Mengenang Mona Lohanda

“Selamat Tahun Baru 2021! Semoga tetap sehat dan sukses. Salam, monalohanda.” Demikian balasan yang saya terima melalui surat elektronik tertanggal 28 Desember 2020 dari Ibu Mona Lohanda. Ketika itu saya mengirim hasil deskripsi Tijdschrift koleksi Museum Nasional yang saya kerjakan selama beberapa bulan. Bu Mona menjadi editor hasil deskripsi. Tanggal 16 Januari 2021 saya menerima kabar duka. Ibu Mona wafat.

Ketika mendapat kabar dari Mbak Diana T Yudhistira pada 11 Oktober 2021 yang menanyakan kesediaan saya menyumbangkan tulisan untuk buku mengenang Ibu Mona, tanpa pikir panjang saya menyambutnya. Saya bersedia ikut. Jujur saja, ketika itu saya belum tahu apa yang akan saya tulis. Acuan tema mengenai arsip, VOC, Batavia membuat saya berpikir keras. Pada saat yang bersamaan Kompas.id meminta artikel mengenai fotografi masa kolonial dengan tenggat akhir bulan. Berpacu dengan kegiatan lain yaitu persiapan kongres studi Belanda dalam rangka 50 tahun Program Studi Belanda secara daring, saya mengerjakan penulisan tersebut.

Setelah membaca beberapa literatur dan coretan di buku catatan, pilihan saya akhirnya jatuh untuk membuat artikel tentang stadsherberg di Batavia pada masa VOC. Kebetulan, saya memiliki rencana untuk menulis beberapa tema yang berlatar masa VOC. Dari hasil penelusuran awal, ternyata ada arsip-arsip mengenai stadsherberg di Batavia yang tersimpan di ANRI. Sayangnya, saya tidak dapat menelusuri sumber primer di ANRI karena situasi pandemi. Sambil mengerjakan permintaan artikel dari Kompas, saya menyelesaikan artikel persembahan untuk Bu Mona.

Dalam artikel tersebut saya membahas asal-mula stadsherberg di Batavia yang ternyata berakar pada herberg yang ada di Belanda. Siapa saja para pemilik, fungsi dan kegiatan apa yang dilakukan di stadsherberg di Batavia, saya ulas. Alhamdulillah, tanggal 20 Oktober 2021 artikel tersebut telah siap. Artikel tersebut dengan artikel-artikel dari para kontributor lainnya akan diterbitkan oleh Pustaka Pias, Bandung.

Akhir bulan Maret 2022, saya diundang untuk menjadi salah satu narasumber dalam soft-launching buku tersebut di Museum Sejarah Jakarta. Saya berbicara pada sesi pertama bersama Nadia Purwestri, Jajang Nurjaman. Dalam kesempatan itu saya menyampaikan artikel yang saya tulis untuk buku persembahan Mona Lohanda. Para penulis lainnya adalah Didi Kwartanada, Annabel Teh Gallop, Andi Achdian, Aiko Kurosawa, Lina Lohanda, Leonard Blussé, Jajang Nurjaman, Jafar Suryomenggolo, Eka Budianta, Razif, Purnawan Basundoro, Peter Carey, Nadia Purwestri, M. Fauzi, Yerry Wirawan, Wilson, Tri Wahyuning M Irsyam, Toto Widyarsono, Restu Gunawan.

Saya mengenang Ibu Mona sebagai salah satu pakar mengenai arsip dan sejarah yang handal, khususnya masa kolonial. Sekitar 12 tahun silam salah seorang kawan yang sedang menyelesaikan doktoral di Cornell University mengenai teknologi listrik di Indonesia masa kolonial, menanyakan siapa yang dapat ia temui untuk menelusuri arsip di ANRI, saya langsung teringat Ibu Mona. Ketika kami bertemu di kampus UI Depok, kawan saya menceritakan pengalaman bertemu dengan Ibu Mona sambil memperlihatkan beberapa buku karya Bu Mona yang ia peroleh.

Pertemuan saya pertama kali dengan Ibu Mona sekitar tahun 2000-an. Ketika itu saya mengikuti sebuah seminar mengenai VOC. Bu Mona menyampaikan makalah dengan suaranya yang khas penuh semangat. Sesekali pernah juga diajak oleh J.J. Rizal. menyambangi ruang kerja beliau di ANRI Jalan Ampera Raya. Pertemuan ilmiah terakhir yang saya hadiri dengan Ibu Mona sebagai salah satu pembicara adalah Konferensi Nasional Sejarah tahun 2016 di Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *