Salah satu unsur penting dalam turisme adalah obyek turisme. Tentu saja penting karena untuk apa para turis datang berkunjung ke suatu tempat jika tidak ada yang dilihat.
Category: Coretan Sejarah
Turis itu orang asing
Turis adalah orang asing. Demikian makna dari kata turis ketika pertama kali digunakan. Mereka bukan bagian dari wilayah yang dikunjunginya. Dalam hal ini saya menggunakan konteks di Eropa serta secara khusus di Belanda dan Hindia-Belanda.
Si Anak Hilang Pulang
Jumat sore itu saya bergegas kembali ke apartemen usai menyaksikan film yang merupakan bagian dari perkuliahan. Setelah berkemas saya berjalan menuju ke stasiun Leiden. Hari itu saya telah berjanji pada Sitor untuk menginap di rumahnya, di Apeldoorn, provinsi Gelderland. Beberapa bulan sebelumnya kami bertemu untuk kali pertama di perpustakaan KITLV Leiden.
Perjalanan ke Apeldoorn sudah dirancang sebelumnya. Ketika itu Sitor memberitahu alamat rumahnya serta petunjuk saya harus turun di Schiphol untuk berganti kereta, lengkap dengan jamnya. Ternyata saya terlambat beberapa menit dan ketinggalan kereta. Terpaksalah saya menunggu kereta berikutnya. Sampai di Apeldoorn hari menjelang gelap. Saya menelusuri jalan yang diarahkan Sitor dengan perut lapar hingga tiba di alamat yang dituju. Paaslaan.
Saya agak sedikit bingung karena rumah Sitor bukan vrijstaand huis (rumah yang berdiri sendiri) tapi serupa apartemen. Untuk memastikan saya menaiki tangga memeriksa nomor rumah di depan pintunya. Rupanya saya keliru dan saya kembali ke bawah. Saya menekan bel. Pintu dibuka dengan sosok Sitor berdiri di sana. Saya minta maaf dan menjelaskan keterlambatan saya. Tak lama kemudian telepon berdering. “Ja, hij is onze gast. Bedankt, hoor!,” kata Sitor. Rupanya langkah kaki saya di anak tangga membuat penghuninya curiga dan ia mendengar langkah kaki saya berhenti di depan pintu rumah Sitor dan Barbara. Sang tetangga memastikan itu bukan pencuri.
Barbara, istri Sitor langsung menyilakan saya ke meja makan. Di meja makan rupanya sudah terhidang makanan. “Pak Sitor yang masak,” kata Barbara. Hidangan berupa soto ayam segera saya santap. Sambil makan kami bercakap-cakap berbagai hal, khususnya perkembangan kuliah saya.
Usai santap malam, kami berbincang lagi sambil menikmati minuman. Saya memilih teh hangat. Berbagai hal kami perbincangkan. Salah satunya, saya menceritakan pengalaman saya, JJ Rizal, Agus ketika menyambangi rumah Pramoedya Ananta Toer untuk wawancara. Sitor beranjak dari kursi, sepertinya ia mengambil sesuatu. Ia kembali dengan sebuah buku. Judulnya penghormatan untuk 70 tahun Pramoedya yang disunting Bob Herring. Buku itu diberikan kepada saya. Itu buku kedua yang saya peroleh. Buku pertama terjemahan kumpulan ceritanya dalam bahasa Belanda de oude tijger (1996) saya peroleh pada pertemuan pertama di KITLV.
Pun saya teringat obrolan di kantin KITLV yang begitu hangat beberapa bulan sebelumnya. Saya, Kees Snoek, dan Sitor saling bertukar cerita. Salah satu cerita yang saya ingat pengalaman masa revolusi Sitor. Dengan penuh ekspresif, Sitor menceritakan pengalamannya tentang Amir Syarifudin. Dengan ekspresif, sesekali Sitor bangkit dari bangku, berdiri mempertegas ceritanya. Obrolan bermula ketika saya menceritakan buku Tan Malaka dan Islam terbitan Komunitas Bambu ketika itu. Mengalirlah kisah masa revolusi dari mulut Sitor.
Minggu 21 Desember 2014, Sitor Situmorang wafat di Apeldoorn, Belanda. Selamat jalan, Bung!
Menjelang Natal
Si Anak Hilang
pulang
ke Lembah Kekal
Kenangan Goyang Lidah
Urusan perut memang tidak bisa disepelekan. Namun, bukan berarti urusan ini menjadi segalanya dan mengalahkan urusan lain. Urusan yang jauh lebih penting dari sekedar urusan perut. Ingat saja ungkapan ‘makan bukan sekedar untuk hidup, hidup bukan sekedar untuk makan’. Setidaknya jika Anda berkenan biarlah saya sedikit berkisah mengenai kenangan saya dengan urusan perut yang juga menyinggung lidah untuk bergoyang.
Belajar sejarah
Coba Anda ingat kembali ketika duduk di bangku sekolah. Bagaimana pengalaman Anda ketika belajar sejarah. Deretan angka tahun, peristiwa, nama-nama tokoh pasti muncul kembali. Semua itu harus dihafal karena itulah yang akan muncul di dalam ulangan dan ujian. Singkat kata apakah belajar sejarah hanya sekedar menghafal angka tahun, nama tokoh, tempat, dan peristiwa?
Luber
“Gua deg-degan mau pilih siapa, “ celoteh seorang ibu separuh baya pada rekannya. “Banyak banget, sih. “Kenal juga kagak ama tuh orang-orang,” tambahnya lagi. Begitulah suasana di sekitar TPS (Tempat Pemungutan Suara) di wilayah saya pagi ini, Rabu 9 April 2014.
Semarang…kaline banjir
“Semarang, like Cheribon, is the capital of a residency of the same name as itself and lies at the mouth of a river also of the same name. There is nothing in its appearance from the sea to give one any idea that he is approaching a city of over 97,000 inhabitants and the third city of Java in commercial importance.” Demikian tulis Arthur S. Walcott dalam bukunya Java and Her Neighbours (1914).
Alam Hindia-Belanda di Mata Pendatang
Hutan adalah anugerah Tuhan kepada umatnya. Tentunya Tuhan menciptakan hutan bukan tanpa maksud dan tujuan. Membicarakan hutan, berarti membicarakan alam. Alam berikut hutan sebagai salah satu bagiannya dalam pandangan masyarakat kita pun memiliki tempat tersendiri. Demikian pula dalam pandangan masyarakat asing yang pernah datang di negeri kita dengan berbagai tujuan.
Jakarta Siapa yang Punya?
Judul : Jakarta: Sejarah 400 Tahun
Judul asli : Jakarta: A History
Penulis : Susan Blackburn
Penerjemah : Gatot Triwira
Penerbit : Depok, Masup Jakarta Juni 2011
Tebal : 416 hal
Jakarta jadi ajang ‘pertempuran’ lagi. Setidaknya hal ini yang terlihat dari para kandidat gubernur dan wakilnya yang mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di ibukota negara. Pencalonan para kandidat tersebut memperlihatkan tabuhan ‘genderang perang’ pertama partai-partai politik yang akan bertarung pada Pemilu 2014 nanti.
Plesiran Tempo Doeloe ke-100 (2)
Berikut adalah lanjutan Plesiran Tempo Doeloe ke-100 Sahabat Museum. Para peserta masuk ke bis masing-masing yang akan membawa ke tempat tujuan.
Saya ditempatkan di bus nomor 2 bersama Galuh dan Pak Irvan. Dari e-mail yang saya terima, saya mulai ‘beraksi’ di Stasiun Tanjung Priok dan Passar Baroe.






