Di sela-sela acara konferensi IAHA (International Association of Historians of Asia) ke-22 di Solo 2-6 Juli 2012 lalu, para peserta konferensi memiliki kesempatan mengunjungi Museum Batik Danar Hadi.
Category: Artikel
Plesiran Tempo Doeloe ke-100 (2)
Berikut adalah lanjutan Plesiran Tempo Doeloe ke-100 Sahabat Museum. Para peserta masuk ke bis masing-masing yang akan membawa ke tempat tujuan.
Saya ditempatkan di bus nomor 2 bersama Galuh dan Pak Irvan. Dari e-mail yang saya terima, saya mulai ‘beraksi’ di Stasiun Tanjung Priok dan Passar Baroe.
Plesiran Tempo Doeloe ke-100 (1)

Awal April 2012 saya dihubungi Ade Purnama a.k.a Adep, bos Batmus. Dalam rangka acara ke-100 Plesiran Tempo Doeloe (PTD) saya diminta menjadi salah satu narasumber.
Dengan Adep sendiri saya sudah kenal lama. Sekitar tahun 2004 dalam acara peluncuran terjemahan buku Batavia Awal Abad 20 Gedenkschrift van een oud koloniaal dari Clockener Brousson yang saya terjemahkan dan diterbitkan oleh Komunitas Bambu, Adep dan rombongannya turut meramaikan acara tersebut.
Sudah cukup lama saya mendengar kegiatan Sahabat Museum (Batmus) dengan acara Plesiran Tempo Doeloe. Acaranya tidak hanya di Jakarta, acara di luar Jakarta bahwa di luar pulau Jawa juga diminati. Dari Pak Lilie Suratminto yang kerap menjadi narasumber acara mereka, saya mendapat kabar bahwa pernah dalam salah satu acaranya mengumpulkan sekitar 900 peserta. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana mengurus 900 peserta tersebut plesiran. Continue reading “Plesiran Tempo Doeloe ke-100 (1)”
Vijf vragen aan…Achmad Sunjayadi

Vijf vragen van de redactie Internationale Vereniging voor Neerlandistiek (IVN) in 2012 aan de hoofd van Vakgroep Nederlands Universitas Indonesia
Vraag 1: Wat maakt dat er een afdeling Nederlands in Jakarta bestaat?
Volgens prof. Jan W. de Vries van de Universiteit Leiden ontving de Nederlandse Minister voor Ontwikkelingshulp in mei 1967 een brief van de rector van de Universitas Indonesia te Jakarta waarin verzocht werd om ondersteuning bij de oprichting van een studierichting Neerlandologie. Een dergelijke studierichting werd van groot belang geacht omdat kennis van het Nederlands bij de beoefening van verschillende wetenschapsgebieden een noodzaak was.
Vanaf 1968 was het Nederlandse Ministerie van Onderwijs en Wetenschappen bij de oprichting van de nieuwe opleiding betrokken. In 1970 werd aan de Faculteit der Letteren van de Universitas Indonesia de vakgroep Nederlandse taal-, en, letterkunde geopend. Deze begon met 37 studenten, 10 studenten Nederlands als tweede taal (voornamelijk docenten) en 34 bijvakstudenten. Hoofd van de nieuwe afdeling was prof.dr. Harsya Bachtiar, vakgroepssecretaris werd dra. Afiah Thamrin. Twee neerlandici uit Nederland werden aan de afdeling toegevoegd: drs. Jan W. de Vries en drs. Gerard Termorshuizen. Continue reading “Vijf vragen aan…Achmad Sunjayadi”
Resep Masakan dari Masa Lalu

Indonesia kaya akan beragam masakan. Sayangnya tidak semua resep masakan tersebut tercatat. Beragam resep masakan tersebut, seperti halnya budaya yang berkembang di Indonesia, diturunkan secara lisan secara turun menurun. Catatan resep dicatat dalam ingatan. Alhasil jika tidak ada lagi yang meneruskan, masakan tersebut hanya akan menjadi kenangan.
Buku resep masakan tertua di Hindia-Belanda diperkirakan adalah Kokkie Bitja ataw Kitab Masak Masakan India njang terseboet bagimana orang orang sediakan segala roepa roepa makanan, maniesan, atjaran dan sambalan . Buku ini ditulis oleh Nona Cornelia dan dalam katalog KITLV Leiden tercatat pada 1845 sudah memasuki cetakan ketiga. Penerbitnya adalah Lange & Co Batavia.
Menurut Ed Vos dalam artikelnya “Kokkie Bitja. Bitja de keukenmeid. Voorberichten in het Nederlands” (2005) buku Kokkie Bitja, meskipun kata pengantarnya ditulis dalam bahasa Belanda, resep-resepnya ditulis dalam bahasa Melayu. Apakah dengan demikian buku resep ini ditujukan bagi para juru masak pribumi yang pada masa itu dikenal dengan sebutan kokkie atau untuk kalangan Indo yang menguasai bahasa Melayu? Hal menarik lainnya adalah ucapan terima kasih dalam buku Kokkie Bitja yang menggunakan sejumlah nama-nama khayalan seperti Mevrouw SARONDENG, Mejuffrouw SESATé, Njonja SMOOR. Nama-nama itu mengingatkan kita pada jenis masakan yang ada di Hindia-Belanda. Continue reading “Resep Masakan dari Masa Lalu”
Saya menulis (lagi)….
Menyambut usia blog ini yang kelima, saya berniat akan menulis (lagi). Saya katakan (lagi) karena setelah sekian lama, kegiatan menulis yang saya lakukan seperti tak berjiwa dan tak bermakna. Saya menulis karena terpaksa, menulis karena tugas, menulis karena tuntutan pekerjaan. Saya menulis dengan terburu-buru tanpa menikmatinya.
From the Domestic Service to the Public Sphere: the Role of Native Servants in the Colonial Tourism Accomodation in the Dutch East Indies
One important aspect of colonial tourism in the Dutch East-Indies is accommodation. These can be hotel, losmen (inn), and pasanggrahan (guest house/bungalow). In its history, the development of the accommodation in the Dutch East-Indies can be traced until the seventeen century in the VOC era. Continue reading “From the Domestic Service to the Public Sphere: the Role of Native Servants in the Colonial Tourism Accomodation in the Dutch East Indies”
Ganyang Preman atau Kemiskinan?
Awal tahun 2012, kita dihebohkan (lagi) dengan aksi premanisme. Meskipun sebenarnya itu bukanlah sesuatu yang baru. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendiri meminta aparat keamanan lebih aktif mengantisipasi terjadinya kekerasan. Seperti yang disampaikan beliau pada 24 Februari 2012 silam: “…. Laksanakan antisipasi dengan benar, tangani secara profesional, dan selesaikan itu dengan tuntas.” (Kompas, 25/2/2012)
Sehubungan dengan permintaan presiden tersebut, mengingatkan saya pada apa yang terjadi tiga tahun silam. Saya sempat mendokumentasikannya dalam bentuk tulisan tiga tahun silam, dengan judul “Ganyang Preman atau Kemiskinan?”. Selamat menikmati.
Peta Kuno, Kolonialisme dan Karaeng Pattingalloang
Menjelang kunjungan ke Antwerpen tahun ini berikut tulisan saya mengenai kenangan ketika berkunjung ke sana beberapa tahun silam.
Continue reading “Peta Kuno, Kolonialisme dan Karaeng Pattingalloang”
‘Belanda Hitam’ di Hindia-Belanda
Judul : Serdadu Afrika di Hindia-Belanda 1831-1945
Judul asli : Zwarte Hollanders: Afrikaanse Soldaten in Nederlands-Indië
Penulis : Ineke van Kessel
Penerjemah : S.Hertini Adiwoso
Penerbit : Komunitas Bambu- NLVPF- IAK, Mei 2011
Tebal : xiv + 306 halaman
ISBN : 978-979-373-198-8
Apa yang muncul di benak Anda jika mendengar tentang orang Afrika di Indonesia? Mungkin Anda akan menyebut para kriminal, penjual-penyelundup narkoba atau pemain sepakbola, anggota legiun asing asal Afrika yang membela kesebelasan profesional di sini. Continue reading “‘Belanda Hitam’ di Hindia-Belanda”




