Dinginnya pagi memeluk tubuh. Mata masih enggan dibuka. Aroma harum menggelitik penciuman. Hidungku kembang-kempis mencium aroma yang belum aku akrabi. Perutku tiba-tiba lapar. Aku menggeliat dan menengok. Kursi kemudi kosong. Aku mengerjapkan mata. Dari arah jendela aku melihat bapak berjongkok di depan emperan toko yang masih tutup, menikmati sesuatu di hadapannya. Bapak mengangkat daun pisang di hadapannya. Aku pun membuka pintu mobil, berjalan ke arahnya.
Category: Artikel
“Piye kabare mas bro? Penak zamanku to…”
Ini kali kedua saya pergi ke Jogja. Bukan kebetulan hotel tempat saya menginap pun sama. Hotel Saphir di Jl. Laksda Adi Sucipto yang pada akhir bulan Mei lalu menjadi tempat saya menginap, kembali saya sambangi. Jika pada kunjungan pertama merupakan tugas dari Kemendikbud, pada kunjungan kedua ini sehubungan dengan konferensi internasional yang diadakan fakultas.
Kapan ke Jogja lagi?
Sebuah iklan muncul di layar televisi dalam kereta yang membawa saya ke Solo tahun lalu (2012). Di sana terpampang iklan bertuliskan ‘Kapan ke Jogja lagi?’. Iklan itu dari produsen kaos terkenal di Jogya yaitu Dagadu. Maka kota Jogja pun saya lewati sebelum sampai ke Solo. Sekilas saya melihat Jogja dari balik jendela kereta ketika kereta berhenti menurunkan penumpang di Stasiun Tugu.
Semarang…kaline banjir
“Semarang, like Cheribon, is the capital of a residency of the same name as itself and lies at the mouth of a river also of the same name. There is nothing in its appearance from the sea to give one any idea that he is approaching a city of over 97,000 inhabitants and the third city of Java in commercial importance.” Demikian tulis Arthur S. Walcott dalam bukunya Java and Her Neighbours (1914).
Sejarah Naratif
Eksplanasi naratif merupakan cabang dari metodologi hermeneutika yang berkembang pada abad 20. Narativisme atau eksplanasi naratif dikembangkan oleh Ankersmit yang mengikuti pendapat Johann Gustav Droysen (1808-1886) bahwa kisah memiliki kemampuan merangkaikan peristiwa-peristiwa dalam suatu bentuk utuh atau holistik (Leirissa 2002:16).
Dilihat dari sejarahnya narativisme merupakan bentuk awal dari sejarah kritis yang dirintis pada akhir abad ke-19. Salah satu tokoh narativisme yang terkenal adalah Leopold Von Ranke. Ranke menganjurkan supaya sejarawan menulis apa yang sebenarnya terjadi, wie est eigentlich gewesen (Kuntowijoyo 2001:58) Oleh karena itu narativisme menitikberatkan pada peristiwa, khususnya peristiwa politik.
Melalui pendekatan ini sejarawan diharapkan dapat menggambarkan keadaan yang mendekati kebenaran dari peristiwa masa lalu dengan cara menjelaskan fakta-fakta yang terdapat dalam sumber sejarah.
Kisah atau naratif bertitik tolak dari gagasan yang dipilih oleh sejarawan bersangkutan yang dijadikan acuan untuk membuat seleksi atas fakta-fakta dalam sumber sejarah. Dengan kata lain bukanlah masa lampau tersebut yang menjadi patokan melainkan gagasan dari sejarawan, misalnya mengenai peristiwa-peristiwa seperti perang, renaissance (Leirissa 2002:16)
Namun, ada beberapa kelemahan eksplanasi naratif ini. Continue reading “Sejarah Naratif”
Akhir tahun 2012
Tahun 2012 nyaris berlalu. Sempat dihebohkan karena diyakini sebagai akhir dari dunia alias kiamat. Orang-orang yang mempercayainya menunggu dengan cemas. Mulai dari 12-12-12 hingga 21-12-12. Semua berlalu tanpa terjadi apa pun.
Ku’pe
Kenangan bisa dibangkitkan dengan berbagai medium. Entah itu benda yang dapat kita lihat, sentuh dan cium atau pun sesuatu yang dapat kita dengar. Salah satunya album-album lawas dari kelompok musik legendaris Indonesia ini yaitu Koes Plus.
Makna Dari Selembar Foto
Bagaimana perasaan Anda jika foto-foto koleksi Anda yang sifatnya pribadi dinikmati oleh orang lain? Perasaan yang timbul bisa campur-aduk. Bisa senang, bangga, terharu bahkan dapat pula sedih bercampur malu. Yang terakhir ini bila foto-foto tersebut memang sebenarnya tidak dimaksudkan dikonsumsi untuk umum.
Alam Hindia-Belanda di Mata Pendatang
Hutan adalah anugerah Tuhan kepada umatnya. Tentunya Tuhan menciptakan hutan bukan tanpa maksud dan tujuan. Membicarakan hutan, berarti membicarakan alam. Alam berikut hutan sebagai salah satu bagiannya dalam pandangan masyarakat kita pun memiliki tempat tersendiri. Demikian pula dalam pandangan masyarakat asing yang pernah datang di negeri kita dengan berbagai tujuan.
Jakarta Siapa yang Punya?
Judul : Jakarta: Sejarah 400 Tahun
Judul asli : Jakarta: A History
Penulis : Susan Blackburn
Penerjemah : Gatot Triwira
Penerbit : Depok, Masup Jakarta Juni 2011
Tebal : 416 hal
Jakarta jadi ajang ‘pertempuran’ lagi. Setidaknya hal ini yang terlihat dari para kandidat gubernur dan wakilnya yang mencalonkan diri menjadi orang nomor satu di ibukota negara. Pencalonan para kandidat tersebut memperlihatkan tabuhan ‘genderang perang’ pertama partai-partai politik yang akan bertarung pada Pemilu 2014 nanti.




