Mengayuh Onthel, Menggali Kenangan

Judul                 : Pit Onthel

Penyunting     : Yemima Lintang Khastiti

Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia dan Bentara Budaya

Cetakan           : I,  Juni 2011

Tebal               : VI + 90 hlm

ISBN               : 978-979-91-0342-0

Sesuatu yang tua tidak selalu tak berguna. Demikian halnya dengan benda yang satu ini. Benda yang menjadi bagian perjalanan perkembangan teknologi, dari alat transportasi menjadi alat rekreasi. Benda itu adalah sepeda. Lihat saja tiap minggu pasti ada acara ‘Gowes bareng’, ‘Fun Bike’ di berbagai tempat. Sepeda kembali naik daun.

Sepeda pun tak hanya sebagai alat rekreasi. Bagi mereka yang entah karena mode, alasan global warming atau karena kemacetan di jalan raya memang terpaksa menggunakan moda transportasi ini untuk beraktivitas sehari-hari. Persis seperti fungsinya ketika sepeda pertama kali diperkenalkan. Salah satu jenis sepeda yang kembali naik daun adalah sepeda onthel. Sepeda yang awalnya digunakan di perkotaan lalu seiring berputarnya zaman terbuang ke pedesaan dan kini kembali diburu. Bahkan rongsokan besi tuanya kerap dihargai mahal. Oleh karena itu buku (katalog) Pit Onthel yang merupakan salah satu tema seri Lawasan hadir sebagai pelengkap bagi para pemburu, kolektor dan penggemar sepeda onthel.

Hal menarik adalah kita menggunakan istilah ‘sepeda’ yang diambil kata velocipede (veloc = cepat, pedis = kaki). Istilah dari bahasa Latin yang digunakan ketika sepeda diciptakan pada abad ke-18 di Prancis. Ketika itu sepeda merupakan kendaraan roda dua dari kayu. Roda depannya paten dan hanya bergerak maju jika pengemudi menggerakkan kaki ke depan (hal.2). Sementara itu orang Sunda memilih kata sapedah, sedangkan orang Jawa menyebutnya pit yang berasal dari bahasa Belanda, fiets (seperti judul buku ini). Lain pula di Aceh. Di sana sepeda disebut keutangen atau keutanging dari keureta angen atau kereta angin.

Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu tetraloginya Anak Semua Bangsa menyinggung velocipede, kereta angin yang membuat orang-orang di Surabaya pada awal abad ke-20 terheran-heran. Pram mendiskripsikan alat transportasi ini sebagai alat yang bisa berlari secepat kuda tetapi tidak perlu rumput dan kandang. Selain itu, tulis Pram, dengan menggunakan kata-kata penjual sepeda: ‘lebih nyaman dari kuda, kendaraan yang tak pernah kentut, tak butuh minum dan tak buang kotoran.’ Penemuan ban angin oleh John Dunlop pada 1888 membawa angin segar bagi perkembangan alat transportasi sepeda.

Sepeda yang masuk ke Nusantara pun yang sudah mengalami perkembangan, bukan dari generasi pertama. Seperti yang diuraikan Andi Arif dalam Melihat Indonesia dari Sepeda (2010), Hindia Belanda menjadi salah satu wilayah di dunia yang termasuk pertama kali menggunakan teknologi ini, tak lama ketika sepeda baru ditemukan. Dalam Lage Landen Hoge Sprongen: Nederland in Beweging (1998) disebutkan sepeda beroda angin pertama kali muncul di Belanda pada 1890 dan segera merebut perhatian masyarakat Belanda. Pada 1900 lebih dari 100.000 sepeda melaju di jalan-jalan di Belanda.

Pada awalnya sepeda merupakan simbol status. Pinjam ungkapan Denys Lombard, sepeda merupakan medium ‘modernisasi’ (baca: pembaratan) karena selain kalangan Eropa (Belanda) hanya kalangan priyayi dan kalangan yang terpandang secara ekonomi berkesempatan menunggangi kereta angin ini. Selain berpakaian ala Barat, menggunakan sepeda juga mencerminkan ‘kemajuan’. Namun, pendapat itu kemudian bergeser seiring masuknya sepeda motor di Hindia. Rudolf Mrázek dalam Engineers of Happy Land: Technology and Nationalism in a Colony (2002) – mengutip majalah Magneet (1914), corong klub sepeda motor Motor-Wielrijder Bond – menyebutkan kecelakaan sepeda motor dengan pengemudi pribumi sebagai hal yang lucu. Alasannya hanya sepedalah yang cocok untuk bruine broeders (saudara coklat) alias bangsa pribumi.

Ketika Jepang mulai menginvasi wilayah-wilayah di Asia Tenggara, selain menggunakan truk dan tank, mereka juga menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Seperti yang tampak dalam film dokumenter Nippon Eigasha ketika Jepang masuk ke Singapura (Februari 1942) dan Pulau Jawa (Maret 1942), bala tentara Dai Nippon mengayuh sepeda. Kelak Jepang melarang penggunaan sepeda-sepeda buatan Eropa di Indonesia persis seperti larangan semua hal yang berbau Eropa seperti penggunaan bahasa Inggris dan Belanda.

Selain uraian tentang sejarah sepeda, buku ini dilengkapi dengan berbagai uraian dan ilustrasi berbagai merek sepeda yang pernah menghiasi jalan-jalan di kota-kota besar di Indonesia. Mulai dari merek-merek keluaran Belanda (Fongers, Simplex, Gazelle, Batavus, Veeno, Hobbs) yang di Jawa lebih dikenal dengan nama Pit Kebo, merek dari Inggris (Humber, Triumph, Raleigh, Sunbeam, Brooks, Sturmey Archer), Amerika (Schwinn), Jepang (Wee Bee, Prima, Woodcock, Club, Milton, Oryx). Sayangnya dalam buku ini merek dari Jepang tidak diulas seperti halnya merek dari Belanda, Inggris dan Amerika.

Khusus untuk sepeda merek Fongers yang dimpor dari Belanda jumlahnya meningkat tajam di Indonesia pada periode antara dua perang dunia. Mungkin akan lebih menarik jika buku ini diberi uraian pengalaman para pendiri bangsa ini dengan sepeda. Misalnya Bung Karno yang memiliki pengalaman unik dengan sepeda. Pada suatu sore yang cerah, Bung Karno yang ketika itu berusia 14 tahun asyik berboncengan sepeda dengan Rika Meelhuysen, seorang gadis Belanda. Di belokan, ia menabrak seseorang yang ternyata adalah ayahnya, Raden Soekemi. Soekarno merasa sangat takut. Ia takut bukan karena telah menabrak ayahnya tetapi karena ia membonceng gadis Belanda. Buku ini menampilkan pula puisi dari Sindhunata, berbagai iklan (hal.75-81), onderdil (hal.48-49) dan aksesori sepeda onthel (hal.51-63).

Buku ini kian menarik dengan cerita pengguna onthel yang usianya juga sudah tak muda lagi. Dua cerita pendek dari tahun 1946 dan 1965 menegaskan peran sepeda onthel yang pernah menjadi bagian dalam kehidupan kita. Salah satu cerita pendek ‘Sepeda Baru’ dalam buku ini (hal.71-73) mengingatkan kita pada pengalaman lain Soekarno dengan sepeda. Ketika itu ia bersekolah di HBS Surabaya dan tinggal dengan keluarga H.O.S. Tjokroaminoto. Soekarno dengan bersusah payah mengumpulkan sen demi sen untuk memiliki sepeda. Setelah memiliki uang delapan gulden, ia memilih Fongers berwarna hitam sebagai sepeda impiannya. Sepeda itu dipinjam Harsono, salah seorang anak Tjokroaminoto, untuk berkeliling kota Surabaya. Sialnya Harsono menabrakkan sepeda Soekarno ke pohon karena menghindari tabrakan dengan andong. Soekarno pun marah besar karena Harsono tidak memberi tahu hingga Soekarno sampai hati menendang pantatnya. Belakangan Soekarno menyesal. Soekarno kembali mengumpulkan uang untuk dibelikan sepeda bermerek sama. Namun, sepeda itu bukan untuk dirinya sendiri tetapi diberikan kepada Harsono.

Menikmati buku penuh gambar berwarna ini seperti mengayuh sepeda onthel tua yang melaju memutari roda zaman di masa silam. Zaman yang tak sekedar penuh kenangan tanpa makna. Namun, penuh cerita dan aneka warna. Selamat meng-onthel dan menilik keeksotisannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *