Revolusi, Tempe, dan hal lain-lain

Suatu revolusi membutuhkan logistik yang baik karena jika urusan perut tidak ditangani, maka revolusi dapat buyar alias gagal. Salah seorang dosen saya pernah menceritakan betapa pentingnya ‘urusan logistik’ ini dalam sebuah revolusi. Pasukan telah siap sedia untuk melakukan revolusi, tetapi ketika satu hal penting yaitu urusan logistik terlewatkan, maka revolusi yang dirancang berhari-hari, berbulan-bulan dapat lewat begitu saja. Singgah pun enggan.

Jangankan revolusi, untuk urusan kegiatan rutin tahunan seperti seminar, konferensi hingga rapat, urusan logistik menjadi kunci. Ditinjau dari rancangan pendanaan, ‘urusan logistik’ mengisi porsi yang cukup besar, selain ‘transportasi’ tentunya. Acara-acara konferensi, seminar pada masa pandemi yang diselenggarakan secara daring (bukan harapan para peserta), menghapuskan pos untuk urusan logistik. Sila menikmatinya di rumah masing-masing.

Sebulan sudah 2022 melewati kita dan berbagai hal sudah banyak terjadi. Kita pun masih berada dalam situasi pandemi yang mudah-mudahan tidak seburuk tahun lalu. Oleh karena itu strategi pun perlu dirancang untuk menghadapi bulan-bulan mendatang. Di tengah hiruk-pikuk berita mengenai pameran revolusi di Rijksmuseum Amsterdam, laporan hasil penelitian tiga lembaga di Belanda (KITLV, NIOD, NIMH) yang dikerjakan sejak 2017 tentang Kemerdekaan, Dekolonisasi, Kekerasan, dan Perang di Indonesia: 1945-1950, publik di Indonesia lebih tenang dibandingkan berita langkanya minyak goreng dan tempe.

Beberapa hari setelah berita tentang langkanya minyak goreng dan tempe, beberapa pedagang gorengan di wilayah saya tidak berjualan. Padahal, saya memerlukan beberapa gambar mereka, terutama pedagang pikulan untuk menjadi ilustrasi artikel saya mengenai kuliner jalanan di Hindia-Belanda yang diterbitkan pada bulan Februari ini. Gambar para pedagang keliling tersebut akan digunakan untuk memperlihatkan kondisi saat ini yang tidak mengalami perubahan, seperti ‘dibekukan oleh sang waktu’. Terpaksa artikel tersebut tanpa ilustrasi mereka.

Syukurlah, beberapa hari lalu para pedagang mulai berjualan kembali. ‘Revolusi’ belum selesai. Baru saja sedikit bernafas lega kembali dengan kembalinya tempe, kita dikejutkan dengan berita serangan Rusia ke Ukraina. Bagi masyarakat yang ingin lebih paham mengenai situasi tersebut, sebuah berita beredar di grup-grup WA. Isinya begini:
Kalau mau lebih ngerti perang Rusia-Ukraina saat ini, baca nih versi drakornya
Lebih dari 20 tahun yang lalu, Ukraina menceraikan mantan suaminya (Rusia), dan beberapa anak menjadi miliknya. Mantan suaminya juga sangat akomodatif padanya dan meninggalkan banyak harta keluarga untuknya. Setelah itu, mantan suaminya juga melunasi lebih dari 200 miliar utang untuknya.

Setelah menyingkirkan mantan suaminya, Ukraina mulai digoda oleh play boy (AS) dan kelompoknya (NATO) sampai dia benar-benar jatuh ke dalam pelukan mereka. Itu masih oke, (tapi) dia benar-benar manut kepada si playboy, dan dipakai untuk menyerang mantan suaminya. Mantan suaminya sangat marah dan bersikeras mengembalikan seorang anak: Krimea.
Ukraina mulai menyimpan dendam dan mimpi. Dia ingin menikah dengan keluarga NATO dan memeras mantan suaminya. Si playboy tidak mau menikahinya. Dia hanya ingin menggunakan dia untuk menggertak mantan suaminya. Dengan segala upaya, kedua anak itu terpaksa menangis dan mencari ayah mereka. kelompok playboy itu sewaktu2 mengirim beberapa barang kadaluarsa (amunisi).
Ukraina mengira dia memiliki seseorang untuk mendukungnya, dan bahkan lebih lancang terhadap mantan suaminya. Mantan suaminya tidak tahan lagi, dan menatap anak-anak yang malang, dan bergegas meminta kedua anak itu kembali, jadi mereka mulai berkelahi.
Netizen Weibo memposting penjelasan tentang hubungan antara Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, dll ini dengan drama keluarga.

Benar-benar, seperti “Layangan Putus”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *