Plesiran Tempo Doeloe (lagi)

Tanggal 23 Juni 2019 saya kembali terlibat dalam kegiatan Sahabat Museum yang kali ini bekerjasama dengan Museum Sejarah Jakarta dengan tema Kisah Perjalanan 400 Tahun Batavia-Jakarta. Acara tersebut dibagi selama dua hari. Pada hari pertama tanggal 22 Juni 2019 dengan tema Soenda Calapa, Jacatra, Batavia. Hari kedua tanggal 23 Juni 2019 dengan tema Batavia, Djakarta, Jakarta.

Tujuh tahun yang lalu, pada tahun 2012 saya ikut menjadi narasumber. Saat itu jumlah peserta Plesiran Tempo Doeloe lumayan banyak. Ada sekitar 200 peserta yang ikut acara pada tahun 2012. Satu hal yang mengasyikkan pada acara tahun 2012 adalah kami dapat menengok Stasiun Tanjung Priok yang saat itu belum dibuka untuk umum.
Seperti pada tahun 2012, saya kembali berjumpa dengan Pak Scott Merrilees, pria berkebangsaan Australia yang telah lama tinggal di Jakarta dan penyusun buku postcard mengenai Jakarta. Pagi itu, pria yang kerap dipanggil Pak Scott datang dengan topi cowboy khas Australia. Beliau masih mengenali saya. Kami pun sejenak berdiskusi mengenai bukunya yang akan dicetak ulang dan informasi yang dia peroleh dari delpher.nl, situs surat kabar Belanda dalam jaringan. Kemudian, ia minta izin untuk sarapan sebuah apel.

Seperti arahan dari Broer Ade Purnama (Adep), saya akan membahas tema turisme di Batavia, terutama kejayaan turisme 1908-1942. Dari jadwal acara yang diberikan kepada saya, ada beberapa tempat yang berkaitan dengan kegiatan turisme di Batavia. Antara lain penjelasan tentang transportasi (mulai dari tram hingga kereta api), hotel-hotel di Batavia, kawasan Harmonie dan Molenvliet, Hotel Sriwijaya, Gedung KPM, Gedung PLN, Istana Daendels, Mesjid Cut Meutia (kawasan Bouwploeg/Boplo) dan gedung Bataviasche Kunstkring (Immigratie Dienst).

Acara hari Minggu tanggal 23 Juni itu cukup padat, dimulai sekitar 8.30 dan selesai pukul 16.30. Di tengah cuaca panas Jakarta kami berkeliling, untungnya kami disediakan oleh panitia dua bis besar dengan berpendingin udara. Namun,seperti tidak mengindahkan saran dalam buku panduan awal abad ke-20 yang menyarankan untuk berangkat lebih pagi guna menghindari panas matahari, kami justru memulai acara setelah matahari muncul.

Saya menyampaikan beberapa informasi tentang situasi Batavia, terutama kegiatan turisme. Beberapa informasi merupakan teaser dalam buku saya tentang turisme masa kolonial yang akan terbit akhir tahun ini atau awal tahun depan. Untuk informasi lengkapnya, saya berharap para peserta membacanya dalam buku tersebut. Antara lain kebiasaan-kebiasaan yang diinformasikan kepada para calon turis yang akan mengunjungi Hindia-Belanda, jenis hotel di Batavia berdasarkan periode, dan rijsttafel dalam turisme di Hindia-Belanda.

Dibandingkan acara pada tahun 2012, menurut saya acara pada tahun 2012 lebih pas dan sesuai. Pada tahun 2012, bentuk acaranya seperti gabungan acara pada tahun 2019. Periode Soenda Calapa hingga Jakarta dibahas dalam satu hari. Ditambah dengan jumlah peserta yang banyak. Seingat saya ada sekitar 5 atau 6 bis yang membawa peserta. Peserta dalam acara tanggal 23 Juni lalu ada sekitar 100 peserta. Mulai dari anak-anak hingga para senior ikut menikmati plesiran tempo doeloe.

Berkaitan dengan gaya bangunan dari berbagai bangunan yang kami kunjungi, penjelasan diberikan oleh Mbak Nadia Purwestri dari Pusat Dokumentasi Arsitektur sehingga menambah dan melengkapi pengetahuan para peserta tentang Batavia, Djakarta, dan Jakarta. Semoga peserta puas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *