Indonesia berdoa, beraksi dan bersiap

bencana alam di Indonesia, Deltawerken, bersiap, Indonesia beraksi, Indonesia bersiap

Judul artikel ini meminjam judul buku Eat, Pray, Love karya Elizabeth Gilbert yang telah difilmkan dan dimainkan oleh artis Julia Roberts. Lalu saya ubah menjadi Pray, Act, Prepare.  Inilah yang seharusnya dilakukan oleh bangsa Indonesia sekarang.

Continue reading “Indonesia berdoa, beraksi dan bersiap”

Kisah Pedagang Keju

Judul        :  Kaas – Keju
Penulis        : Willem Elsschot
Penerjemah    : Jugiarie Soegiarto
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2010
Tebal        : 173 hlm

“Coba kamuorang kasih tunjuk di mana itu ekstrimis. Nanti kitaorang kasih keju en susu!”. Inilah dialog dari serdadu Belanda yang kerap kita dengar dalam film-film berlatarbelakang perang kemerdekaan Indonesia. Coba perhatikan imbalan yang diimingkan. Keju dan susu. Keju, jelas bukan produk Indonesia.  Oleh karena itu iming-iming serdadu Belanda kepada penduduk pribumi dapat meruntuhkan ‘iman’: “Kamuorang kasih tunjuk kitaorang di mana itu ekstrimis sembunyi? Nanti kitaorang kasih kamuorang keju”

Keju. Itulah tema yang diangkat buku yang berjudul Kaas (keju). Jangan terkecoh. Buku ini bukan buku kuliner yang membahas seluk-beluk pembuatan keju. Namun, buku ini tentang keju.

Continue reading “Kisah Pedagang Keju”

Het koloniale beschavingsoffensief in Indië

Titel                     : Het koloniale beschavingsoffensief: Wegen naar het nieuwe Indië 1890-1950
Redacteur        : Marieke Bloembergen & Remco Raben
Uitgever           : KITLV, Leiden 2009
Pagina’s              : 361 blz

Dit boek verschijnt ter gelegenheid van het afscheid van Elsbeth Locher-Scholten van de Universiteit Utrecht. Veertien auteurs in deze bundel zijn Petra Groen, Marieke Bloembergen, Sita van Bemmelen, Henk Schulte Nordholt, Pieter Drooglever, Jur van Goor, Tessel Pollman, Berteke Waaldijk, Susan Legêne, Esther Captain, Remco Raben, Hans Meijerm, Bob de Graaff,  en Marten Kuitenbouwer.  Ze onderzoeken de tegenstrijdigheden in het ontwikkelingsbeleid en vooruitgangsdenken van het koloniale tijdperk, en de uiteenlopende percepties van hun nieuwe Indië.
Continue reading “Het koloniale beschavingsoffensief in Indië”

Oeroeg di Binus International School

Binus International School Simprug, bincang novel Oeroeg 2010, Novel Oeroeg, diskusi novel Oeroeg 2010,

Satu surat masuk ke alamat surat elektronik saya. Isinya tawaran untuk mengisi acara diskusi buku di sebuah sekolah di kawasan Simprug. Saya diminta menyampaikan uraian tentang perkembangan sastra Belanda secara umum di Indonesia yang dikaitkan dengan novel Oeroeg.
Continue reading “Oeroeg di Binus International School”

Depok retroversi

Jika dihitung secara formal (dibuktikan dengan kartu identitas), sudah lebih dari lima tahun saya tinggal di kota Depok ini. Kalau dihitung secara tidak formal, lima tahun ditambah tujuh tahun (masa studi dan masa magang) maka menjadi dua belas tahun. Cukup lama bukan?

Depok sekarang berbeda dengan Depok delapan belas tahun silam. Ketika saya mulai menginjakkan kaki di sini untuk mengangsu ilmu. Dulu udaranya sepertinya lebih segar. Pukul 6.30 ketika itu di sela-sela pepohonan karet masih tampak kabut dan tampak tetesan embun.

Soal macet jangan ditanya. Oleh karena itu jika tidak terlalu penting atau memerlukan pertemuan fisik, saya enggan meluncur ke Jakarta. Durasi perjalanan pergi dan pulang membuat jiwa tertekan. Maka untuk ‘urusan bisnis’ saya lebih senang menggunakan teknologi (jika memungkinkan).

Saya pernah mengalami sendiri pengalaman, berangkat ketika matahari belum menampakkan dirinya dan kembali ketika mulai terbenam. Berangkat dan pulang disambut antrian kendaraan alias macet. Menyebalkan dan menjemukan tapi itu lah kenyataannya sekarang.

Jangankan delapan belas tahun silam, lima tahun lalu saja situasi dan kualitas udaranya jauh berbeda. Ketika itu saya masih bisa menghirup udara bersih di pagi hari dengan leluasa. Genangan air jika hujan tak terlalu banyak. Namun, melihat situasi sekarang sepertinya harus dipikirkan lagi bagaimana situasi lima tahun yang akan datang.

Biar begitu saya sudah telanjur sayang dan cinta dengan kota ini. Kota yang dulu tidak pernah saya bayangkan akan saya tinggali dan menjadi kota kelahiran dua buah hati saya.

Mungkin saja kelak kota ini hanya menjadi persinggahan atau sekedar tempat saya membagi ilmu karena kami telah menemukan ‘sarang’ lain yang masih ‘perawan’ dan mungkin lebih manusiawi.

Nyai, Nenek Moyang Kaum Indo

Judul             :  De njai, Het concubinaat in Nederland-Indië
Penulis         :  Reggie Baay
Penerbit      :  Athenaeur-Polak & Van Gennep
Tebal             :  302 hlm

Apa hubungan antara Nyai dan Kaum Indo?  Dalam salah satu kesempatan Professor Pamela Pattynama, guru besar luar biasa Universiteit van Amsterdam mengutip kalimat dari penulis buku ini, Reggie Baay. ”Nyai adalah nenek moyang kaum Indo Eropa.” Kalimat ini sebenarnya berasal dari Rob van Nieuwenhuys.

Apabila kita menyebutkan kata  ’nyai’ pada masa kolonial, kemungkinan reaksi orang akan beragam. Ada yang tersenyum kecut, memasang wajah sinis atau meremehkan dan mungkin saja mengangkat bahu. Enggan membicarakannya lebih lanjut. Nyai pada masa kolonial kerap disandingkan dengan urusan dapur dan kasur yang berfungsi sebagai ’teman’ bagi para pria Eropa kesepian di tanah surga.
Continue reading “Nyai, Nenek Moyang Kaum Indo”

Decolonization of Indonesian economic

Judul        :  Indonesian economic decolonization in regional and international perspective
Editor        : J. Thomas Lindbald & Peter Post
Penerbit    : KITLV, Leiden 2009
Tebal        : 212 hlm

This eight essays in this book provides insights into the complex process of economic decolonization in Indonesia from a variety of perspectives. This collection of essays draw on a wide range of primary source materials consulted in Dutch and Indonesian archives. They present detailed evidence of waht economic decolonization entailed, especially during the transfer of sovereignity in 1949 and the nationalization of Dutch companies in 1949 and the nationalization of Dutch companies in 1959.
Continue reading “Decolonization of Indonesian economic”

Selamat Jalan Pak Lei (Prof. R.Z Leirissa)

“Memang pada masa itu ada turis yang datang?,” tanya Professor R.Z. Leirissa ketika saya mengajukan usulan tesis mengenai turisme pada masa kolonial di Hindia-Belanda.  Saya agak gelagapan tapi beruntung sebelum saya mengajukan usulan itu, saya pernah riset di Arsip Nasional Jakarta dan Perpustakaan Nasional. Maka saya jawab dengan yakin: “Ada, Prof!”  Professor  Leirissa  tersenyum sambil mengangguk , “Oke, silakan lanjut!” Continue reading “Selamat Jalan Pak Lei (Prof. R.Z Leirissa)”

Pertengahan tahun

Tak terasa sudah enam bulan di tahun 2010 ini.  Sekarang sudah bulan Juni. Komitmen dan rencana yang dibuat pada awal tahun mulai dilihat lagi. Ada yang belum  terwujud, separuh, sepertiga, seperempat, seperlima bahkan ada yang sama sekali belum terwujud. Masih sekedar wacana, demikian kata pejabat atau tokoh di televisi. Kalau sudah demikian, harus dikuatkan lagi nawaitu dan komitmen yang pernah terucap dan tertulis. Supaya tidak keluar jalur dan menciptakan keresahan publik di rumah. Continue reading “Pertengahan tahun”