Catatan ‘Londo’ Hongaria di Deli

Judul : Dit Altijd Alleen Zijn: Verhalen over het leven van planters en koelies in
Deli 1914-1930

Penulis : László Székely dan István Radnai
Penerjemah : Gábor Pusztai
Kata Pengantar: Gerard Termorshuizen
Penerbit : KITLV Leiden, 2007
Tebal : 128 halaman

Memperbaiki nasib tak kenal tempat dan pelaku. Apabila dirasa nasib di negeri sendiri sulit diperbaiki maka merantau menjadi jawabannya. Demikian pula yang terjadi pada dua pemuda Hongaria, László Székely dan sepupunya, István Radnai. Mereka yang ketika itu masih berusia 22 tahun mengadu nasib ke Hindia. Hingga kelak bekerja di perkebunan tembakau dan karet di Deli.

Mereka berangkat dari Genoa, Italia pada 16 April 1914 menggunakan kapal Prinz Ludwig. Tujuannya Pantai Timur Sumatra. Di Medan, László mendapatkan pekerjaan sedangkan István terpaksa menganggur lantaran tak memeroleh pekerjaan satu pun. Oleh karena itu, setelah enam minggu luntang-lantung di Medan, István memutuskan kembali ke Eropa. Di Eropa, tepatnya 14 Juni 1917 ia menjadi tentara dan ikut Perang Dunia I dan tewas pada 1917. Sementara itu László tetap tinggal dan bekerja hingga enam belas tahun di Deli. Menariknya buku catatan petualangan awal mereka, yang ditulis István ditemukan ketika István tewas dalam pertempuran.

László Székely kelak menikah dengan Madelon Lulofs pada 1926. Lulofs adalah penulis roman terkenal Rubber (1931) dan Koeli (1932) yang menceritakan kehidupan di perkebunan karet Deli. Pasangan penulis ini kemudian kembali ke Eropa pada 1931 dan menetap di Budapest.

Selain catatan dari István Radnai, buku ini juga memuat gambar-gambar dari László Székely yang memang seorang ‘tukang gambar’ hebat. Ia pernah menjadi ilustrator untuk majalah Sumatra (1924-1930). Beberapa gambar dan lukisan cat airnya menghiasi majalah tersebut. Namun, sebenarnya sebelum 1924, namanya sebagai ‘tukang gambar’ sudah beken. Ini terbukti dari sebuah artikel di Deli Courant edisi 30 Agustus 1923 mengenai pameran karya-karyanya di Jaarbeurs (pameran tahunan) Medan.

Beberapa cerita (yang nyaris bukan fiksi) karya László Székely juga terdapat dalam buku ini. Hampir semua menceritakan pengalamannya di perkebunan atau yang pernah ia dengar. Cerita-cerita tersebut antara lain n ‘Het land der onmogelijkheden(Negeri Mustahil)’, ‘Annahat:Het verhaal van een oude planter (Annahat: Kisah pekebun tua)’, ‘Nils’, ‘Kapitein Christoffel’, ‘Romance’,’ Intermezzo’, ‘De carrière van Chaw A. Hjong’, ‘Pa Roeki’, ‘Koeli’. Khusus cerita ‘Pa Roeki’ dan ‘Koeli’ menjadi inspirasi istrinya untuk menulis roman Koeli (1938) . Bahkan nama Roeki menjadi tokoh utama roman Koeli tersebut.

Salah satu cerita László yang inspiratif adalah De carrière van Chaw A. Hjong. Ini adalah kisah seorang mantan kuli di perkebunan yang ‘kreatif’ dan ‘inovatif’ serta mampu memanfaatkan peluang. Diceritakan ketika itu datang seorang asisten baru yang ditugaskan di perkebunan. Pada waktu hari pembayaran, asisten baru itu menuntut para kuli untuk berpakaian dan tidak bertelanjang dada. Barangsiapa yang tidak mengenakan pakaian upahnya tidak dibayarkan. Karuan saja para kuli Tionghoa panik. Mereka tak mungkin pulang untuk mengambil pakaian. Di sini Chaw A. Hjong melihat ‘kesempatan’. Ia punya satu kabaja dan ia menawarkan untuk menggunakan kabajanya secara bergantian dengan ongkos sewa 10 sen per orang. Para kuli tentu keberatan karena 10 sen bukan jumlah yang sedikit. Namun, keadaan sudah mendesak, daripada upah tak dibayarkan akhirnya satu persatu kuli menyewa kabaja Chaw A. Hjong. Ada 49 kuli yang memanfaatkan kabaja itu sehingga total pemasukan Chaw A.Hjong hari itu sebesar satu dolar 99 sen (hal.96).

Sebenarnya hal yang paling menarik adalah catatan yang ditinggalkan oleh István Radnai tersebut karena melukiskan kesan pertama dua pemuda ‘londo’ Hongaria di negeri yang jauh dari tanah kelahirannya. Catatan ini menggambarkan sudut pandang orang Eropa Timur, bukan Eropa Barat atau Amerika Utara seperti yang biasa kita kenal dalam catatan-catatan mereka terhadap Hindia.

Catatan bertanggal 7 Mei 1914 menyebutkan kota Penang sebagai tempat persinggahan mereka. Di sana mereka tertarik pada ‘wandelende restaurant’ (restoran berjalan). Mereka menikmati nasi, daging dan sayuran di mangkuk yang dicampur oleh penjualnya dengan tangan. Nasi kare, demikian sang penjual menyebutnya dan dengan beberapa sen saja, kedua pemuda itu sudah kekenyangan (hal.25)

8 Mei 1914, mereka merapat di Belawan. Dari sana mereka naik kereta menuju Medan. Tentunya mereka harus membeli karcis kelas satu karena ‘hanya orang Eropa saja yang harus menggunakan kelas satu’, tulis István. Mereka melewati sungai lebar dan di tepi sungai sekitar sepuluh sampai dua puluh buaya sedang berjemur. Di dekat jalur kereta beberapa kera asyik berloncatan dari satu pohon ke pohon lainnya. Perjalanan itu memakan waktu dua puluh menit (hal.27)

Mereka lantas menginap di Hotel Medan, hotel penuh gaya. Tak ada selimut di atas tempat tidur. Hanya dua bantal keras dan sebuah bantal yang lebih mirip sosis. Guling, demikian orang sini menyebutnya. Kita harus mengepit guling itu di antara kedua paha untuk menghilangkan rasa dingin (hal.28)

Keadaan geografis dan penduduknya menjadi amatan István Radnai yang memang seseorang yang cermat. Mungkin dari buku yang pernah dibacanya, ia mengetahui jika ada orang di sini yang suka makan daging manusia. Ia pun penasaran dan bertanya pada salah seorang pembantu di hotel ‘Boy, ada makan sudah orang daging?” Maksudnya “Boy, apa kamu pernah makan daging orang?”. Pembantu itu menjawab: “Ia Tuan, sa tukali. Daging orang banjak baik!” (Ya tuan, sekali. Daging orang enak sekali). Busyet, pikir István Radnai. Kalian punya selera yang aneh (hal.33).

Catatan István Radnai tentang Hindia berakhir pada 14 Juni 1914 ketika ia memutuskan untuk kembali ke Eropa melalui rute yang sama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *