Sejarah Naratif

Eksplanasi naratif merupakan cabang dari metodologi hermeneutika yang berkembang pada abad 20. Narativisme atau eksplanasi naratif dikembangkan oleh Ankersmit  yang mengikuti pendapat Johann Gustav Droysen (1808-1886) bahwa kisah memiliki kemampuan merangkaikan peristiwa-peristiwa dalam suatu bentuk utuh atau holistik (Leirissa 2002:16).

Dilihat dari sejarahnya narativisme merupakan bentuk awal dari sejarah kritis yang dirintis pada akhir abad ke-19. Salah satu tokoh narativisme yang terkenal adalah Leopold Von Ranke. Ranke menganjurkan supaya sejarawan menulis apa yang sebenarnya terjadi, wie est eigentlich gewesen (Kuntowijoyo 2001:58) Oleh karena itu narativisme menitikberatkan pada peristiwa, khususnya peristiwa politik.

Melalui pendekatan ini sejarawan diharapkan dapat menggambarkan keadaan yang mendekati kebenaran dari peristiwa masa lalu dengan cara menjelaskan fakta-fakta yang terdapat dalam sumber sejarah.

Kisah atau naratif bertitik tolak dari gagasan yang dipilih oleh sejarawan bersangkutan yang dijadikan acuan untuk membuat seleksi atas fakta-fakta dalam sumber sejarah. Dengan kata lain bukanlah masa lampau tersebut yang menjadi patokan melainkan gagasan dari sejarawan, misalnya mengenai peristiwa-peristiwa seperti perang, renaissance (Leirissa 2002:16)

Namun, ada beberapa kelemahan eksplanasi naratif ini. Continue reading “Sejarah Naratif”

Kisah Ayam

Almarhum pakde saya adalah seorang pecinta hewan. Salah satunya ayam jago yang pada pagi hari suaranya mampu membangunkan saya dari mimpi indah. Ayam jago yang berjenis bangkok itu mendapat perlakuan istimewa. Mulai dari kandang yang selalu diperhatikan kebersihannya, makanan, vitamin  yang selalu dijaga hingga belaian penuh kasih dan mungkin rasa sayang.

Setiap minggu ayam bangkok itu dimandikan. Tentunya bukan seperti memandikan motor Honda tunggangannya, ke tempat dia bekerja setiap hari di sebuah pabrik di bilangan utara Jakarta. Ayam itu disiraminya dengan air dari tangan sambil diusap secara perlahan.

Lain dengan Almarhum ayah. Suatu ketika beliau membawa ayam jago hitam legam yang dikenal dengan ayam Cemani.  Sekujur tubuhnya, mulai dari bulu, jengger, kaki, hingga daging dan tulangnya berwarna hitam. Konon ayam ini berharga mahal (hingga puluhan juta) dan kerap dipakai untuk ritual tertentu. Mungkin almarhum ayah saya mengetahui betapa mahalnya jenis ayam itu sehingga berniat memeliharanya. Lain waktu beliau membawa ayam yang berbulu keriting, jantan dan betina. Ibu saya menyebutnya ayam bulu walik. Beberapa teman adik saya yang berkunjung ke rumah sering tertawa dan berseloroh ayam keriting itu cocok dipelihara keluarga kami lantaran kami semua nyaris berambut keriting. Continue reading “Kisah Ayam”

Mengalir

Awal 2013. Biasanya setiap awal tahun dimulai dengan resolusi yang akan dilakukan sepanjang tahun. Namun, awal tahun ini tidak banyak resolusi yang dibuat. Pertama, kondisi fisik yang masih belum memungkinkan alias masih perlu istirahat total. Virus yang menyerang di akhir tahun sepertinya masih betah hingga pertengahan Januari.

Dalam kondisi seperti itu, rasanya malas untuk melakukan berbagai hal (di luar aktivitas rutin seperti makan, minum, beribadah, istirahat). Aktivitas menulis serta membaca (kecuali Al Qur’an) yang biasanya dilakukan menjadi terasa berat. Satu hal yang sepertinya harus diubah. Waktu membaca yang pada tahun lalu nyaris tak ada (meskipun banyak buku-buku baru yang hanya jadi penghias rak), tahun ini harus digiatkan lagi. Tak ada lagi alasan. Tak ada lagi tawar-menawar.

Setelah tubuh kembali sehat, rasanya perlu memikirkan resolusi tahun ini. Kembali lagi resolusi untuk menulis terlontar dari pikiran. Sama halnya dengan aktivitas menulis yang tahun lalu ‘dipaksakan’ kembali menulis, aktivitas membaca dan mencari waktu yang ‘tepat’ (istilah orang yang sok sibuk seperti saya) sepertinya harus dipaksa.Hasilnya beberapa buku, koleksi saya dan istri saya yang belum sempat terjamah, saya baca halaman demi halaman hingga selesai. Awal tahun ini (hingga akhir Januari) dua setengah buku selesai. Tak ada target berapa buah buku yang harus saya baca tahun ini. Seperti kebiasaan dalam bekerja, saya tidak hanya fokus pada satu buku, tapi jika memungkinkan beberapa buku. Continue reading “Mengalir”

Vijf vragen aan…Achmad Sunjayadi

Vijf vragen van de redactie Internationale Vereniging voor Neerlandistiek (IVN) in 2012 aan de hoofd van Vakgroep Nederlands Universitas Indonesia

Vraag 1: Wat maakt dat er een afdeling Nederlands in Jakarta bestaat?

Volgens prof. Jan W. de Vries van de Universiteit Leiden ontving de Nederlandse Minister voor Ontwikkelingshulp in mei 1967 een brief van de rector van de Universitas Indonesia te Jakarta waarin verzocht werd om ondersteuning bij de oprichting van een studierichting Neerlandologie. Een dergelijke studierichting werd van groot belang geacht omdat kennis van het Nederlands bij de beoefening van verschillende wetenschapsgebieden een noodzaak was.

Vanaf 1968 was het Nederlandse Ministerie van Onderwijs en Wetenschappen bij de oprichting van de nieuwe opleiding betrokken. In 1970 werd aan de Faculteit der Letteren van de Universitas Indonesia de vakgroep Nederlandse taal-, en, letterkunde geopend. Deze begon met 37 studenten, 10 studenten Nederlands als tweede taal (voornamelijk docenten) en 34 bijvakstudenten. Hoofd van de nieuwe afdeling was prof.dr. Harsya Bachtiar, vakgroepssecretaris werd dra. Afiah Thamrin. Twee neerlandici uit Nederland werden aan de afdeling toegevoegd: drs. Jan W. de Vries en drs. Gerard Termorshuizen. Continue reading “Vijf vragen aan…Achmad Sunjayadi”