu saya pantau dan saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Tentunya saya kaitkan dengan sejarah, bidang ilmu yang ketika itu saya tekuni.

Saya pun ketika berupaya mencari tahu surat kabar mana yang bisa menampung tulisan saya. Misalnya ketika sedang menikmati sate di sebuah warung, alamat e-mail redaksi koran itu saya catat. Di rumah saya mengirimkan tulisan saya melalui e-mail. Ketika tulisan saya dimuat, saya tidak sekedar sampai di situ. Seperti ‘kecanduan’ saya kembali memasang mata, telinga dan hati. Sehari-hari saya tak lepas dari notes kecil untuk mencatat berbagai hal menarik. Begitu seterusnya. Saya menulis, saya kirimkan dan tulisan saya dimuat. Dalam sebulan satu hingga dua tulisan saya dimuat. Dalam setahun beberapa tulisan saya hasilkan.

Bertahun-tahun kemudian, saya merasa kepekaan dan keinginan menulis seolah menyusut atau nyaris hilang.  Tema dan topik tulisan yang berhamburan, seolah hanya terendap dalam kepala. Entah karena merasa ‘mapan’ atau justru itu bagian dari ‘kegelisahan’ saya. Salah satunya tuntutan supaya hasil tulisan itu harus dimuat seolah menghantui diri saya. Hingga akhirnya saya menulis begitu saja. Sekedar menulis, memenuhi tuntutan.  Karya tulisan saya seperti menetes tak mengalir deras seperti dulu.

Saya sadar, saya terlalu berobsesi pada hasilnya. Bukan proses. Jadi proses menghasilkan tulisan yang pernah saya nikmati itulah yang hilang. Proses mendapatkan tema tulisan, mengumpulkan data, berfikir serta merenungkannya lalu menuangkannya dalam tulisan itulah yang hilang.

Tak ingin berlarut-larut dalam kondisi yang tidak menyehatkan ini akhir tahun 2011, saya memutuskan untuk kembali ke dasar. Ibarat bermain musik saya hanya ingin bermain dengan gitar atau piano, bukan dengan manipulasi teknologi.  Saya ingin menulis (lagi). Sesuai dengan keinginan saya, menulis dengan sederhana namun hasilnya maksimal.  Meskipun sederhana, saya harus ‘bebas’ menulis. Tanpa tekanan, tanpa tuntutan. Namun, ini bukanlah hal yang mudah. Menulis secara sederhana ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Saya harus memulainya.

sumber gambar: http://www.emich.edu/english/gsp/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *