Kisah Saidjah-Adinda untuk Pariwisata

Tahun 2019 lalu saya mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan simposium dalam rangka Festival Seni Multatuli di Rangkasbitung, Lebak. Hasil dari simposium tersebut berupa artikel dengan judul ‘Max Havelaar Milenial di Indonesia dan Belanda’. Tahun 2021 ini saya kembali mendapatkan kesempatan ikut berpartisipasi. Meskipun dilakukan secara daring setidaknya kesempatan berharga ini jangan sampai terlewatkan. Apalagi tema yang ditawarkan sesuai dengan minat saya yaitu pariwisata. Tahun ini saya menyampaikan artikel berjudul ‘Kisah Saidjah-Adinda untuk Pariwisata’. Berikut abstraknya:
Continue reading “Kisah Saidjah-Adinda untuk Pariwisata”

Saya Bangga, Saya Indonesia

Al-ḥamdu l-illāhi rabbi l-ʿālamīn saya mengucap lirih. Kebahagiaan dan kesedihan sejatinya adalah karunia Allah. Siang itu, 23 Agustus 2021 artikel opini saya meraih juara pertama dalam Lomba Penulisan Opini 76 Tahun Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh. Lomba tersebut diselenggarakan oleh Perpusnas Press.
Continue reading “Saya Bangga, Saya Indonesia”

Kenal Dahulu, Sayang Kemudian: Catatan tentang Perpustakaan Nasional

“Kenal, Pak Ong?,” tanya seorang ibu pustakawan di Perpustakaan Nasional Jakarta ketika saya memperkenalkan diri pada awal tahun 2000-an. Saya yakin yang dimaksud adalah sejarawan terkenal Ong Hok Ham. Belum sempat saya menjawab pertanyaan itu, saya dikejutkan dengan pustakawan lain yang mendorong troli dengan beberapa tumpukan bundel surat kabar sambil berkata: “Ini, Mas. Bundel surat kabarnya.” Saya terkejut. Pesanan saya adalah koleksi surat kabar Bataviaasch Nieuwsblad tahun 1908. “Ini belum semua, Mas,” kata pustakawan itu seperti ‘mengerti’ keterkejutan saya. Seharusnya saya ketika itu memesan secara spesifik tanggal dan bulannya sehingga tidak semua edisi dikeluarkan.
Continue reading “Kenal Dahulu, Sayang Kemudian: Catatan tentang Perpustakaan Nasional”

The Spice Route Narrative for Tourism in Eastern Indonesia

Preparing for the international conference on June 2021, I will present this paper.
Continue reading “The Spice Route Narrative for Tourism in Eastern Indonesia”

Antara Non-Fiksi dan Fiksi

Gerry Lane, mantan pegawai PBB yang diperankan Brad Pitt dalam film World War Z (2013) akhirnya mampu berpacu melawan waktu mencari vaksin sebuah virus mematikan setelah berhadapan dengan para mahluk mengerikan ala zombie. Namun, pandemi Covid-19 yang melanda dunia seperti berperang melawan diri sendiri. Musuh yang dihadapi pun tak tampak dan ini bukan fiksi. Kisah masih berlanjut.
Continue reading “Antara Non-Fiksi dan Fiksi”

Bukan Main(an)

Hampir setahun kita berada dalam kondisi pandemi. Kegiatan di luar rumah banyak yang sangat dibatasi mengingat situasi belum membaik. Terlalu lama berada di rumah memaksa orang mencari kegiatan untuk menghindari kebosanan. Selain kegiatan rutin yang berhubungan dengan pekerjaan, melakukan hobi merupakan cara mengisi waktu luang selama pandemi.
Continue reading “Bukan Main(an)”

Kerja Dari Rumah Saja

Fisik boleh tak kemana-mana tetapi fikiran harus tetap waras. Situasi pandemi yang masih berlangsung membuat mobilitas kita sangat terbatas. Ditambah lagi angka mereka yang positif Covid-19 di Indonesia belum memperlihatkan tanda-tanda menurun. Namun, situasi ini tidak membuat kita lantas berbuat apa-apa.
Continue reading “Kerja Dari Rumah Saja”

Saujana Pusaka Indonesia dalam Ingatan

Saujana. Satu kata yang saya dengar kali pertama pada akhir tahun 1990-an, dari sebuah lagu karya kelompok musik KLA Project. Saujana, samudra membentang sambut layarku/ Saujana, hidup di seberang gerlap mimpiku/ Mungkinkah merapat ke sana? Demikian bunyi liriknya yang ditulis oleh Katon Bagaskara, salah seorang personil KLA Project yang memilih kata-kata indah tak lazim namun puitis. Sebagai lulusan Fakultas Sastra, saya memang begitu memuja kata-kata indah yang terjalin, terangkai membentuk makna.
Continue reading “Saujana Pusaka Indonesia dalam Ingatan”

Wisata Alam Pendukung Pariwisata Berkelanjutan di Masa Adaptasi Baru

Serentak hampir semua kegiatan manusia di seluruh dunia terhenti ketika pandemi Corona mulai merebak pada akhir tahun 2019 di China. Sebelumnya, virus berbahaya itu disebut virus Wuhan, mengacu pada nama tempat ditemukannya virus tersebut. Penamaan ini seperti penamaan nama-nama penyakit yang muncul pada masa silam, seperti Flu Spanyol, Flu Hongkong. Pada bulan Februari 2020, organisasi kesehatan dunia WHO secara resmi menamakan virus tersebut Covid-19 (Corona Virus Disease-19).
Continue reading “Wisata Alam Pendukung Pariwisata Berkelanjutan di Masa Adaptasi Baru”