Cikal Bakal Fakultas Sastra Universitas Indonesia

Seberapa tua kah perguruan tinggi di Asia, khususnya fakultas sastra di Asia Tenggara?  Seberapa tua juga kah fakultas sastra di perguruan tinggi di Indonesia?  Kees Groeneboer dalam artikelnya “Jurusan Bahasa dan Sastra Belanda 1949-1952 yang mengutip M. van Geuns (1917) mengungkapkan pendidikan tinggi dan universitas di Hindia-Belanda memang lebih lambat berdiri. Di Filipina, mereka mengacu pada Universidad de Santo Tomas yang didirikan pada 1611. Namun, Fakultas Sastra dan Filsafat di Filipina memang baru dibuka secara terpisah pada 1920-an. Sementara di India, fakultas-fakultas sastra telah lama ada sejak 1860-an, antara lain di Universitas Kalkuta, Bombay, dan Madras (Groeneboer 1996:13).

Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (Fakultas Sastra dan Filsafat)  di Hindia Belanda baru dibuka pada 1940. Sebenarnya rencana pendirian Fakultas ini sudah jauh sebelumnya. Dalam Prae-adviezen 1919, di Kongres Pendidikan Kolonial di Den Haag Dr. N. J. Krom mengemukakan pendapatnya mengenai “De letterkundige vakken aan de Indische universiteit” (mata kuliah sastra di universitas Hindia). Demikian pula pada Kongres Pendidikan Kolonial 1924 sudah dipikirkan dengan rinci manfaat didirikannya Fakultas Sastra di Batavia. Tujuan utamanya adalah  pada ‘op de inheemsche cultuur-verschijnselen in hunne historische wording’ (gejala-gejala budaya pribumi dalam sejarahnya). Tiga tokoh lainnya selain Dr. N.J. Krom yang  membicarakan masalah pendirian Fakultas Sastra di Hindia adalah Dr. N. Adriani, F.G.J.M. van Lith dan R. Ng. Poerbatjaraka (Van der Wal 1963: 421)

Dalam suratnya kepada Gubernur-Jenderal De Graef tanggal 28 Oktober 1927, Direktur Pendidikan dan Agama, J. Hardeman merancang suatu komisi khusus untuk pendirian Fakultas Sastra Timur (Faculteit der Oostersche letteren). Ia mengajukan nama Prof. Dr. Hoesein Djajadiningrat sebagai ketua dengan para anggota Dr. F.D.K.Bosch, Ch. O. Van der Plas, Dr. Radjiman Wediodipoera, Prof. Dr. B. J. O. Schrieke, Dr. W.F. Sttuterheim dan Mr. L.J.A. Trip (Van der Wal 1963: 427)

Rencana pendirian fakultas tersebut dirancang dengan rinci pada 1930 lalu disajikan oleh suatu komisi dari Departement van Onderwijs en Eredienst (Departemen Pendidikan dan Agama).  Belakangan ketua komisi tersebut dijabat oleh guru besar Rechtshogeschool (Sekolah Tinggi Hukum) B.J.O Schrieke

Rencana Schrieke bertolak dari pendapat bahwa dengan didirikannya Fakultas Sastra ‘pandangan tidak hanya diarahkan ke masa lalu, tetapi juga pada masa kini yang hidup’ (Groeneboer 1995:421). Awal tahun 1930 dunia dilanda resesi ekonomi.

Penghematan terjadi di mana-mana termasuk rencana didirikannya Fakultas Sastra yang untuk sementara ditangguhkan.

Rencana itu kembali mengemuka setelah pada 17 Agustus 1938 Volksraad menerima mosi dari M.H. Thamrin, R.P Soeroso, dan R. Soekardjo Wirjopranoto yang mendesak agar Fakultas Sastra di Hindia didirikan paling lambat pada tahun 1940.  Dalam laporan Volksraad 1938-1939 disebutkan mosi tersebut diterima 29 melawan 17 suara tanpa adanya perdebatan (Van der Wal 1963: 631)

Direktur Departemen Pendidikan P.J.A. Idenburg pada 4 Maret 1939 memberikan tugas pada seorang ahli sejarah I.J. Brugmans yang ketika itu menjadi Sekretaris Departemen Pendidikan untuk menyusun rencana mendirikan Fakultas Sastra (Van der Wal 1963: 629-49).

Raad van Nederlands-Indie (Dewan Hindia Belanda) pada tanggal 10 November 1939 berpendapat dengan tegas bahwa sangatlah perlu mengadakan kursi guru besar untuk mengajar kebudayaan Belanda (bahasa, sastra, sejarah). Alasannya  karena itu akan merupakan alat yang paling baik untuk menghindari kesan bahwa fakultas yang akan didirikan itu merupakan fakultas ketimuran murni (Van der Wal 1963:647). Namun, dalam rencana yang disusun Brugmans tahun 1940 hal itu tidak dilaksanakan.  Brugmans tidak melihat banyak manfaat dengan adanya kursi guru besar seperti yang digambarkan dalam rencana Schrieke tahun 1930 karena ini tidak akan mempunyai hubungan organis dengan kursi-kursi guru besar lainnya yang direncanakan. Oleh karena itu diusulkan untuk mewajibkan kuliah penguasaan bahasa Belanda pada semua mahasiswa tingkat satu atau dua. Demikian halnya dengan mahasiswa keturunan Belanda karena bahasa Belanda dari kebanyakan pemuda Belanda kelahiran Hindia-Belanda dianggap buruk (Groeneboer 1995:422)

Sebelum Brugmans sempat mengajukan laporannya, hubungan dengan negeri Belanda terputus karena pada 10 Mei 1940 Jerman menduduki Belanda. Dalam situasi ini, tiba-tiba keberadaan Fakultas Sastra dianggap sangat mendesak. Alasan utama adalah para ahli sosial-ekonomi, para ahli bahasa daerah di Hindia, para ahli sejarah dan etnolog tidak bisa datang lagi sehingga Hindia Belanda di masa depan harus mengisi kekosongan tersebut (Groeneboer 1995:423)

Departemen Pendidikan yang sejak bulan Mei 1940 di bawah pimpinan Prof. Dr. Ario Hoesein Djadjadiningrat secara terburu-buru memutuskan untuk mendirikan fakultas sastra.  Setelah laporan Brugmans diajukan pada 18 Agustus dan Dewan Hindia Belanda pada 17 September serta Gubernur Jenderal-Hindia Belanda pada 19 September 1940 memberikan tanggapan positif, pada 11 Oktober Volksraad membahas masalah tersebut. Sebelumnya pada 1 Oktober 1940 cita-cita mendirikan fakultas sastra di Hindia Belanda terwujud berdasarkan Ordonnantie mengenai pendirian Fakultas Sastra dan Filsafat (Indische Staatsblad 1940 No.531). Ordonansi tersebut dipertahankan oleh Direktur Departemen Pendidikan Hoesein Djajadiningrat yang akhirnya mendapatkan persetujuan Volksraad (Van der Wal 1963: 649).

Ordonansi itu kemudian dikukuhkan melalui Besluit van den Gouverneur-Generaal (Keputusan Gubernur-Jenderal) tanggal 21 November 1940 No.16 yang tertuang dalam tujuh pasal. Pasal 1 memuat ordonansi acuan didirikannya fakultas sastra dan filsafat sebagai bagian dari pendidikan tinggi. Dalam pasal 2 disebutkan masa studi dan jurusan yang harus diikuti oleh para mahasiswa. Pasal 3 memuat wewenang Gubernur-Jenderal dalam menentukan mata kuliah – mata kuliah yang diberikan di fakultas. Sementara itu pasal 4 memuat persyaratan untuk dapat diterima di fakultas sastra. Pasal 5 menjelaskan pengawasan fakultas dilakukan oleh College van Curatoren der Bataviasche Hoogescholen (Dewan Penyantun Sekolah Tinggi Batavia) lalu pasal 6 memuat pasal-pasal dari ordonansi pendidikan tinggi yang diterapkan di fakultas sastra. Pasal terakhir berisi tanggal berlakunya ordonansi yang berlaku surut hingga 1 Oktober 1940 dan tetap berlaku selama setahun (Indische Staatsblad 1940 No. 531)

Menurut Lelyveld dalam skripsinya ‘ De Oprichting van een Litteraire Faculteit te Batavia: Discussies over de totstandkoming van een faculteit der letteren en wijsbegeerte in Nederlands-Indie gedurende de periode 1900-1940’ (1977) salah satu pertimbangan di dalam Penjelasan Rancangan Undang-undang ditekankan bahwa pemerintah sangat menginginkan di Hindia-Belanda diciptakan satu pusat budaya Belanda, di mana mata kuliah seperti bahasa dan sastra Belanda diajarkan (Groeneboer 1995:423)

Pada tanggal 4 Desember 1940, Fakultas Sastra dan Filsafat resmi dibuka oleh Gubernur-Jenderal  Jhr. A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dengan empat jurusan: ilmu sosial, bahasa dan sastra Indonesia, sejarah dan etnologi. Sebelumnya pada 14 Oktober  1940 kuliah-kuliah pertama telah diberikan.

keterangan foto:

Dr. I.J. Brugmans (de voorzitter van de Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte)

sumber: www.dbnl.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *