Bukan Main(an)

Hampir setahun kita berada dalam kondisi pandemi. Kegiatan di luar rumah banyak yang sangat dibatasi mengingat situasi belum membaik. Terlalu lama berada di rumah memaksa orang mencari kegiatan untuk menghindari kebosanan. Selain kegiatan rutin yang berhubungan dengan pekerjaan, melakukan hobi merupakan cara mengisi waktu luang selama pandemi.

Dari sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Universitas Indonesia (UI) selama delapan bulan, sejak bulan Maret hingga November 2020 ditemukan berbagai kegiatan atau hobi baru. Penelitian tersebut dilakukan dengan melakukan pengamatan kegiatan masyarakat di media sosial Twitter. Menurut salah satu peneliti UI, Devie Rahmawati, penelitian tersebut menggunakan radar inventory. Alat itu merupakan alat pemindai percakapan sosial di dunia digital. Setiap bulan, diamati sekitar 140 juta tweet berbahasa Indonesia.

Hobi baru atau kegiatan yang dilakukan selama delapan bulan masa pandemi di Indonesia adalah memelihara hewan peliharaan, seperti kucing dan ikan cupang. Lalu menata rumah, terutama untuk menjadikan rumah sebagai tempat bekerja dan belajar (sekolah) selama masa bekerja dan belajar dari rumah. Kegiatan lain adalah berolahraga dan yang paling populer adalah bersepeda. Kegiatan berikut adalah memasak dan membuat kue. Kegiatan lainnya menonton film, berkebun, dan membaca buku.

Dari kegiatan-kegiatan tersebut, saya melakukan beberapa kegiatan, seperti menata rumah (mengatur tempat untuk mengajar dari rumah), berolahraga (berjalan kaki pada pagi hari sekaligus berjemur), memasak dan membuat kue (pada awal masa pandemi), menonton film (berlangganan Netflix), berkebun (menanam cabai namun, hingga sekarang belum berbuah). Untuk membaca buku, bagi saya ini bukan kegiatan baru karena sebelum pandemi kegiatan ini sudah rutin dilakukan.

Oleh karena kegiatan memelihara hewan peliharaan tidak direstui oleh ‘ibu negara’ sekaligus ‘menteri keuangan’, maka kegiatan memelihara dialihkan pada obyek yang lain. Sebenarnya kegiatan ini yang kemudian menjadi hobi sudah sejak lama saya lakukan. Sekitar tahun 2006 saya memiliki hobi mengoleksi diecast model mobil. Mobil yang menjadi fokus saya adalah mobil-mobil yang pernah menjadi bagian hidup saya sejak kecil, seperti Gaz, Landrover series, Volkswagen Beetle, Toyota Land Cruiser, Mazda, Datsun. Hal ini pernah saya sampaikan ketika bergabung dalam sebuah forum IndoDiecast, sebuah forum khusus pencinta diecast. Panggilan bagi sesama anggota adalah om (dari bahasa Belanda oom = paman). Hal yang saya ingat dan menurut saya sangat menarik adalah berbagai diecast hasil kasteman para om yang disajikan di forum. Bahkan, sejak 2010 saya menjadi anggota Tomica Fan Club Indonesia dengan nomor anggota 332.

Hobi ini sempat terhenti ketika saya mulai mengikuti program doktoral dan mulai menyusun hasil penelitian. Namun, sesekali jika pergi ke pusat perbelanjaan, beberapa diecast yang menarik hati dan memikat mata di ‘gantungan’ langsung ‘diserok’. ‘Perburuan’ diecast menjadi kegiatan mengasyikkan. Bahkan ada beberapa diecast yang saya peroleh ketika bertugas di luar kota dan luar negeri. Pada 2013 saya memiliki blog yang khusus membahas koleksi diecast saya.

Di pengujung 2020, hobi lama kembali bersemi pada masa pandemi ketika melihat youtube para pemburu dan kolektor diecast. Banyak hal menarik sehubungan dengan kegiatan mengoleksi diecast ini yang ternyata bukan sekedar main(an). Beberapa jenis dan merek mobil diecast menjadi incaran para kolektor yang dapat bernilai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Sejauh tidak menganggu anggaran ‘negara’ kegiatan memelihara diecast ini mendapat restu dan dukungan penuh. Saya membongkar koleksi diecast di kamar kerja dan ternyata ada beberapa diecast yang merupakan ‘harta karun’ dan menjadi incaran. Salah satunya adalah JDM (Japanese Domestic Market), mobil-mobil merek Jepang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *