Selamat Jalan Pak Lei (Prof. R.Z Leirissa)

“Memang pada masa itu ada turis yang datang?,” tanya Professor R.Z. Leirissa ketika saya mengajukan usulan tesis mengenai turisme pada masa kolonial di Hindia-Belanda.  Saya agak gelagapan tapi beruntung sebelum saya mengajukan usulan itu, saya pernah riset di Arsip Nasional Jakarta dan Perpustakaan Nasional. Maka saya jawab dengan yakin: “Ada, Prof!”  Professor  Leirissa  tersenyum sambil mengangguk , “Oke, silakan lanjut!”

Akhirnya memang Professor R.Z. Leirissa menjadi pembaca tesis saya, dengan pembimbing utama DR. Masyhuri dari LIPI.  Sewaktu ujian seminar hasil, beberapa pertanyaan kritis dari beliau semakin mempertajam tesis saya. Sayang sewaktu ujian tesis beliau berhalangan karena harus ke luar negeri tapi sebelum ujian beliau sudah memberikan nilai.

Ada dua mata kuliah yang saya ikuti, Sejarah Asia Tenggara dan Metodologi Sejarah.  Meskipun nilai yang didapat tidak terlalu menggembirakan, saya mendapatkan banyak manfaat dari mata kuliah tersebut. Puncaknya, ketika saya mencoba memahami metode strukturistik beliau. Sepanjang perkuliahan rasanya saya tidak paham dengan apa yang dibicarakan. Beruntung, dalam sebuah seminar beliau membawakan materi satu semester.  Alhamdulillah, akhirnya saya paham juga meskipun saya tidak menerapkannya dalam tesis yang menggunakan pendekatan struktural.

Selama perkuliahan dengan beliau pun tidak ada istilah bosan.  “Cilaka tiga belas,” demikian istilah yang kerap Pak Lei (panggilan Angkatan saya untuk beliau) gunakan sewaktu memberikan kuliah. Sesekali beliau menceritakan pengalamannya ketika kuliah di Hawaii dan ketika menyusun disertasinya, Halmahera Timur dan Raja Jailolo.  Tumpukan-tumpukan arsip beliau telusuri dengan teliti, demikian uraiannya.

Dalam disertasinya Prof. Leirissa menggunakan beberapa teori sosiologi, antara lain dari Talcott Parsons, Neil Smelser, Charles Tilly dan Fernand Braudel.  Prof. Leirissa menggunakan teori Smelser untuk memahami perubahan sosial di Halmahera Timur, lalu teori Tilly untuk menganalisis pergolakan di wilayah tersebut, teori Braudel untuk memahami aspek geografis, dan teori Parsons untuk hukum sibernetika. Namun, dalam proses penulisan disertasinya tersebut, beliau menuturkan adanya perbedaan pendapat dalam hal metodologi dengan promotornya sehingga  memakan waktu lebih lama.

Sedikit mengulas metodologi strukturistik  dari Prof. Leirissa, yang saya kutip dari artikel Dr. Vincensius Yohannes Jolasa  ‘Konstruksi Sejarah  “Antara Agen dan Struktur” ‘ :

Pendekatan strukturistik menggunakan teori-teori sosiologi tertentu khususnya dengan konsep “emergency” dan “agency” dengan “belajar” dari cara kerja ilmu alam, berkaitan dengan structure of reasoning, yang tetap bertumpu pada data sejarah. Realitas yang diangkat bukan keseluruhan tetapi hanya yang disebut sebagai causal factor saja. Seperti dalam ilmu alam, gejala alam memang kasat mata tetapi sebab-sebab terjadinya tidak bisa ditangkap sepenuhnya. Tema sentral sejarawan strukturis adalah peran manusia sebagai agensi di dalam proses-proses penstrukturan sosial.”  Perhatian utama diberikan kepada “agensi”. Konsep agensi berbeda dari konsep individualistis tentang manusia dan dari konsep tindakan seperti dalam rasionalisme dan behaviorisme. Pendekatan ini berbeda dari pendekatan struktural yang bersumber dari sosiologi Talcott Parsons.

Kenangan lainnya ketika saya meminta surat rekomendasi untuk melanjutkan ke jenjang doktoral. “Mau ambil di mana?” tanya beliau.  “Amsterdam, Prof!”  Beliau mengangguk. “Kok, cuma satu?” tanya  beliau lagi ketika saya hanya menyodorkan selembar surat.  “Satu sudah cukup, Prof!” sahut saya.  “Ya, sudah.” Jawab Prof. Leirissa.  Surat itu masih saya simpan dan belum sempat dipergunakan.  Selamat jalan Professor R.Z. Leirissa! Selamat jalan Pak Lei….

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *