Momen Estetik Seorang Arkeolog

Judul    : Momen Estetik 9 Windu Edi Sedyawati

Penulis : Yuke Ardhiati

Penerbit : Widya Dharma- Denpasar, Oktober 2010

Tebal : 192 halaman

Apa yang Anda bayangkan jika saya menyebut kata arkeolog? Mungkin seperti kebanyakan di benak sebagian orang , bayangan sosok arkeolog kumuh dan lusuh. Saya membayangkan sosok Dr. Henry Walton Jones, Jr alias Indy, tokoh petualang fiktif dari seri Indiana Jones yang diperankan oleh Harrison Ford. Tokoh Jones yang diciptakan oleh George Lucas adalah seorang profesor arkeologi yang juga agen Office of Strategic Services (OSS), dinas intelijen Amerika Serikat selama Perang Dunia II, cikal bakal CIA.

Namun, jika saya menyebut nama Ibu Edi Sedyawati, apa yang ada di benak Anda? Ibu Professor ini juga seorang arkeolog. Bayangan kumuh dan lusuh segera sirna. Sosok yang lembut dan gemulai ini jauh dari kesan seorang arkeolog yang meminjam ungkapan salah seorang kawan saya, ahli yang bergumul di dunia pecahan keramik , patung batu hingga tulang belulang.

Dalam buku yang ditulis oleh Dr. Yuke Ardhiati penulis Bung Karno Sang Arsitek (2005) ini sosok Edi Sedyawati muncul yang tercetus dalam momen estetik selama 9 windu seorang Edi Sedyawati. Edi Sedyawati lahir di Malang 23 Oktober 1938. Profesor Arkeologi ini juga dikenal sebagai seorang penari. “Menari itu hobi dan arkeologi itu studi,” tuturnya. Dari hobinya itu beliau menjadi salah satu anggota tim misi kesenian Indonesia yang dikirim ke berbagai negara.

Namun, jangan keliru ketika Edi kecil, beliau justru tomboy. Berbusana kaos, bercelana pendek, berpotongan rambut pendek serta gemar memanjat pohon mirip anak laki-laki (hal.39) Mungkin ‘ketomboyan’ pada masa kecil inilah yang berbalut unsur petualangan menjadi salah satu unsur pemikat Edi di dunia arkeologi. Seperti halnya Indiana Jones.

Pengalaman Edi menjadi ‘penari’ diungkapkan oleh novelis Nh. Dini yang masih ada hubungan sanak dengan Edi. Dalam salah satu bab di buku ke-2 Nh. Dini ‘Padang Ilalang di Belakang Rumah’ dituliskan pengalaman masa kecil penulis dengan Edi yang sering bermain bersama. Dalam kisah itu diungkapkan pula sosok Edi yang senang bermain sebagai ‘penari’ sekaligus ‘perusak kasur’ (hal.152-154)

Ketertarikannya pada benda purbakala muncul sewaktu masih duduk di bangku SMP. Ketika itu ia diajak ayahnya berjalan-jalan ke Jawa Tengah, di sana ia melihat candi-candi (hal.48). Pendidikan arkeologi ditempuhnya di Universitas Indonesia. Dari jenjang sarjana hingga doktoral. Edi menyelesaikan disertasi dengan pokok penelitian Gaya dalam Seni Arca khususnya arca Ganesha. Disertasinya 9 tahun kemudian diterbitkan dalam bahasa Inggris oleh KITLV, Belanda (hal.53)

Sehubungan dengan minatnya pada bidang arkeologi, ada pengalaman menarik. Dalam salah satu kesempatan pada 1962 ketika acara sarapan pagi di Istana bersama rombongan penari ISTI. Seperti biasa Bung Karno menanyakan studi. Ketika dijawab arkeologi, spontan Bung Karno bertanya: “Bagus mana relief Sri Rama yang sedang membentang busur, di Candi Prambanan atau di Candi Penataran?” Edi Sedyawati langsung menjawab,”Bagus di Candi Penataran, Pak!” Bung Karno rupanya terkesan dengan jawaban lugas tersebut (hal.58)

Buku biografi mini ini juga dihiasi dengan ‘kado’ berupa karya baik tulis maupun visual. Mulai dari putera tercinta, para murid, rekan, sahabat hingga penjahit langganan.

Kado tersebut berwujud, mulai dari yang (agak) serius hingga yang ringan. Kado yang (agak) serius dipersembahkan Prof. Dr. Sri Hastanto ‘Embat-Embatan Soal ‘Embat’ dengan Prof. Edi’ (hal.131). Disebut serius karena selain dilengkapi dengan tabel juga dengan daftar pustaka. Kado yang ‘ringan’ misalnya kenangan Nunus Supardi, Mantan Sekretaris Dirjenbud mengenai kekeliruan nama Edi. Seharusnya nama Edi ditulis Èdi. Orang kerap keliru menyangka bahwa Ibu Edi adalah seorang pria. Bahkan surat resmi dari negara lain tertulis di alamat sampulnya maupun dalam: Dear Sir atau Mr. Edi Sedyawati, Director General for Culture. Pengirim dari dalam negeri pun kerap keliru: Kepada Yth Bapak Prof. Edi Sedyawati, Direktur Jenderal Kebudayaan (hal.109) Hal yang tak kalah lucunya adalah ketika Ibu Edi mendapat undangan untuk hadir dalam acara penobatan ‘Pria berbusana terbaik’ (hal.110)

Kado menarik lainnya adalah karya Dr. Iwan Gunawan dalam poster iklan ‘Prof Edi as Model Iklan Jadul’. Di situ Ibu Edi dijadikan model iklan mobil keluaran Italia, Fiat 1100 keluaran tahun 1959 (hal.169). Visualisasi Iwan, pengajar IKJ dan praktisi periklanan ini memperkuat tulisan Dr. Supratikno Rahardjo, pengajar arkeologi FIB UI yang juga menyinggung betapa setianya Fiat antik tersebut menemani Sang Professor (hal. 89)

Sehat selalu, Prof. Edi!

Artikel ini pernah dimuat di Kompasiana, 1 Februari 2011

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *