Peta Kuno, Kolonialisme dan Karaeng Pattingalloang

Menjelang kunjungan ke Antwerpen tahun ini berikut tulisan saya mengenai kenangan ketika berkunjung ke sana beberapa tahun silam.

Apa jadinya jika para kolonialis tidak pernah menginjakkan kaki di daratan Nusantara? Pertanyaan iseng ini tiba-tiba muncul di benak pada saat menyaksikan koleksi peta-peta kuno milik perpustakaan Universiteit Antwerpen, Belgia beberapa tahun silam.
Koleksi peta-peta kuno milik Claudius Ptolemeus, Plantijn, Mercator (abad ke-16) , Blaeu (abad ke-17) , Johan Niehofs serta Philips Vandermoelen (abad ke-19) khusus diperlihatkan pada rombongan kami, para dosen dari Indonesia.

Koleksi peta tersebut menurut kepala perpustakaan merupakan koleksi kebanggaan mereka. Bahkan salah seorang ahli peta kuno yang selama sepuluh tahun lebih meneliti peta-peta kuno untuk meraih gelar doktornya dipanggil untuk menjelaskan semua koleksi pada kami.

Apa hubungannya peta dan kolonialisme? Bila kita kaji, kolonialisme ternyata dimulai dari sebuah gulungan gambar penuh simbol dan arah navigasi yang kita kenal sebagai peta. Tanpa peta mustahil para (calon) kolonialis sampai di Nusantara tercinta ini. Sebab sesuai dengan fungsinya menurut Thomas Suarez dalam Early Mapping of Southeast Asia, peta-peta itulah yang membantu mempercepat masuknya bangsa Eropa ke wilayah Asia.

Pada abad ke-15 dan 17 peta kuno memegang peranan penting dalam sejarah penaklukan suatu wilayah. Pada masa itu para petualang Eropa saling bersaing mencari daerah yang menghasilkan rempah-rempah, komoditi bergengsi yang harganya di Eropa sangat mahal. Begitu mahalnya rempah-rempah itu hingga di Belanda muncul istilah peperduur untuk mengungkapkan sesuatu yang sangat mahal (pepper = lada/rempah, duur = mahal).

Negara-negara Eropa, Belanda, Portugis, Spanyol, Italia, dan Jerman berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin. Para pelaut berpengalaman dan ahli peta (kartografi)  dikerahkan. Semua biaya ditanggung oleh negara. Tak mengherankan jika para ahli peta muncul dari negara-negara tersebut yang berusaha memetakan wilayah Nusantara seakurat mungkin (Tempo, 3 September 2000)

Bagi negara yang berhasil memetakan suatu wilayah di Asia, peta-peta itu disimpan bak dokumen rahasia dan dijaga dengan ketat supaya tidak jatuh ke tangan para negara saingan.

Lalu ingatan melayang pada satu nama, Jan Huygen van Linschoten. Nama itu pernah disebut-sebut oleh dosen mata kuliah “Negeri Belanda Sebelum Abad ke-19” saya di Universiteit Leiden sebagai salah seorang pembuat peta yang handal pada abad ke-16.

Dalam sebuah misi rahasia Jan Huygen berusaha masuk dan menyamar menjadi sekretaris biarawan di Gowa, India. Tujuannya untuk mendapatkan informasi rahasia mengenai jalur ke Timur. Pada abad ke-16, Gowa merupakan pangkalan kapal-kapal Portugis dan kantor pusat daerah jajahan Portugal. Saat itu hanya Portugal yang mengetahui rute ke Gowa (India) dan daerah timur sekitar Asia (Malaka).  Portugal juga menutup semua pelabuhannya bagi Belanda.

Jan Huygen dengan taruhan nyawanya akhirnya berhasil mendapatkan informasi tentang arah menuju Asia . Hasil jerih payahnya diterbitkan dalam Itinerario, Voyage ofte Schipvaert naer Oost ofte Portugaels Indiens.
Dengan peta buatan Jan Huygen van Linschoten itu, Cornelis Houtman mengetahui adanya selat yang merupakan jalan pintas menuju pulau Jawa. Selat itu kelak bernama Selat Sunda. Dan pada tahun 1596, orang Belanda pertama menapakkan kakinya di Banten. Ini yang disebut cikal bakal kolonialisme di Nusantara. Bagaimana bila mission imposible van Linschoten itu gagal? Mungkin akan lain ceritanya.

Kisah menarik dituturkan oleh Adrian B. Lapian, pakar sejarah laut Indonesia, mengenai pengalaman kapal-kapal Belanda pertama yang datang ke Nusantara. Oleh para pembesar Banten, para kapten kapal diminta menunjukkan letak negeri Belanda di peta. Hal serupa ditanyakan pula di Bali. Saat itu, Aernout Lintgens tidak ingin memberikan kesan kalau negeri asalnya terlalu kecil. Ia lalu menunjukkan sebagian besar Eropa: “...wees ick hem Neerlandt, Duijtslandt, Oestlandt, Noorweghen, ende een stuck van Moscovijen, dan gaff het all de naam van Hollandt…” (aku menunjukkan Nederland, Jerman, negara-negara Baltik, Norwegia dan sebagian dari Rusia, lalu semuanya aku beri nama Belanda…)

Menurut catatan para pelaut Portugis pada awal abad ke-16 ternyata para pelaut Nusantara sudah mengenal peta untuk berlayar. Rupanya para pelaut Portugis itu berusaha keras memperoleh peta-peta tersebut. Albuquerque pernah mengirim sebuah peta yang bertuliskan huruf Jawa kepada rajanya.

Sayang, kapal Albuquerque yang membawa peta itu tenggelam sehingga kita tak memiliki bukti tentang pengetahuan pelayaran Jawa pada masa itu. Misalnya berapa jauh mereka bisa berlayar dan sejauh apa pengetahuan pada waktu itu tentang geografi dan kartografi Nusantara. Hanya keterangan

Albuquerque inilah yang memberikan indikasi tentang penggunaan peta dalam pelayaran Nusantara. Tidak mustahil jika kemajuan kartografi Portugis mengenai wilayah Asia Tenggara sebenarnya berdasarkan peta-peta tersebut. Data penting tersebut kemudian ‘dicuri’ oleh Jan Huygen van Linschoten di Gowa, India.

Di masa Verenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada abad ke-17 DI Belanda ada pembuat peta yang sangat terkenal, Willem Janszoon Blaeu serta kedua anaknya Johannes Blaeu dan Cornelius Blaeu. Semula, ayah dan anak ini berkecimpung dalam usaha pembuatan globe dan alat-alat pengetahuan seperti teropong bintang. Lalu mereka juga merintis usaha pembuatan peta yang dianggap mempunyai prospek bagus.

Pada 1608 Willem Janszoon Blaeu membuat empat buah jilid peta dalam Het Licht der zee Vaert. Lalu pada 1635 Blaeu menerbitkan peta Asia Tenggara berjudul India qua Orientalis Dicturet Insulae Adiacentes. Pemerintah Belanda pun mengangkat keluarga Blaeu pada bulan Januari 1633 sebagai kepala pemetaan VOC. Merekalah yang membuat peta wilayah Nusantara pada 1630-1670.

Nama Blaeu kembali mengingatkan saya pada nama seorang bangsawan di Makassar, Karaeng Pattingalloang. Beliau adalah perdana menteri dan penasehat utama Sultan Muhammad Said (1639-1653). Bangsawan ini telah belajar bahasa Latin, Spanyol dan Portugis serta memiliki sebuah perpustakaan yang luar biasa, dengan koleksi buku dan atlas Eropa, demikian tulis Denys Lombard dalam Le Carrefour Javanais.

Karaeng Pattingalloang pada 1644 pernah meminta dikirimkan dua bola dunia terbuat dari kayu atau tembaga yang kelilingnya 157 hingga 160 inci, sebuah peta dunia yang besar dengan keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis atau Latin, sebuah atlas yang melukiskan seluruh dunia dengan peta-peta yang keterangannya ditulis juga dalam bahasa Latin, Spanyol atau Portugis, dua buah teropong berkualitas terbaik serta beberapa alat peraga lainnya.

Pada tanggal 15 November 1650, bola dunia yang dibuat oleh Blaeu baru tiba di Batavia dan dikirimkan ke Makassar pada 13 Februari tahun berikutnya.
Karaeng Pattingalloang terkenal karena ketinggian intelektualitasnya. Pada saat itu ia banyak membaca buku-buku ilmu pengetahuan terbitan Eropa. Minatnya pada ilmu pengetahuan cukup tinggi. Suatu hal yang bahkan jarang ditemukan pada generasi muda kita saat ini.  Mengenai nasib globe itu selanjutnya tak ada yang tahu. Pada waktu terjadi perang dengan Belanda, globe itu turut lenyap. Tak jelas nasibnya.

Nama Pattingalloang sendiri lumayan begitu tenar hingga seorang penyair terkenal di Belanda, Joost van Vondel sengaja menulis lirik khusus untuknya.
Dien Aardkloot zend’t Oostindisch huis,’
Den Grooten Patangoule t’huis,
Weins aldoossnuffelende brein,
Een gansche wereld valt te klein.

(Parlemen Hindia Timur mengirim bola dunia pada Pattingaloang agung, yang benaknya selalu dipenuhi rasa ingin tahu, mendapatkan seluruh dunia ini terlalu kecil)

Kisah tentang Karaeng Pattingalloang ini saya ceritakan disela-sela penjelasan sang doktor dari Belgia itu yang ternyata menghabiskan waktu sepuluh tahun meneliti peta-peta tua. Sebelum kami meninggalkan ruangan tempat koleksi-koleksi peta kuno dipamerkan, saya sempat bertanya pada sang doktor apakah ia sudah pernah ke Indonesia. Sambil tersenyum ia menggeleng. “Sepuluh tahun menggeluti peta-peta kuno tapi belum pernah menginjakkan kaki di Nusantara”, gumam saya.

Artikel ini dimuat dalam buku Kue Bugis Kanre Jawa (2011)

gambar peta: www.gutenberg.net.au

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *