Djongos kassie kartoe makan!’: Kuliner dalam Pariwisata Kolonial di Jawa

Pendahuluan
Dalam pariwisata unsur kuliner (makanan) memiliki peranan yang tidak kalah pentingnya dengan unsur-unsur lain, seperti obyek, atraksi dan fasilitas. Hal ini dapat kita lihat dalam buku panduan pariwisata. Di sana kita dapat menemukan saran untuk menikmati makanan atau minuman khas setempat.  Namun, selain saran kita juga menemukan larangan-larangan untuk menikmati makanan atau minuman tertentu.

Menariknya, saran dan larangan itu ditemukan dalam buku panduan pariwisata di Indonesia sejak masa kolonial hingga kini. Hal itu jelas penting karena urusan kuliner berhubungan dengan perut dan sekaligus kesehatan.

Dalam persoalan kuliner, pemerintah atau penyelenggara pariwisata pastinya tak akan sembarangan. Tentu bukanlah promosi yang baik bagi pariwisata setempat jika turis yang datang terpaksa terbaring di rumah sakit sebelum penuh menikmati liburan yang menyenangkan dan berkesan. Meski tetap saja ada wisatawan yang mengabaikan peringatan dan larangan itu karena gairah petualangan yang besar.

Kuliner masa kolonial inilah yang akan dibahas dalam tulisan berikut. Sebagai sumber digunakan beberapa pengalaman para turis (tahun 1800-1900-an) yang menuliskan kesan dan catatan mereka mengenai urusan kuliner. Selain itu digunakan pula buku panduan pariwisata masa kolonial (tahun 1920-30-an).

Pengalaman kuliner para wisatawan
Justus van Maurik, seorang wisatawan Belanda atau tepatnya pengusaha cerutu yang menggunakan waktunya untuk berwisata mengungkapkan pengalaman kulinernya di Jawa pada 1800-an dalam Indrukken van een totok (1897). Ia menceritakan para penjual makanan di warung pinggir jalan yang menjual nasi, sayur dan gebakken vischjes (ikan goreng) dibungkus pisang-bladeren (daun pisang). Selain itu ia menceritakan juga seorang Tionghoa, penjual makanan keliling lezat dengan menggunakan pikulan. Makanan yang dijajakannya disebut kimlo atau sop tjina. Makanan itu disajikan dengan mangkok dan sendok porselen berwarna biru yang dinikmati oleh para pembeli sambil jongkok dengan uang beberapa sen saja.

Sementara itu di perkampungan orang Tionghoa dijumpai bermacam-macam warung kecil namun cukup lengkap. Mereka menjual berbagai hidangan seperti nasi, ikan goreng dan asap, dendeng, sambal, kopi, buah-buahan, kembang gula (buatan pabrik orang Tionghoa), aneka macam kue, rokok, rokok lintingan sendiri, kelapa, cabe, bermacam-macam pisang dan tentu saja minuman tuak. Yang menarik perhatian Maurik adalah bermacam-macam minuman sirup rasa buah-buahan dalam botol. Maurik berpendapat orang Tionghoa adalah peniru terbaik untuk minuman-minuman Eropa. Situasi dalam warung itu pun tak luput dari komentarnya. Ia menulis:

‘namun kita juga dapat menjumpai warung-warung yang di dalamnya terdapat kamar makan. Terdiri dari ruangan yang gelap dan berasap…’(hal.112)

Begitupula durian yang baunya menurut Maurik sangat menusuk. Sementara itu hidangan Tionghoa yang disukainya selain kimlo, Maurik menyebutkan bami, yang dinikmatinya di roemah-makan di Glodok. Bami menurut Maurik :

‘…merupakan hidangan dari sejenis makaroni tipis dengan berbagai macam bumbu,
ditambah kuah kaldu yang dicampur jamur, hati ayam, lada, irisan bawang, potongan
daging babi atau paha kodok’. (hal.114)

Maurik juga menulis bila mengingat hotel-hotel di Hindia, ia akan teringat pada kopi dan pisang yang lezat serta ‘harum’ buah nanas dan terasi.

Sebelumnya Charles Walter Kinloch (Bengal Civilian) seorang wisatawan asal Inggris yang berkunjung ke Jawa pada 1852 mengkritik hidangan dingin dan gaya makan Belanda yang menyajikankan seluruh hidangan (pembuka dan penutup) sekaligus. Menurutnya dalam Rambles in Java and The Straits in 1852 (1987), hidangan itu tidak cocok dengan perut orang Inggris. Ia juga mengkritik penggunaan sendok dan garpu serta tak dikenalnya penggunaan pisau mentega dan sendok garam, bahkan tata cara makan di perjamuan gubernur jenderal.

Sedangkan Désiré Charnay yang pergi ke Jawa mengemban misi resmi dan surat rekomendasi dari Pemerintah Hindia Belanda pada 1878, khususnya Kementrian Pendidikan, mengungkapkan pengalamannya menikmati masakan di hotel. Menurutnya sayur kari itu berisi campuran menjijikkan dari bahan-bahan seperti nasi, ditambah telur dadar di atasnya, lalu ikan asin, ayam, daging kambing, ketimun dan bistik. Di atasnya lalu disiram sambal dan dibubuhi 4 atau 5 jenis acar. Charnay pun tak mampu memakannya karena mual.  Masakan itu tak lain adalah rijsttafel yang memang dibanggakan oleh orang Belanda di Hindia.

Hidangan rijsttafel yang cukup terkenal ini mendapat perhatian dari wisatawan lain yaitu Augusta de Wit yang mengunjungi Jawa akhir 1890-an. Dalam Java :Feiten en Fantasieën (1905) , ia menyebutkan ada dua hal yang menarik perhatiannya yaitu pertama, hidangan tersebut disajikan tidak di ruang makan biasa melainkan di bagian belakang hotel. Hal lainnya adalah pakaian para pelayan pribumi yang menghidangkan rijsttafel. Dengan kaki telanjang, mereka mengenakan pakaian potongan semi Eropa yang dikombinasi dengan sarung dan ikat kepala.

‘(…) hidangan pedas itu disajikan bolak-balik dengan nyaris tak bersuara oleh para pelayan pribumi dengan kaki telanjang serta berpakaian separuh Indis, separuh Eropa.’ (hal.18)

Isi aneka hidangan rijsttafel itu sendiri juga menarik perhatian Augusta de Wit. Hidangan utamanya nasi dan ayam. Yang juga dilengkapi dengan aneka lauk pauk yang berupa daging asap, ikan dengan berbagai bumbu kari, saus, acar,  telor asin, pisang goreng, dan tak ketinggalan sambal ati ayam. Semuanya diberi bumbu cabai (hal.19).

Augusta de Wit ternyata tidak hanya menikmati hidangan di hotel, ia juga mengamati bagaimana para penduduk pribumi (di sini ia menyebutnya orang Jawa) menikmati sarapan paginya setelah mandi di kali.

‘Setelah mandi, orang-orang Jawa itu sarapan dan ini juga dilakukan
di depan umum’ (hal.113)

Ia menunjuk lokasi warung penjual makanan tersebut di daerah Tanah Abang dan Koningsplein (sekarang Jl. Medan Merdeka/Monas), daerah yang dihuni oleh penduduk pribumi. Tapi selain itu ada lagi warung-warung yang lebih kecil dan bisa dipindahkan. Mereka ada yang mangkal di pinggir kali, sepanjang kanal, di sudut-sudut jalan, di stasiun serta pangkalan sado.

‘Kita dapat menjumpai bermacam-macam warung atau yang serupa di daerah Tanah Abang dan Koningsplein serta tentu saja di daerah orang pribumi. Namun, warung yang lebih kecil atau para pedagang keliling dapat dijumpai di mana saja, di pinggir kali, di stasiun kereta, di pangkalan sado, sepanjang kanal, di pojok-pojok jalan. Tampaknya mereka itu berdagang dengan baik.’ (hal.114-115)

De Wit mengamati mereka. Pagi-pagi sekali mereka memikul dagangannya lalu aneka dagangan, piring, gelas serta botol diatur supaya menarik. Setelah menurunkan anglo untuk memasak, mulailah mereka berjualan. Ada yang menjual nasi, ikan asin dengan sambal, kue hijau yang diberi parutan kelapa berwarna putih, pelbagai macam kue yang tampaknya terasa manis berwarna-warni mencolok (oranye, merah jambu dan coklat tua) tampak kontras ketika disajikan di atas daun pisang segar berwarna hijau.

‘Semuanya telah siap di pikulan –istri penjual itu menyiapkannya di waktu subuh – dan sekarang mereka siap disajikan di atas daun pisang yang berfungsi sebagai piring dan mangkuk. Kue bulat dari tepung beras berwarna hijau dan putih  dengan parutan kelapa di atasnya, pipilan jagung berwarna oranye, selai berwarna merah muda dan kue-kue alot berwarna coklat tua.’ (hal.116)

Gambar dan cerita ‘eksotis’
Hal yang menarik adalah penggunaan kartu pos sebagai sarana promosi kuliner, khususnya makanan khas setempat. Misalnya kartu pos bergambar ruang makan Java Hotel,  ruang makan Hotel Marinus Jansen.  Ada pula kartu pos bergambar penjual nasi yang sedang dikerumuni para pembelinya, penjual soto keliling, suasana warung pinggir jalan di Jawa, bahkan ada gambar penjual roti pikulan keliling di Batavia, gambar penjual sekoteng, penjual rujak ulek , penjual buah-buahan, penjual sate.

Tidak hanya melalui gambar, tulisan Encyclopaedie van Nederlandsch-Indie 1918 menggambarkan makanan-makanan yang dikonsumsi penduduk Hindia. Misalnya hidangan daging banteng, kerbau, kambing, kijang, kelinci dikonsumsi penduduk Jawa. Daging kuda yang dikonsumsi penduduk Sumba, daging orang utan dan kera dikonsumsi penduduk Borneo (Kalimantan), daging kelelawar oleh penduduk Minahasa, daging anjing oleh penduduk Batak, Papua dan Tionghoa (hal.243).

Gambar-gambar kartu pos tersebut tentu menarik perhatian para calon wisatawan asing. Tentunya keinginan untuk mencicipi makanan ‘eksotis’ itu sudah tertanam sebelum mereka menginjakkan kaki di Hindia Belanda. Gambar-gambar itu tampaknya dibuat, baik di luar maupun dalam studio sehingga kita harus mempertanyakan apakah memang disarankan kepada para wisatawan untuk mencicipi makanan khas atau hanya sekedar daya tarik gambar ‘eksotis’ semata. Dalam pandangan orientalis, menurut Alison Blunt dan Jane Willis dalam  Dissident Geographies:An Introduction to radical ideas and practice (2000) itu semua merupakan imajinasi Barat tentang Timur yang menyajikan Timur dengan hal romantis, eksotik, misterius dan berbahaya (hal.184)

Seperti di rumah sendiri
Selain makanan dan minuman khas setempat, para wisatawan juga disediakan makanan dan minuman yang sengaja diimpor dari negara asal. Misalnya dalam Gids voor Indie dicantumkan iklan DEL MONTE yang khusus untuk makanan kaleng impor seperti asparagus, ercis hingga buah-buahan.

Menurut data dari Handboek of the Netherlands East Indies 1930 jumlah makanan-makanan kaleng yang diimpor dari luar negeri memiliki nilai cukup besar. Misalnya untuk mentega, pada 1926 bernilai 7.625 gulden dan pada 1928 bernilai 8.125 gulden; ikan pada 1926 bernilai 22.040 gulden dan pada 1928 bernilai 20.046; keju pada 1926 bernilai 1.125 gulden dan pada 1928 bernilai 1.169 (hal.323)

Selain makanan kaleng ada pula iklan peternakan sapi di beberapa kota besar seperti Batavia, Bandung dan Semarang. Misalnya Melkerij “Petamboeran” yang merupakan peternakan tertua dan terbesar serta terletak di Petamboeran, Paalmerah.  Ada pula toko FROSCHER’S di Batavia-Centrum yang menyediakan roti dan kue.  Selain yang segar ada pula susu dalam kaleng seperti iklan NESTLE’S MELK CO di Batavia-Centrum yang menyediakan susu kalengan seperti yang kita nikmati sekarang.  Begitupula dengan pabrik air mineral dan limun di kota-kota besar, seperti iklan pabrik air mineral dan limun NOVA di Bandung yang menyediakan limonades Hollandsche smaak, Aer Blanda gelijk Apollinaris, Orange Crush. Air mineral ini juga menjadi salah satu fasilitas yang disediakan di pasanggrahan selain fasilitas tempat tidur dan makan.

Tidak lengkap rasanya jika tidak tersedia minuman beralkohol. Dalam Hotel Blad terdapat iklan minuman JONKER CAPERO, minuman sherry yang diimpor. Selain itu tersedia juga Heineken’s Bier. Ada pula Haantjes Bier, Pittig Hollandsch Pils, bir pahit Belanda cap ayam.  Bisnis impor minuman keras ‘modern’ dari Eropa ini cukup menggiurkan. Dalam laporan Departement van Financiën, ribuan gulden hasil dari cukai masuk ke kas pemerintah.  Ironisnya, menurut Kasijanto Sastrodinomo dalam artikelnya ‘Mabuk-mabukan dalam Sejarah’ (Kompas, 18/3/2006) Pemerintah Hindia Belanda juga membentuk Alcoholbestrijdings-commisie (Komisi Pemberantasan Alkohol) pada 1918. Tujuannya untuk menyelidiki dan memerangi penyalahgunaan alkohol di kalangan penduduk Hindia. Sasaran utamanya adalah minuman keras tradisional yang populer di kalangan masyarakat pribumi, seperti arak, badèg, dan ciu. Menurut polisi jenis-jenis minuman beralkohol itu termasuk minuman ‘gelap’ tak berizin.

Iklan makanan kaleng, susu dan minuman tersebut jelas ingin memperlihatkan bahwa para wisatawan tidak perlu khawatir dengan masalah kuliner negara asal mereka karena hampir semua tersedia. Elsbeth Locher-Scholten dalam artikelnya mengenai makanan kaleng ini menyebutkan bahwa hingga 1900-an hidangan Eropa dinilai lebih tinggi daripada hidangan Hindia. Hidangan dari makanan kaleng ini disediakan sehari-hari, kecuali hari Minggu di kalangan keluarga totok. Para wisatawan hanya tinggal menikmati suasana Hindia ditemani makanan dari tanah air. Dengan kata lain tak ada liburan senikmat seperti di rumah sendiri.

Djongos kassie kartoe makan!

Para wisatawan pun dimudahkan dalam urusan perut ini. Dalam The Garoet Express and Tourist Guide (1922-1923) dicantumkan kosa kata dan kalimat-kalimat perintah praktis berhubungan dengan kuliner dalam bahasa Inggris, Belanda dan khususnya Melayu yang dapat digunakan mereka (hal.22).

Kalimat-kalimat perintah itu antara lain:

‘Boy bring me a Menu, a winelist, icewater, sodawater, whiskey and soda’ (Inggris)
‘Jongen breng een menu, wijnlist, ijswater, sodawater whisky soda’ (Belanda)
‘Djongos kassi kartoe makan, kartoe minoeman, aijer ijs, aijer blanda’ (Melayu)

‘Hurry up fetch ice’ (Inggris)
‘Haas[t] je haal ijs’ (Belanda)
‘Lekas ambil ijs (aijer batoe)’ (Melayu)

Atau kosa kata yang berhubungan dengan aktivitas kuliner, peralatan makan dan aneka menu seperti:

To boil (Inggris); ko[o]ken (Belanda); masak (Melayu)
To drink (Inggris); drinken (Belanda); minoem (Melayu)
To eat (Inggris); eten (Belanda); makan (Melayu)
To fry (Inggris); bakken/braden (Belanda); goreng (Melayu)
To mix (Inggris); mengen (Belanda); tjampoer (Melayu)

Clean plate (Inggris); schoon bord (Belanda); piring bresi (Melayu)
A knife (Inggris); mes (Belanda); piso (Melayu)

Cold water (Inggris); koud water (Belanda); aijer dingin (Melayu)
Soft boilled eggs
(Inggris); zacht gekookte eieren (Belanda); telor stengah mateng (Melayu)
Hard boilled eggs (Inggris); harde eieren (Belanda); telor kras (Melayu)
Bacon and eggs (Inggris); spek met eieren (Belanda); mata sampi sama sepek (Melayu)

Penutup

Bila dikaji lebih jauh ternyata masih banyak hal yang dapat diungkap dan diteliti dari masalah kuliner sebagai unsur pariwisata baik pada masa lampau maupun sekarang. Antara lain  asal usul suatu jenis masakan, industri rumahan makanan dan minuman yang dipengaruhi oleh pariwisata.

Masalah kuliner pun ternyata tidak hanya dapat dijadikan sarana promosi positif, tapi juga sarana promosi negatif. Hal tersebut tak lepas dari pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

Disajikan dalam Seminar Hasil Penelitian Departemen Sejarah FIB UI, Desember 2006 

Siapa Suka Susu?

Siapa yang tidak suka susu? Maaf, ini bukan porno. Susu yang dimaksud adalah susu sapi. Memang tidak semua orang, terutama anak-anak menyukai minuman sehat ini. Di Indonesia, masyarakat yang mengkonsumsi susu sapi segar pun masih sangat rendah. Kalah jauh dengan India. Apalagi sekarang susu menjadi barang mewah dan impor serta harganya yang kian melonjak. Khususnya susu bubuk dan susu yang diformulasikan.

Ada pendapat yang mengkaitkan melonjaknya harga susu dengan pemanasan global. Pemanasan global tersebut menyebabkan kekeringan di sebagian wilayah Australia dan Selandia Baru sehingga sapi perah kekurangan pakan. Kita tahu selama ini masih ada bahan baku susu, khususnya susu formula yang harus diimpor dari negara-negara tersebut. Dampaknya, harga susu formula di dalam negeri ikut naik sampai 15 persen.

Sejarah susu di Indonesia ini pun menarik untuk diketahui mengingat tidak semua orang mengetahuinya. Tahun 1906 atas anjuran Pemerintah Hindia Belanda, maka diimporlah beberapa jenis sapi pedaging ke Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menetapkan Sumba sebagai pusat pengembangbiakan ternak sapi daging dari jenis O ngole (India). Sekitar tahun ini pula, sapi perah mulai masuk ke Hindia Belanda. Namun, tahun masuknya sapi perah ini perlu dipertanyakan lagi. Alasannya, sejak akhir abad ke-19, wilayah Bandung terkenal sebagai penghasil susu sapi berkualitas tinggi di Nusantara.

Restorasi kereta pos pada awal abad ke-20 yang melewati jalur Cirebon-Bandung- Bogor – Batavia konon menghidangkan susu sapi segar kepada para penumpangnya. Lumayan sebagai pelepas dahaga dan obat lapar di perjalanan. Bahkan jauh sebelumnya , berdasarkan catatan Heer Medici pada 1786 yang melancong ke ‘Negorij Bandoeng’ dengan rombongan berkuda dari Batavia, sudah mencicipi segarnya susu Bandung tatkala rombongan sampai di Cianjur.

Menurut catatan sejarah, pada tahun 1938 di wilayah Bandung terdapat 22 usaha pemerahan susu dengan produksi 13.000 liter susu per hari. Hasil produksi susu ini semua ditampung oleh “Bandoengsche Melk Centrale” untuk diolah (pasturisasi) sebelum disalurkan kepada para langganan di dalam maupun luar kota Bandung.

Direktur B.M.C dengan nada sedikit sombong menulis: ‘Vergeet U  niet, dat er in geheel Nederlandsch Oost-Indië slechts een Melk centrale is, en dat is de Bandoengsche Melkcentrale’ (Anda jangan lupa, bahwa di seantero Nusantara ini cuma ada satu Pusat Pengolahan Susu dan itu adalah Bandoengsche Melk Centrale)

Dari sejarah persusuan di Indonesia, di wilayah Bandung ada 3 perusahaan pemerahan susu (Boerderij) yang terkemuka. Mereka inilah yang merupakan cikal bakal usaha peternakan sapi perah dari jenis unggul yang didatangkan dari Friesland, salah satu propinsi di Belanda.

Model peternakan sapi perah yang terkenal adalah perusahaan ‘Generaal de Wet Hoeve’ milik Tuan Hirschland dan Van Zijll di Cisarua, kabupaten Bandung. Mereka inilah yang pertama kali mendatangkan sapi perah Friesland ke Nusantara pada awal abad ke-20.

Kemudian tercatat pula Lembangsche Melkerij ‘Ursone’, sebuah perusahaan pemerahan susu di Lembang yang didirikan oleh tiga diantara empat bersaudara Ursone pada tahun 1895. Keluarga Ursone yang berkebangsaan Italia ini terkenal sebagai pemain musik gesek ulung di kota Bandung.    Usaha keluarga Ursone diawali dengan 30 ekor sapi dengan hasil hanya 100 botol per hari. Kemudian pada tahun 1940 telah berkembang menjadi 250 ekor sapi dengan produksi ribuan liter susu perhari.

Selain kedua perusahaan ini, di Pangalengan, sekitar danau Cileunca, ratusan ekor sapi perah diternakkan orang Eropa di sana. Begitu banyaknya sapi perah bibit luar negeri di lembah danau Cileunca, hingga majalah Mooi Bandoeng sering menyebut wilayah di Pangalengan sebagai ‘Friesland in Indië (Friesland di Hindia)’.

Selain minuman dengan bahan baku susu seperti es krim, susu coklat (chocomelk), B.M.C mengolah susu menjadi mentega, keju dan cream untuk kosmetika. Hampir seluruh produksi susu di Jawa Barat tertampung oleh B.M.C pada jaman sebelum perang.

Jika demikian hebatnya sejarah susu di Indonesia lalu mengapa di Indonesia yang lebih populer adalah susu bubuk dibandingkan susu segar? Hal ini pun ada alasannya.

Sekitar tahun 1920, Pemerintah Hindia Belanda menetapkan aturan mengenai produksi susu yang disebut Melk-Codex. Salah satu aturan persusuan ini adalah mengenai kondisi mikroba atau bakteri psychotropic pada susu segar di bawah satu juta mikroba untuk setiap satu sentimeter kubik susu segar. Standar ini dibuat untuk memenuhi kualitas susu segar yang siap minum tanpa melalu proses pengolahan lebih lanjut.

Dapatlah dibayangkan betapa Pemerintah Hindia Belanda pada masa itu telah menyosialisasikan kualitas susu segar untuk siap minum tanpa proses lebih lanjut. Namun, kebanyakan kualitas susu segar kita di atas satu juta mikroba sehingga kita terpaksa harus melupakan kebiasaan minum susu segar dan susu tersebut harus diolah dalam bentuk bubuk dan diminum dalam keadaan hangat.

Menariknya lagi tradisi minum susu segar pada masa Hindia Belanda ternyata
juga tak tersosialisasi dengan baik meski sudah ada Melk-Codex. Masyarakat kita pada masa itu masih menganggap susu adalah minuman yang hanya dikonsumsi oleh orang kulit putih (baca: Belanda) serta golongan tertentu yang berkuasa. Sehingga muncul anekdot jika mau berkuasa, maka minumlah susu.

Lucunya lagi ada yang berpendapat sinis, tak perlulah bangsa kita punya tradisi minum susu (segar) nanti kelewat pintar. Alasannya, dahulu kala nenek moyang kita sangat getol puasa mutih atau hanya minum air segar (putih), nasi serta umbi-umbian saja mampu menjadi orang “pintar” dan ditakuti. Apalagi jika minum susu (putih), bisa-bisa kita menjadi “super pintar”.

Ketika Pemerintah Hindia Belanda sedang gencar-gencarnya mempromosikan pariwisata di Hindia, peternakan sapi menjadi salah satu daya tarik fasilitas yang ditawarkan. Promosi tersebut dimuat Gids voor Indie: Handleiding en Hotel Pension-, Toko en Dienstengids voor New Comers en  Touristen in Ned-Indie. Misalnya iklan peternakan sapi di beberapa kota besar seperti Batavia, Bandung dan Semarang. Salah satunya iklan Melkerij “Petamboeran” yang merupakan peternakan tertua dan terbesar di Petamboeran, Paalmerah (Jakarta). Iklan tersebut memperlihatkan bahwa para turis (kulit putih) tak perlu khawatir jika di Hindia juga tersedia minuman susu.

Kita tentu ingat slogan pemerintah “Empat Sehat Lima Sempurna” yang ternyata disosialisasikan pada awal 1950-an. Menurut Prof. Dr. Ali Khomsan, ahli gizi IPB, pencetus “Empat Sehat Lima Sempurna” adalah Prof. Poorwo Sudarmo yang menempatkan susu pada urutan terakhir dari empat hidangan lainnya. Akibatnya masyarakat biasa akhirnya beranggapan bahwa susunan hidangan kita menjadi tak sempurna tanpa susu. Meskipun komposisi kandungan susunya itu sendiri perlu dipertanyakan karena lebih banyak airnya dibandingkan susunya.

Mungkin masyarakat melihat yang terpenting adalah warna putihnya. Perkara komposisi kandungan susunya urusan belakangan. Maka tak heran ketika harga susu (formula) melambung, sebagian ibu-ibu menggantikan susu dengan air tajin (susu beras). Padahal sangat jelas dari segi kualitas air tajin tak dapat menggantikan susu formula apalagi ASI meski dilihat dari warnanya nyaris serupa.

Memang kandungan protein air tajin mungkin setara atau bahkan lebih rendah dari pada beras. Apalagi kandungan vitamin dan mineralnya. Sehingga bisa diduga jika air tajin tak akan menandingi susu terutama dari segi kandungan kalsium dan fosfor.

Bicara melambungnya harga susu (formula) tentu mengingatkan kita pada ASI yang memang sangat dianjurkan. Namun, jangan lupa para ibu itu pun harus mendapatkan asupan gizi yang memadai, misalnya dengan minum susu. Bagaimana bisa memberikan ASI yang baik jika gizi para ibu itu tak berkualitas. Hal inilah yang sering dilupakan dan terabaikan. Jadi, siapa suka susu?

Kue Bugis Kanre Jawa

Urusan perut, merupakan urusan yang tidak bisa ditawar lagi. Ada orang yang menjadi beringas lantaran urusan perut. Yang jelas, urusan perut erat kaitannya dengan makanan. Di Makassar, bagi yang belum terbiasa dengan kuliner daerah ini dibutuhkan waktu beberapa saat untuk menyesuaikan diri. Meskipun terasa cocok dengan lidah, belum tentu perut mau menerima. Kalau tidak cocok, perut akan berdemonstrasi, berontak. Lantas, bisa celakalah kita.

Bagaimanapun, wisata kuliner de Macassart tak akan pernah terlupakan. Ada hal yang menarik berkaitan dengan kuliner Makassar ini. Aneka macam makanan dengan beraneka rasa dan warna dapat kita jumpai dan cicipi. Budayawan nasional, Umar Kayam yang pernah bertugas di Makassar berseloroh bahwa orang Bugis-Makassar merupakan masyarakat yang rendah hati. Alasannya meskipun pembuat kue-kue adalah orang Makassar, Bugis, Mandar atau Toraja, kue-kue itu tetap disebut Kanre Jawa. Suatu penghormatan bagi orang Jawa. Sebaliknya di Jawa, kita mengenal Kue Bugis. Sejenis kue yang terbuat dari tepung ketan yang berisi gula merah dan kelapa lalu dibungkus daun pisang muda. Suatu hal yang menarik.

Tidak hanya makanan kecil seperti jalangkote, aneka macam penganan dari pisang pun dapat kita nikmati, seperti: barongko berupa pisang yang dilumatkan hingga seperti bubur , dicampur adonan telur lalu dibungkus dengan daun pisang. Biasanya disajikan dalam keadaan dingin. Pisang Epe yaitu pisang yang dipanggang tapi sebelumnya dipres hingga gepeng lalu diberi saus gula merah, terkadang diberi aroma durian. Pisang Ijo yaitu pisang yang dibungkus adonan terigu dan daun pandan hingga berwarna hijau lalu diberi saus putih dari kelapa.

Selain itu ada pula umba-umba yang di Jawa dikenal dengan nama klepon. Di Makassar ada pula yang menyebutnya onde-onde yaitu kue dari tepung beras dengan gula merah di dalamnya dan dilumuri parutan kelapa. Biasanya kue ini khusus disajikan pada saat menempati rumah baru atau dalam upacara pembuatan perahu. Penganan lain adalah sengkolo, sejenis ketan urap dengan bahan ketan putih atau ketan hitam. Seringkali kita jumpai warung yang menjual songkolo begadang. Disebut demikian karena dijual pada malam hingga pagi hari. Biasanya dinikmati hangat-hangat dengan telur asin dan sambal. Lucu juga bila kita menawari turis asing: “Would you like to try an overnight songkolo, Sir?”

 

Pesta Rujak

Negeri kita yang tropis ini memang terkenal dengan buah-buahan yang beraneka ragam. Tercatat dalam prasasti dan kakawin kuno, aneka buah-buahan seperti mangga (Mangifera indica), jambu bol (Anacardium occidentale), salak (Zallaca edulis), nangka (Artocarpus integer), rambutan (Nephelium lappaceum), manggis (Garcinia mangostana), wuni (Antidesma bunius), langsat (Lansium domesticum), jamblang (Syzyqium cumini), jeruk (citrus), durian (Durio zitbethinus), pisang ( Musa), kecapi (Sandoricum koecape) begitu melimpah. Komoditas ini pula yang kerap dijumpai di pasar-pasar desa.

Melimpahnya buah-buahan ini pernah dijadikan kambing hitam oleh Jacob de Bondt alias Bontius, dokter VOC yang juga dokter pribadi J.P.Coen. Sebab banyak pelaut Eropa pada saat mampir ke Nusantara menjadi sakit karena mereka terlalu berlebihan menikmati aneka buah-buahan itu dan nyaris rakus. Walaupun sebenarnya itu kesalahan mereka sendiri karena setelah berbulan-bulan di atas kapal dan kekurangan vitamin, terutama vitamin C, perut mereka diisi dengan bermacam-macam buah-buahan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

Sementara itu dalam laporan penjelajah William Dampier pada 1697 menyebutkan kelapa (Cocos nucifera) dan pepaya (Carica papaya) merupakan buah-buahan utama, sedangkan durian, mangga, manggis, jeruk besar /jeruk Bali (Citrus maxima), rambutan dan berbagai buah-buahan lainnya silih berganti sepanjang tahun. Bahkan mangga yang masih mengkal pun dijadikan teman makan nasi setelah dibuat asinan. Sejak dibawanya pepaya (Carica papaya) dan nenas (Ananas comusus) dari benua Amerika di penghujung abad 17 ke Asia Tenggara, buah-buahan ini berkembang dengan pesat dan dianggap buah-buahan eksotis oleh para turis yang datang kesini.

Buah-buahan yang sudah masak biasanya dinikmati sebagai pencuci mulut setelah menikmati hidangan utama atau dimakan begitu saja. Sedangkan buah-buahan yang masih mengkal biasanya dibuat manisan, asinan dan rujak. Walaupun terkadang buah-buahan yang sudah masak digunakan juga untuk rujak.

Rujak merupakan jajanan yang sangat populer di Indonesia dan Malaysia. Hampir di setiap sudut dapat kita temui penjual rujak dengan gerobak berkacanya. Biasanya untuk penjual rujak keliling ini, bumbu rujaknya telah mereka persiapkan dan ditempatkan di toples kaca sehingga tidak perlu diolah lagi. Supaya buah-buahannya tetap segar dan dingin, bongkahan kecil es batu diletakkan di antara buah-buahan itu.  Ada pula penjual rujak yang mangkal di kios atau warung.

Khusus untuk penjual rujak yang mangkal ini biasanya mereka mengolah terlebih dahulu bumbunya. Sebuah cobek besar dan ulekan selalu tersedia untuk meramu semua bumbu-bumbu tersebut. Sehingga para pembeli dapat memesan, mulai dari yang paling pedas, sedang, hingga tidak pedas. Serta kombinasi rasa lainnya, seperti misalnya pedas manis, sedang manis, dan sebagainya. Dulu rujak itu biasa dibungkus dengan daun pisang dan disematkan dengan potongan biting (lidi), sekarang biasa menggunakan kertas pembungkus atau plastik.

Bumbu rujak itu sendiri terdiri dari ; cabe merah (lombok), cabe rawit, gula jawa, terasi, asam jawa, garam, terkadang ditambahkan kacang tanah yang telah dihaluskan.
Buah-buahan yang biasa digunakan antara lain; mentimun (Cucumis sativus), nanas (Ananas comusus), bengkuang (Pachyrrhizus erosus), mangga muda (Mangifera indica), kedondong (Spondias dulcis), jeruk Bali (Citrus maxima), jambu air (Eugenia aquea), pepaya muda (Carica papaya), ada pula yang ditambahkan semangka (Citrullus vulgaris) dan melon (Cucumis melon).

Di Malaysia, ada rujak yang dikenal dengan nama rujak Penang. Rujak itu memiliki bumbu yang sama dengan rujak di Indonesia. Bedanya di atas bumbu yang telah diguyur di atas potongan buah-buahan itu ditaburi wijen. Ada jenis rujak yang lain. Rujak itu cukup dikenal di Jakarta. Biasanya dijajakan dengan pikulan. Rujak itu dikenal dengan nama rujak bebeg (baca bêbêg). Juga  menggunakan buah-buahan, tetapi kebanyakan buah-buahan yang masih mengkal, seperti ubi merah mentah (Ipomoea batatas), jambu biji mengkal (Psidium guajava), nangka (Artocarpus integer), mangga muda(Mangifera indica) , kedondong (Spondias dulcis) , jeruk bali(Citrus maxima). Bumbu-bumbunya, seperti cabe merah, cabe rawit, gula merah, terasi, dimasukkan ke dalam alat yang disebut lumpang dari kayu kemudian ditumbuk. Lalu buah-buahan yang telah dipotong-potong itu dimasukkan ke dalam bumbu yang telah halus itu sambil ditumbuk hingga tercampur dan lumat. Rujak itu disajikan dengan takir ( pincuk dalam bahasa Jawa) , daun pisang yang disemat dengan lidi. Harganya pun cukup murah karena buah-buahannya masih mengkal. Mungkin saja, sang penjual memperolehnya dengan gratis hingga ia tak perlu menjualnya terlalu mahal. Saat ini penjual rujak bebeg sudah jarang kalaupun ada hanya dapat dijumpai di pinggiran kota Jakarta. Namun, rujak bebeg ini naik statusnya menjadi sedikit bergengsi. Kita dapat menjumpainya di beberapa pusat perbelanjaan ber-AC, berjejer dengan jajanan lainnya. Meskipun alat pengolahnya masih sama, dengan lumpang kayu.

Rujak pun kerap dikonsumsi para remaja, khususnya anak perempuan. Sambil belajar bersama, atau mengobrol kesana-kemari mereka menikmati rujak. Tak jarang ada undangan yang dibuat oleh para remaja itu dengan mencantumkan acara ‘rujakan’ atau ‘pesta rujak’ di dalamnya untuk memeriahkan acara mereka.

Kaum perempuan yang memiliki hasrat kuat dan tiba-tiba menginginkan makanan yang sangat pedas, terutama makanan dari buah-buahan dapat dianggap sebagai tanda pertama kehamilan. Hal ini yang sering disebut ngidam rujak. Menurut kepercayaan, keinginan ini harus dituruti karena jika tidak akan berakibat buruk pada jabang bayi yang dikandung. Nah, jika sang istri ngidam rujak tengah malam, maka sang suami yang kebingungan mencari penjual rujak. Tetapi bila kelak sang istri hamil, makanan pedas ini justru menjadi pantangan.

Penggerutu atau pengkritik nomor wahid dari Belanda pada awal abad 20, Bas Veth yang membenci Hindia Belanda dan menganggapnya hampir sebagai penyakit, menggambarkan rujak sebagai bentuk yang sama sekali tidak lebih baik dari ‘ambrosia’, dewa makanan. Ia menuliskan kesannya mengenai rujak dalam bukunya Het Leven in Nederlandsch Indië yang dalam waktu singkat menjadi best seller. Veth menceritakan tentang pengalaman para penumpang sebuah kapal yang melakukan perjalanan panjangnya dari Belanda ke Hindia Belanda pada tahun 1900:
“Pagi hari: para penumpang Indo berharap dapat menikmati aneka masakan dengan harga yang murah. Harga khusus kaum Indo. Tentu saja di warung-warung. ‘Barangkali nanti dapat roedjak ya,’, ujar salah seorang dari mereka. Roedjak yang disiapkan dengan jambu atau mangga mengkal. Rasanya cukup asam hingga membuat perut orang Eropa sakit dan nanti di dek kapal mereka akan bergulingan kesakitan seperti kera. Barangkali dapat roedjak kata mereka sambil menahan air liur dan seolah mendesis kepedasan”

Pada masa Tempoe Doeloe yang sering disebut jaman normaal yaitu masa sebelum pecah perang dunia kedua, para sinyo dan noni Indo sering memaksa kokkie mereka untuk membuatkan bumbu rujak dengan buah-buahan yang masih mengkal dari pohon-pohon yang tumbuh di keboen belakang rumah.mereka. Mereka melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, si kokkie takut ketahuan nyonya rumah karena pada saat itu adalah jam tidur siang  dan bila ketahuan bisa saja nyonya rumah marah besar karena sinyo dan noni tidak tidur siang. Melanggar aturan.

Dalam adat Jawa, rujak juga diikutsertakan. Seperti pada jamuan upacara memperingati tujuh bulan kehamilan pertama. Tetapi rujak yang dihidangkan dalam upacara ini bukan jenis rujak seperti yang biasa kita nikmati tetapi dalam bentuk seperti minuman manis yang segar. Rujak ini disebut rujak krobo atau gobed yaitu rujak yang terbuat dari bermacam-macam buah-buahan, seperti jeruk bali, delima (Punica granatum) yang dicacah dengan sambal gula yang diberi air asam. Semua ini melambangkan kesegaran. Sedangkan untuk mengetahui jenis kelamin si bayi yang masih dalam kandungan dapat ditandai dengan rasa rujak itu. Rujak itu lalu dihidangkan untuk handai tolan dan tetangga yang menghadiri upacara tersebut. Bila rujak itu terasa pedas, itu suatu tanda bahwa bayi yang dikandung adalah perempuan, sebaliknya bila tidak pedas, maka laki-lakilah bayi itu. Kebiasaan ini masih sering dilakukan baik di desa maupun di kota besar meskipun banyak yang tidak setuju tata cara jamuan ritual animistik ini.

Rujak juga dihidangkan untuk upacara perkawinan adat Jawa. Walaupun untuk yang satu ini tampak jarang dilakukan. Biasanya bila mantu anak sulung, dihidangkanlah rujak manis pada sepasang mempelai itu dan ayah mempelai perempuan. Ibu pengantin perempuan kemudian bertanya: “masih adakah kekurangannya?” . Yang dijawab oleh sang bapak pengantin perempuan; “ tak ada, sudah enak rasanya.” Itu melambangkan bahwa segalanya sudah berlangsung baik tanpa kekurangan dan mereka berharap demikian pula bila mereka mantu lagi.

Bahkan rujak pun dijadikan pola batik yang dikenal dengan nama ‘rujak senté’. Pola batik ini di Yogyakarta dianggap termasuk pola batik ‘larangan’, tidak sembarang orang dapat mengenakannya dan hanya para bangsawan yang diperkenankan mengenakannya. Dalam hal ini pola ‘rujak senté’ hanya boleh dikenakan oleh para anggota keluarga Sultan yang bergelar Raden Mas atau Raden, seperti yang diungkapkan Nyonya Veldhuisen-Djajasoebrata dalam Bloemen van het heelal. De kleurrijke wereld van de textile op Java ( Bunga-bunga semesta. Dunia penuh warna dari tekstil di Jawa).

Musim kemarau ini membuat kita butuh sesuatu yang menyegarkan. Potongan aneka warna buah-buahan segar itu kelihatan begitu menantang. Ditambah guyuran saus sambal berwarna merah kecoklatan di atasnya. Rasanya tak sabar untuk mencicipinya. Ya, itulah rujak,  hidangan yang cocok di saat musim kemarau. Rasanya yang segar, manis dan pedas membuat kita ketagihan walaupun belum tentu cocok bagi lidah Eropa. Tak terasa keringat menetes dan mulut kepedasan.
 

Panjang Umur Dengan Mi

Elena,  mantan tetangga saya di Belanda menggeleng heran ketika ia menanyakan usia saya. ‘Kalian orang Asia ternyata awet muda. Wajah kalian tidak mencerminkan usia kalian!’ ujar gadis Bulgaria yang studi hukum di sebuah universitas di Belanda. Ia penasaran dan menanyakan rahasianya. Tentu saja, saya sendiri susah menjelaskannya. Hingga suatu ketika kami bersama-sama memasak di dapur yang khusus disediakan untuk para penghuni lantai di apartemen yang kami tinggali. ‘Aha..saya tahu rahasianya. Rupanya ini yang menyebabkan kalian awet muda! ’ serunya sambil menunjuk pada mi instan yang sedang saya masak.

Saya tertawa. Memang menurut mitos Cina, makan mi tanpa terputus dapat membuat umur menjadi panjang. Secara tradisional di antara masyarakat Cina, mi karena bentuknya yang panjang sering digunakan simbol umur panjang, dan selalu disajikan dalam pesta ulang tahun. Tetapi bukan hanya pada pesta peringatan ulang tahun, melainkan juga pada saat upacara pemakaman dengan harapan mereka yang ditinggalkan memiliki umur yang panjang .

Tiba-tiba saya teringat seorang kawan SMA yang kuliah di Universitas Indonesia. Sebagai anak kost, hampir tiap hari ia menyantap mi instant namun bukan umur panjang yang ia dapat melainkan awet muda alias meninggal dalam usia muda. Walaupun saya sendiri menyangsikan apakah benar ia meninggal lantaran banyak makan mi instan.

Mi memang makanan khas dan populer di Asia, khususnya di Asia Timur dan Asia Tenggara. Begitu terkenalnya, bahkan membuat para pedagang Eropa di masa Marcopolo yang pernah singgah di Cina, mengadopsi mi dalam masakan mereka.  Maka saat ini kita dapat menikmati spaghetti , vermicelli dan pettucini yang mirip dengan mi.

Menurut cerita legenda, mi pertama kali dibuat di daratan Cina kira-kira 2000 tahun yang lalu di bawah kekuasaan dinasti Han. Dari Cina, mi berkembang dan menyebar ke Jepang, Korea, Taiwan, Indocina, Asia Tenggara, bahkan meluas ke seluruh dunia termasuk Amerika Serikat dan daratan Eropa. Dalam bahasa Inggris, mi disebut noodle yang sebenarnya berasal dari bahasa Jerman, nudel. Namun asal istilah tersebut tidak jelas.

Sebenarnya seni menggiling gandum dan pembuatan roti telah lebih dahulu berkembang di Timur Tengah: Mesopotamia, Mesir dan Persia. Logikanya, mi juga dikembangkan dan diajarkan sebagai lembaran roti yang tidak mengembang. Tampaknya di Cina, terutama Cina Utara, mi mendapat perhatian sangat khusus.

Menurut Denys Lombard dalam Le Carrefour Javanais ,ada empat jenis makanan khas yang cukup memasyarakat di Nusantara yaitu: mi, pangsit, tim sum dan bakso.  Mi sendiri merupakan salah satu bahan makanan yang diproses dengan cara pengawetan.  Proses ini di Jawa sudah dikenal sejak zaman Mojopahit. Alasannya karena istilah laksa yang masih digunakan di Semenanjung Malaka untuk menyebut semacam bihun muncul dalam  piagam Biluluk yang bertahun 1391. Kata laksa ini kemungkinan berasal dari India. Wilkinson dalam A Malay-English Dictionary (Romanised) menyebutkan bahwa lakhshah berasal dari Persia atau Hindi, dan menjelaskannya sebagai  “a kind of vermicelli”. Namun karena istilah itu sudah ada dalam bahasa Jawa abad ke-14, dapat dipastikan bahwa kata itu berasal dari bahasa Sanskerta, laksa yang berarti seratus ribu; mungkin karena banyaknya jumlah bihun dalam satu porsi.

Masuknya mi ke Nusantara tampaknya dapat juga menjadi hal yang menarik. Alasannya, mi merupakan hidangan khas Cina Utara. Sementara para pendatang dari negeri Tiongkok ke Nusantara, kebanyakan berasal dari Cina Selatan yang cenderung berkebudayaan beras/nasi. Mungkin saja, pengaruh dari utara masuk ke selatan dan orang-orang selatan inilah yang membawanya ke Nusantara.

Di samping itu seluruh kosakata dari masakan khas  tersebut berasal dari Cina, seperti mi (mian) merupakan istilah umum untuk menyebut mi dari tepung beras maupun dari tepung terigu, kemudian bihun (mifen) dan misoa (mianxian) yang terbuat dari tepung beras, Iomi (lumian) dan kuetiao (guotiao) termasuk mi lebar yang berasal dari Fujian. Lalu so’un (fensi) yang terbuat dari pati kacang hijau serta yang terbuat dari tepung terigu dan beras yang disebut shomein. Ketika tepung soba (buck wheat) telah menjadi salah satu bahan pangan pokok, mulailah diperkenalkan mi dari soba.

Tidak lengkap pula jika kita melupakan ‘teman’ makan mi ini yaitu pangsit (bianshi, yang arti sebenarnya “makanan lonjong”) . Lucunya, kata itu dalam bahasa Tagalog menunjuk apa yang dalam bahasa Melayu disebut mi dan biasanya direbus atau digoreng.

Dalam suatu kesempatan saya sempat menyaksikan kebolehan seorang juru masak di sebuah hotel di Jakarta yang khusus didatangkan dari Cina dalam mengolah mi secara tradisional. Pembuatan mi dari terigu asal Cina Utara ini dilakukan dengan cara melempar-lempar adonan ke udara sehingga menjadi tali temali yang panjang, kemudian ditarik, dilipat dan dipotong sehingga menjadi seperti benang atau tali. Menurutnya, adonan mi yang dibuat dengan cara seperti itu dapat menghasilkan tali-tali tebal seperti macaroni. Dengan teknik khusus, yaitu jika penarikan dilakukan 12 kali dan pelipatan dilakukan sebanyak 11 kali maka akan menghasilkan produk mi yang disebut ‘mi jenggot’ atau ‘jenggot naga’. Mi jenggot naga biasanya disajikan sebagai hidangan penutup suatu pesta. Konon untuk menikmatinya, mi tersebut jangan sampai putus supaya umur Anda tetap panjang.

Berdasarkan kondisi sebelum dikonsumsi, mi dapat digolongkan ke dalam beberapa kelompok yaitu mi basah, mi kering, mi rebus, mi kukus serta mi instan baik dalam kemasan plastik maupun sterofoam (bentuk mangkuk atau cangkir). Khusus untuk Indonesia, kebanyakan yang dikonsumsi adalah jenis mi basah dan mi instan. Sedangkan mi kering (kan-men) merupakan mi yang paling populer di Jepang.

Di Indonesia pun kita mengenal bermacam-macam masakan  mi yang dijajakan mulai dari penjaja keliling (gerobak, sepeda, sepeda motor), warung-warung tenda di pinggir jalan hingga restauran mewah. Masakan mi itu berupa mi baso (bakso), mi pangsit (mi ayam), mi goreng, mi rebus, mi kocok, mi kuah, soto mi. Padahal kalau diperhatikan bahan dasarnya nyaris sama yaitu sama-sama menggunakan mi basah. Seperti mi baso (dikenal dengan bakso) yang terdiri dari mi dan baso (rousu)., cacahan daging sapi giling yang dibentuk bulat-bulat. Biasanya dicampur dengan bihun (mifen) atau tahu (tofu). Terkadang dibubuhi sedikit cuka, garam dan bumbu penyedap. Lalu disiram kuah yang berupa air kaldu daging panas. Bila suka diberikan saus tomat, kecap dan sambal. Mi baso ini lebih dikenal sebagai bakso.

Lain halnya dengan mi pangsit yang dikenal dengan nama mi ayam. Mas Yon, seorang pedagang mi pangsit langganan yang biasa berjualan di daerah Cikini bercerita sambil melayani pelanggan. Untuk mi pangsit, mi-nya dilumuri terigu. Mi basah yang telah berbentuk bulatan  sekepalan tangan dimasukkan ke dalam panci dandang besar berisi kuah kaldu. Sementara itu ia menyiapkan bumbunya di dalam mangkok. Ia masukkan sedikit minyak kaldu, bumbu penyedap, lada, sedikit garam lalu mi yang telah dimasukkan dalam air kaldu mendidih diangkat, ditiriskan dan diletakkan dalam mangkok. Di atasnya ditaburi tumisan daging ayam yang dipotong persegi, irisan daun bawang lalu dibubuhi saus tomat dan sambal bila suka. Kalau tidak ingin kering bisa diberi kuah. Tetapi terkadang kuahnya dipisah. Setelah itu diletakkan beberapa buah pangsit (bianshi). Dari hasil berjualan ini, ia telah memiliki rumah dan tanah di kampungnya di Solo.

Adalagi menu yang berhubungan dengan mi yaitu mi kocok. Saya cenderung menyatakan mi ini mirip dengan soto mi. Hanya cara mengolahnya yang berbeda. Soto mi diolah mirip dengan mi baso tetapi ditambah kol, lemak daging, irisan tomat, dan potongan risoles sementara mi kocok, semua bahan dimasukkan ke dalam satu sendok khusus lalu direndam dalam kuah di panci besar yang berbentuk dandang.

Bertugas di Makassar pun saya tidak terlepas dengan makanan mi. Namun mi di sini cukup unik meskipun bukan makanan tradisional Makassar. Sebuah rumah makan di tengah kota Makassar dipagi dinihari itu, tepatnya di perempatan Jalan Bali dan Lombok, selalu ramai didatangi pengunjung. Nyaris tak pernah kosong.

Di bagian depan rumah makan yang terpampang papan bertuliskan Mi Titi, seorang juru masak sibuk menumis bumbu di penggorengan besar di atas tungku arang. Tungku arang ini menjadi ciri khas dalam mengolah hidangan ini. Bau harum pun menyergap hidung. Berturut-turut ia mencampurkan campuran daging, rempela, dan hati ayam, potongan bakso dan sayuran sawi hijau. Ketika tampak matang, ia masukkan air dari panci besar yang penuh campuran tulang, leher, sayap. Rupanya itu semacam kaldu. Tiap kali air kaldu berkurang, air di panci terus ditambah.

Di samping penggorengan itu ada meja besar. Di atasnya berjejer piring-piring yang berisi mi. Mi yang dimaksud bukan mi basah melainkan mi yang sudah digoreng kering dan garing. Hampir menyerupai kerupuk. Setelah kuah berisi campuran ayam dan sayur matang, juru masak mengentalkan kuah dengan campuran tepung maizena dan kocokan telur ayam. Lalu siap mi di atas piring disiram dengan kuah itu. Mi kering pun siap disantap.

Menurut salah seorang dosen senior Unhas yang juga mahasiswa angkatan pertama Unhas, dr Lies Radjawane , mi kering ini sudah ada sejak tahun 50-an dan ditemukan oleh Angko Cauw, seorang warga keturunan Tionghoa yang telah lama tinggal di Makassar di Jalan Bali. Sedangkan Mi Titi merupakan rumah makan milik putra kedua Angko Cauw yang dibuka tahun 60-an.

Cara menikmati masakan mi pun cukup unik , biasanya dengan supit. Penggunaan supit ini juga diimpor dari negeri asal mi, Cina . Mereka yang tidak mahir akan frustasi dan berjuang dengan susah payah menikmati mi. Tapi mereka bisa juga menggunakan sendok. Seperti yang  digambarkan Pramoedya Ananta Toer bagaimana Minke, tokoh dalam novel Jejak Langkah menikmati mi dengan campuran champignon, jamur merang dan sedikit daging serta kuwah berlemak menggunakan sendok tanpa garpu ketika dijamu oleh seorang gadis Tionghoa, Ang San Mei.

Almarhum Umar Kayam pun memiliki cerita sendiri mengenai mi ini. Di saat tubuhnya diserang flu yang menghilangkan nafsu makannya maka menu bakmi godog (rebus) panas dengan sambal botol menjadi menu sehari-hari. Saat sarapan, makan siang bahkan makan malam hingga dirasa sang lidah dan selera makan kembali normal. Mi rebus dan obat flu seolah menjadi resep mujarab baginya.

Dengan adanya kemajuan teknologi, kita semakin dimudahkan. Begitupula dengan perkembangan mi. Mesin pembuat mi pertama ditemukan oleh T. Masaki di Jepang tahun 1854.. Tahun 50-an mulai dikembangkan Chicken Ramen, ramen merupakan ucapan lain dari lumian, Iomi dalam bahasa Cina untuk mi. Ini merupakan cikal bakal mi instan yang kita kenal sekarang. Tahun 1962 muncullah mi instant baru Saporo Ramen. Ibu saya pada pertengahan tahun 60-an sempat menikmati mi instan tersebut dengan kemasan yang cukup sederhana. Teknologi terus berkembang. Untuk menjaga kesegaran mi dalam jangka waktu lama, ditemukan teknologi pembekuan dan pengeringan tahun 1974. Tahun 70-an dapat dikatakan puncak dari produksi mi instan secara komersial. Hingga kini, ada bermacam-macam merek mi instan serta berbagai macam rasa yang dikombinasikan dengan aneka resep di seluruh Nusantara.

Mi yang dulunya hanya dikenal dalam keadaan basah, dan jika kita ingin menikmatinya harus menunggu penjual atau pergi ke warung saat ini telah dikemas dalam bentuk mi instan. Kita dapat menyajikan dalam waktu yang singkat tanpa mengenal waktu. Baik siang maupun tengah malam sekalipun.

Bahkan mi instan pun saat ini menjadi makanan yang ditunggu-tunggu terutama bagi mereka yang tertimpa musibah kebakaran, kebanjiran maupun dalam konflik. Di layar televisi kita melihat beribu-ribu kardus mi instan siap dikirimkan kepada mereka yang membutuhkan. Tidak mengherankan mi instan tidak hanya menjadi makanan wajib para anak kost tetapi juga para pengungsi. Setidak-tidaknya mitos bahwa makan mi membuat umur menjadi panjang terbukti. Panjang umurnya…dengan mi.