
Menjalani hari-hari menjelang pergantian tahun dari 2020 menuju 2021 di sela-sela menyelesaikan tugas akhir tahun. Di tengah-tengah suasana ketidakpastian, tetap berupaya mengumpulkan rasa optimistis untuk dapat tetap menyongsong tahun baru 2021 dan menjalaninya. Jika pada akhir 2019 menjelang tahun 2020 setumpuk rencana disiapkan. Justru pada tahun ini tumpukan tugas sudah di ambang pintu. Rencana memang tetap disiapkan tetapi tidak seperti tahun lalu yang dipenuhi optimistis, kali ini kadar optimistis dibumbui kecemasan.
Continue reading “Penutup Tahun Masa Pagebluk”
Category: Inspirasi
2020 is bijna afgelopen
Het is november. Het is bijna aan het eind van 2020. 2020 is bijna afgelopen. Vorige jaar hetzelfde maand in november verscheen mijn boek over toerisme na een paar maanden onder de redactie was. De pandemie is nog niet klaar en we werken nog thuis. Ik kijk even naar mijn blog in januari 2020. Ik schreef: ‘het jaar 2020. Het getal is uniek want er zijn vier cijfers die dezelfde zijn. Twee nul, twee nul.’
Continue reading “2020 is bijna afgelopen”
Sulit diungkapkan dengan kata-kata
Seperti ini lah situasinya. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Ketika kata-kata sulit diungkapkan, maka yang bergerak adalah…
Kerja Dari Rumah Saja
Fisik boleh tak kemana-mana tetapi fikiran harus tetap waras. Situasi pandemi yang masih berlangsung membuat mobilitas kita sangat terbatas. Ditambah lagi angka mereka yang positif Covid-19 di Indonesia belum memperlihatkan tanda-tanda menurun. Namun, situasi ini tidak membuat kita lantas berbuat apa-apa.
Continue reading “Kerja Dari Rumah Saja”
Saujana Pusaka Indonesia dalam Ingatan
Saujana. Satu kata yang saya dengar kali pertama pada akhir tahun 1990-an, dari sebuah lagu karya kelompok musik KLA Project. Saujana, samudra membentang sambut layarku/ Saujana, hidup di seberang gerlap mimpiku/ Mungkinkah merapat ke sana? Demikian bunyi liriknya yang ditulis oleh Katon Bagaskara, salah seorang personil KLA Project yang memilih kata-kata indah tak lazim namun puitis. Sebagai lulusan Fakultas Sastra, saya memang begitu memuja kata-kata indah yang terjalin, terangkai membentuk makna.
Continue reading “Saujana Pusaka Indonesia dalam Ingatan”
Perjalanan dan Turisme Masa Depan setelah Pandemi
Masih berpuasa di tengah pandemik. Di hari ke-6 bulan Ramadhan. Pagi cukup cerah. Matahari tidak bersinar malu-malu. Saya mengajak si sulung berjalan kaki. Berjemur dan mencari keringat. Masuk ke kampus, ke luar kampus, melewati kelurahan. Memang, sudah naluri kita melakukan pergerakan. Mobilitas dari satu tempat ke tempat yang lain.
Continue reading “Perjalanan dan Turisme Masa Depan setelah Pandemi”
2020
Tahun 2020. Angka yang unik karena ada empat angka yang sama yaitu 2020. Dua kosong, dua kosong. Melihat capaian tahun 2019 dan merencanakan tahun 2020 menjadi bagian dari upaya untuk menyemangati diri tetap melangkah ke depan. Tahun 2019 sebuah buku yang diangkat dari disertasi terbit pada bulan November 2019 silam. Satu book chapter terbit pada bulan Oktober 2019 hasil dari Simposium Membaca Ulang Max Havelaar 2019 di Rangkasbitung serta satu book chapter satu abad sejarah DPR. Beberapa artikel jurnal juga terbit pada 2019 silam. Namun, tahun 2019 tidak ada artikel yang terbit di surat kabar umum. Sementara itu ada beberapa draf artikel yang ditulis sendiri maupun bersama mahasiswa dari beberapa konferensi internasional, seperti Inusharts, Aprish, dan International Seminar on Public History.
Kegiatan lain pada 2019 adalah menjadi anggota tim pengabdian masyarakat yaitu penerjemahan untuk konten website Oorlogsgraven Stichting yang diambil dari kenangan para penyintas. Ada dua hibah penelitian yang diperoleh tahun 2019 silam yaitu mengenai ‘perkembangan musik dan pariwisata di Indonesia dari masa kolonial hingga pascakolonial’ dan ‘model kota kreatif di Indonesia: kajian atas penguatan dan pengembangan kota kreatif Bandung’.
Beberapa seminar dan konferensi nasional maupun internasional, baik yang membawakan makalah atau hanya menjadi peserta, juga diikuti. Dalam proses kegiatan-kegiatan tersebut bertemu dengan orang-orang dan kawan-kawan baru menjadi bagian yang menarik. Misalnya International Seminar Indonesian Heritage and Library Collection dalam rangka memperingati 50 tahun KITLV di Indonesia pada bulan Juni, History Fair Seminar bulan Oktober, International Forum for Advancement of Culture pada bulan Oktober, Seminar Sejarah Nasional pada bulan Desember 2019.
Rencana 2020 hampir serupa dengan agenda 2019 yaitu perbaikan artikel untuk jurnal nasional dan internasional, kolaborasi penelitian, perbaikan artikel bersama mahasiswa untuk book chapter, draf naskah buku dengan tema-tema yang masih ‘rahasia’. Untuk karir, tahun ini mengumpulkan semua berkas yang diperlukan untuk kenaikan ‘pangkat’, meskipun sempat terdengar selentingan bahwa prasyarat yang ditetapkan semakin sulit tetapi ‘lebih baik menyalakan senter daripada memaki dalam kegelapan’. Semoga semua dimudahkan dan dilancarkan.
Foto: taudariblogger.info
koleksi Reno Andam Suri
‘November rain’
“Walaupun topik sejarah pariwisata di Bali tahun 1900 sampai 1930-an sudah biasa ditemukan dalam buku-buku para pakar seperti Michel Picard, sejarah pariwisata keseluruhan Indonesia masih merupakan ladang baru. Kita sangat berterima kasih pada Achmad Sunjayadi untuk membuka ladang yang luas ini.” Demikian tulis Prof. Adrian Vickers dari Sydney University dalam kata pengantar untuk buku Pariwisata di Hindia-Belanda 1891-1942. Buku ini diangkat dari disertasi yang saya pertahankan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia pada bulan Juli 2019 silam.
Continue reading “‘November rain’”
Sibuk….Sibuk…Sibuk
Bulan Oktober 2019 kembali diisi dengan beberapa kegiatan baik akademik dan non akademik. Untuk kegiatan ‘fulitik’, masyarakat Indonesia menyaksikan pelantikan presiden dan wakil presiden serta pengumuman para menteri di kabinet untuk periode 2019-2024. ‘Kejutan’ juga mewarnai pengumuman nama-nama para menteri dalam kabinet. Seharusnya ‘kejutan’ itu tidak perlu membuah gundah ‘gundala’, mengingat di era milenial yang penuh disrupsi segala hal dapat saja terjadi.
Untuk kegiatan akademik seperti biasa kegiatan mengajar baik di Depok, maupun di Salemba. Demikian halnya dengan persiapan penulisan book chapter hasil konferensi internasional bulan Juli lalu. Hasil review dari editor harus segera ditindaklanjuti untuk tahap berikut. Kegiatan lain adalah proses persiapan draf naskah buku dengan EFEO yang diharapkan akhir tahun ini segera terbit. Mulai dari urusan penyuntingan, revisi, sampai penentuan sampul menjadi bagian dari proses tersebut. Proses yang harus dinikmati.
Kabar baik lain adalah salah satu naskah artikel sebagai hasil hibah riset klaster fakultas sudah masuk ke dalam jurnal fakultas. Artikel lainnya akan disajikan dalam konferensi internasional bulan November dan artikel interdisiplin sedang digarap dan mudah-mudahan dapat selesai tepat waktu. Pada bulan ini laporan akhir untuk hibah riset klaster sedang dipersiapkan.
Pada awal bulan Oktober ini saya diminta mengisi acara seminar Studi Klub Sejarah Mahasiswa Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia untuk membahas pengaruh kuliner Belanda di Nusantara. Acara ini merupakan rangkaian acara History Fair 2019. Permintaan mereka sudah saya terima sejak bulan lalu. Kali ini saya kembali satu panggung dengan Kang Fadly Rahman dari Unpad, penulis buku Jejak Rasa Nusantara dan Rijsttafel. Sebelumnya, kami satu panel dalam acara Simposium Membaca Ulang Max Havelaar di Rangkasbitung bulan September lalu. Dalam kesempatan seminar ini selain tampil bersama Kang Fadly, juga dengan Ibu Dilah Kencono dari Program Studi Cina. Diskusi yang ‘lezat’ berjalan dengan lancar. Saya menjadi pembicara pertama, disusul Ibu Dilah, dan terakhir Kang Fadly. Beberapa pertanyaan menarik dari para peserta mengemuka setelah ‘hidangan’ dan ‘sajian’ para pembicara. Apalagi di antara peserta mahasiswa terdapat murid-murid SMA yang juga mengajukan pertanyaan. Hal ini menjadi penanda harapan yang baik untuk pengembangan ilmu sejarah di masa depan yang konon para pegiatnya berjalan di ‘jalan sunyi’.
Pada bulan ini juga saya terpilih menjadi peserta International Forum for Advancement of Culture (IFAC) 2019 setelah mengajukan abstrak untuk sub tema ‘Sharing History, Safeguarding Cultural Diversity’ dari beberapa sub tema yang ditentukan oleh panitia. Sub tema lainnya adalah Harnesing Big Data, Fostering Cultural Practices, Festival as Method: A Network for Action, Bringing the People Back in: A Case for Popular Policy-Making in Culture, Culture-Based Economy in the Era of Industrial Revolution 4.0, Well-Being for All: Towards A Universal Basic Right to Happiness. Acara IFAC 2019 berlangsung di Hotel Fairmount, Jakarta pada tanggal 10-13 Oktober 2019. Para kontributor acara tersebut antara lain Hilmar Farid, Harry Waluyo, Daud Aris Tanudirjo, Alisan Heritage, Idham Setiadi, Basuki Antariksa, Budiman Sudjatmiko.
Kesempatan mengikuti konferensi internasional untuk mengisi catu daya pikiran dan membuat ‘bahagia’, saya gunakan dalam acara yang merupakan bagian dari Pekan Kebudayaan Nasional 2019. Beberapa hal menarik saya peroleh dalam acara tersebut, antara lain makan bajamba yang diselenggarakan oleh Komunitas Jalansutra. Makan bajamba adalah tradisi makan bersama dari Minangkabau dengan cara duduk di lantai dan menikmati hidangan bersama-sama. Hidangan yang tidak pernah kita temui di rumah makan Padang tersaji. Hal lain adalah pengalaman mengikuti acara seremoni penutupan Pekan Kebudayaan Nasional yang disajikan ala milenial. Pertemuan dengan teman-teman baru dari berbagai daerah dan luar negeri dalam acara tersebut membuka wawasan sekaligus menambah gagasan hal-hal yang dapat digarap tahun mendatang. Semoga.


