Oeroeg di Binus International School

Binus International School Simprug, bincang novel Oeroeg 2010, Novel Oeroeg, diskusi novel Oeroeg 2010,

Satu surat masuk ke alamat surat elektronik saya. Isinya tawaran untuk mengisi acara diskusi buku di sebuah sekolah di kawasan Simprug. Saya diminta menyampaikan uraian tentang perkembangan sastra Belanda secara umum di Indonesia yang dikaitkan dengan novel Oeroeg.
Continue reading “Oeroeg di Binus International School”

Depok retroversi

Jika dihitung secara formal (dibuktikan dengan kartu identitas), sudah lebih dari lima tahun saya tinggal di kota Depok ini. Kalau dihitung secara tidak formal, lima tahun ditambah tujuh tahun (masa studi dan masa magang) maka menjadi dua belas tahun. Cukup lama bukan?

Depok sekarang berbeda dengan Depok delapan belas tahun silam. Ketika saya mulai menginjakkan kaki di sini untuk mengangsu ilmu. Dulu udaranya sepertinya lebih segar. Pukul 6.30 ketika itu di sela-sela pepohonan karet masih tampak kabut dan tampak tetesan embun.

Soal macet jangan ditanya. Oleh karena itu jika tidak terlalu penting atau memerlukan pertemuan fisik, saya enggan meluncur ke Jakarta. Durasi perjalanan pergi dan pulang membuat jiwa tertekan. Maka untuk ‘urusan bisnis’ saya lebih senang menggunakan teknologi (jika memungkinkan).

Saya pernah mengalami sendiri pengalaman, berangkat ketika matahari belum menampakkan dirinya dan kembali ketika mulai terbenam. Berangkat dan pulang disambut antrian kendaraan alias macet. Menyebalkan dan menjemukan tapi itu lah kenyataannya sekarang.

Jangankan delapan belas tahun silam, lima tahun lalu saja situasi dan kualitas udaranya jauh berbeda. Ketika itu saya masih bisa menghirup udara bersih di pagi hari dengan leluasa. Genangan air jika hujan tak terlalu banyak. Namun, melihat situasi sekarang sepertinya harus dipikirkan lagi bagaimana situasi lima tahun yang akan datang.

Biar begitu saya sudah telanjur sayang dan cinta dengan kota ini. Kota yang dulu tidak pernah saya bayangkan akan saya tinggali dan menjadi kota kelahiran dua buah hati saya.

Mungkin saja kelak kota ini hanya menjadi persinggahan atau sekedar tempat saya membagi ilmu karena kami telah menemukan ‘sarang’ lain yang masih ‘perawan’ dan mungkin lebih manusiawi.

Selamat Jalan Pak Lei (Prof. R.Z Leirissa)

“Memang pada masa itu ada turis yang datang?,” tanya Professor R.Z. Leirissa ketika saya mengajukan usulan tesis mengenai turisme pada masa kolonial di Hindia-Belanda.  Saya agak gelagapan tapi beruntung sebelum saya mengajukan usulan itu, saya pernah riset di Arsip Nasional Jakarta dan Perpustakaan Nasional. Maka saya jawab dengan yakin: “Ada, Prof!”  Professor  Leirissa  tersenyum sambil mengangguk , “Oke, silakan lanjut!” Continue reading “Selamat Jalan Pak Lei (Prof. R.Z Leirissa)”

Pertengahan tahun

Tak terasa sudah enam bulan di tahun 2010 ini.  Sekarang sudah bulan Juni. Komitmen dan rencana yang dibuat pada awal tahun mulai dilihat lagi. Ada yang belum  terwujud, separuh, sepertiga, seperempat, seperlima bahkan ada yang sama sekali belum terwujud. Masih sekedar wacana, demikian kata pejabat atau tokoh di televisi. Kalau sudah demikian, harus dikuatkan lagi nawaitu dan komitmen yang pernah terucap dan tertulis. Supaya tidak keluar jalur dan menciptakan keresahan publik di rumah. Continue reading “Pertengahan tahun”

Sekilas sejarah Program Studi Belanda FIB Universitas Indonesia

Enam tahun sudah saya berada di Program Studi Belanda FIB (FS) UI.  Sebelumnya saya sempat ‘mengembara’, ‘berguru’ pengalaman di lain pulau.  Saatnya kembali ke barak (pinjam istilah militer). Mungkin tidak banyak yang tahu jika Program Studi Belanda yang ada di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, sudah berusia 40 tahun. Berikut sekilas sejarah Program Studi Belanda FIB UI.

Continue reading “Sekilas sejarah Program Studi Belanda FIB Universitas Indonesia”

twenty ten…twintig tien…2010

Awal tahun…2010

Tahun 2009 yang telah lewat menyisakan beragam kisah. Banyak hal yang membuat pengalaman kehidupan bertambah dan menjadi pelajaran untuk menghadapi masa depan serta menebalkan kualitas hidup.

Satu hal yang tak terlupakan adalah bertambahnya teman-teman baru yang diperoleh selama tahun 2009 silam. Kepada mereka saya ucapkan terima kasih atas pertemanan kita.

Tahun 2009 silam, terus terang saya tak banyak mereview buku…sebulan hanya satu atau dua buku yang berhasil saya review. Alasan kesibukan dan rasa malas sepertinya menjadi dalih umum yang seharusnya tidak dijadikan alasan saya.

Tahun 2009 silam, saya mendapat kiriman buku-buku menarik yang (seharusnya) direview dan dikirimkan ke media (atau blog saya). Namun, waktu 24 jam sepertinya kurang (atau mungkin saya yang belum bisa mengatur 24 jam itu). Kepada teman-teman penerbit: AKOER, Redline Publishing, KPG, GPU, Pena Wormer saya haturkan mohon maaf sebesar-besarnya jika tahun 2009 tidak sesuai harapan. Semoga di tahun 2010 kita bisa bekerja sama lagi dengan lebih baik. Ini merupakan salah satu resolusi saya di tahun 2010.

Selain mereview buku, tumpukan naskah menanti untuk diselesaikan lalu diserahkan penerbit. Ini resolusi saya lain yang harus diwujudkan. Resolusi lain, menjalankan amanat dari fakultas dengan sebaik-baiknya dan semoga membuat rekan-rekan sekerja saya merasa lebih baik.

Lalu, resolusi yang tidak kalah pentingnya adalah…kembali fokus pada tema Phd yang sempat terbengkalai (alasan lagi 🙂   dengan harapan bisa selesai tepat waktu. Finish what you started.

Kepada keluarga (istri dan anak-anakku), ibu dan adik-adikku tercinta, kerabat, sahabat dan teman-teman yang baik…saya mengharap dukungan dan doanya…..Semoga di 2010 kita dilimpahi rahmat dan kesehatan serta kualitas hidup kita lebih ditingkatkan Allah SWT…Amin..

Salam,

AS

Singkong dan Keju

Mungkin belum banyak orang yang tahu jika singkong atau cassava adalah tanaman impor di Indonesia.  Tanaman ini adalah pohon tahunan tropika dan subtropika. Kita mengkonsumsi umbinya yang menghasilkan karbohidrat. Daunnya pun kerap kita konsumsi, baik sebagai lalap atau dijadikan sayur. Tanaman ini sebenarnya berasal dari benua Amerika. Tepatnya di Amerika Selatan yang kemudian dikembangkan di Brazil dan Paraguay pada masa pra-sejarah.
Continue reading “Singkong dan Keju”

Budaya posisi vs Budaya oposisi

Semarak ‘pesta’ pemilihan presiden usai sudah. Meski masih menyisakan kegundahan dan kegusaran pihak tertentu karena dugaan kecurangan dalam ‘pesta’ itu. Hingga kini pun penghitungan suara masih berlangsung walau pemenangnya telah diketahui. Continue reading “Budaya posisi vs Budaya oposisi”

Jangan sekedar bangga pada masa lalu

Artikel Prof. Satjipto Rahardjo (Kompas, 18/4/09) seolah ‘menyentil’ kita, khususnya mengenai masa lalu hubungan Indonesia-Belanda.  Semua itu memang telah menjadi catatan sejarah, tumpukan arsip dan kajian ilmiah yang justru membutuhkan kerelaan hati untuk mengubahnya menjadi sebuah aksi. Bukan sekedar catatan belaka Continue reading “Jangan sekedar bangga pada masa lalu”

‘Botol Tjebok’

Salah satu kebutuhan biologis manusia yang tidak kalah pentingnya selain makan adalah buang air, baik buang air besar maupun kecil. Tentu saja, orang boleh makan atau minum sebanyak-banyaknya tapi apakah makanan yang dikonsumsinya terus disimpan dalam tubuhnya? Pastilah makanan dan minuman itu setelah diurai dan digunakan oleh tubuh akan dibuang dalam bentuk sisa-sisa kotoran. Continue reading “‘Botol Tjebok’”