Penggila Buku

oude boeken Apa yang akan terjadi jika seseorang begitu terobsesi pada buku-buku? Pada deretan huruf, kata, kalimat, paragraf tercetak di atas kertas, dilengkapi dengan ilustrasi dan bersampul.  Terkadang kita tidak dapat membacanya karena tulisan di atasnya begitu buram termakan usia atau tinta yang melekat sudah tak dapat lagi dibaca.

Dia mencintai buku-buku tersebut sehingga rela melakukan apa pun demi mendapatkan buku-buku tersebut.  Aliran adrenalin mengalir kencang ketika dia berupaya mendapatkan buku-buku itu.  Pikiran kreatif berpadu dengan niat jahat . Jika perlu dia berupaya dengan tipu daya atau mencurinya.

Ada orang-orang yang sangat mencintai buku-buku hingga buku-buku yang dimiliki berjumlah ratusan hingga ribuan. Teronggok di sana. Teronggok di sini.  Menjadi kolektor atau ‘pemburu’ buku gila?

Hal tersebut mengingatkan saya pada The Man Who Loved Books Too Much (2009) yang ditulis jurnalis Allison Hoover Bartlet.  Kisah nyata tentang seorang pencuri, detektif, dan obsesi pada buku.  Bartlet mencoba menelusuri, menyelidiki John Gilkey, pencuri  buku dan Ken Sanders,  detektif yang menyelidiki pencuri tersebut.

Ketertarikan Bratlet berawal dari sebuah buku tua berusia empat ratus tahun. Buku berjudul Kräutterbuch itu ternyata terbitan 1630 karya Hieronymus Bock, seorang dokter dan ahli botani.  Sebuah buku berbobot enam kilogram bersampul papan dari kayu ek.  Ketika ditanyakan kepada agen buku langka, buku itu bernilai 3000 hingga 5000 dolar.

Saya tak bermaksud mengulas buku The Man Who Loved Books Too Much tersebut lebih lanjut. Saya hanya tak habis pikir pada orang (termasuk sang pencuri fanatik) yang begitu terobsesi pada buku-buku, khususnya buku langka.  Dia rela melakukan segala cara guna memenuhi keinginannya.

Saya memang menikmati petualangan ke toko-toko buku, atau emperan toko (seperti di Kwitang, Jakarta Pusat). Apalagi yang memiliki koleksi buku-buku langka. Namun, bukan berarti  harus mencurinya untuk memiliki.  Seperti John Gilkey yang pernah mendekam di penjara lantaran perbuatannya.

Beberapa buku koleksi saya, saya peroleh di Kwitang dengan harga murah. Saat ini harganya cukup lumayan berlipat dari harga ketika saya mendapatkannya.  Beberapa tempat di Jakarta, juga pernah saya kunjungi. Hasilnya, antara lain buku Gemar Menggambar Pak Tino Sidin saya peroleh.

Adalah suatu pengalaman penuh sensasi ketika memilih,  memilah di antara tumpukan buku-buku (tua) di  pasar loak, khususnya bila saya berkesempatan ke luar negeri. Apalagi jika berhasil mendapatkan buku-buku menarik. Sehingga saya tak akan melewatkan kesempatan itu.

(bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *