Ngeblog: sebuah awal

Ingatan saya melayang sebelas tahun silam. Pada penghujung tahun 2000 dan menjelang awal 2001. Saat itu saya berada di Leiden, Belanda. Sebuah kota yang tak terlalu besar dan cukup nyaman untuk belajar. Di sanalah saya berkenalan dengan aktivitas yang di kemudian hari dikenal dengan ngeblog

Menjelang liburan Natal, teman-teman di apartemen, khususnya yang tinggal di Eropa pulang ke negaranya masing-masing. Suasana liburan, khususnya Natal juga mulai terasa. Di sela-sela mengerjakan tugas kuliah dan persiapan ujian, saya semakin getol mengunjungi lab computer kampus. Selain mengerjakan tugas, saya bisa mengakses internet sepuasnya. Ini merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki sebagai mahasiswa sekarang. Maklum saja, wifi dan sebangsanya belum begitu banyak.

Setelah browsing sana-sini, saya pun sampai ke sebuah website dalam bahasa Belanda. Kalau tidak salah www.etnoka.nl. Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Di situ disebutkan, mereka yang berhasil mengunggah karya (dalam bentuk puisi) sebanyak mungkin dalam jangka waktu tertentu, boleh memilih satu CD musisi Belanda yang ngetop. Syaratnya, karya tersebut harus dikomentari oleh banyak orang dan mendapatkan banyak bintang. Terlepas, apakah komentarnya berisi cacian atau pujian.

Kesempatan saya tinggal beberapa bulan karena awal 2001 saya harus kembali ke Indonesia. Tanpa pikir panjang, saya masukkan karya puisi saya dalam bahasa Belanda. Hampir setiap hari (tiga kali sehari) saya unggah karya saya. Temanya pun beragam. Mulai dari cinta, pengalaman berlibur ke Belgia sampai hal sepele seperti sampah di apartemen.

Komentar pun bermunculan. Bintang pun saya peroleh. Ada yang memuji (biasanya puisi bertema cinta), ada pula yang memberikan komentar pedas. Salah satunya bahkan ada yang meminta pengelola situs melarang saya mengunggah karya-karya saya dengan alasan:  “Ini bukan taman hiburan,” tulisnya dalam bahasa Belanda. Namun, pihak pengelola tak melarang saya karena toh memang saya tak melanggar apa pun. Saya pun terus menulis.

Tanpa terasa batas waktu terakhir tiba dan jumlah karya saya sudah melewati batas yang ditentukan. Saya pun berhak mendapatkan 1 keping CD gratis pilihan saya. Saya memilih CD Blof album Watermakers. Blof merupakan satu kelompok musik dari Belanda yang jenis musiknya mengingatkan saya pada Counting Crows dari Amerika. Kelak kedua kelompok itu berkolaborasi menghasilkan satu lagu campuran berbahasa Belanda dan Inggris (Holliday in Spain)

Sayang, sampai saya pulang ke Indonesia, paket CD itu belum saya terima. Saya pun sempat melupakannya. Tak diduga rupanya paket CD itu sampai ke apartemen beberapa hari setelah saya pulang ke Indonesia. Atas jasa baik teman saya yang pulang ke Indonesia belakangan CD itu akhirnya sampai ke tangan saya dengan utuh.

Hal yang saya sayangkan adalah ketika saya mencoba menelusuri situs itu lagi rupanya sudah tidak ada. Bodohnya, saya tidak mencatat karya-karya saya tersebut. Saya langsung menuliskannya di website dan mengunggahnya. Satu hal yang tak akan saya ulangi.

foto: nltracks.nl

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *