Mari Kita Bergembira?

Setengah tahun sudah 2021 dilewati. Pandemi di Indonesia masih belum reda dan bahkan semakin menggila. Berita-berita dan kabar duka semakin membuat perasaan tidak gembira. Padahal dalam kondisi seperti sekarang kita ‘diharuskan’ gembira dan bahagia supaya daya tahan tubuh tetap terjaga.

Pun saya jadi teringat lirik lagu ciptaan Bung Karno yang populer pada tahun 1960-an. “Mari kita bergembira/sukaria bersama/Hilangkan sedih dan duka/mari nyanyi bersama/Lenyapkan duka lara/ bergembira semua.” Seingat saya lagu ini sempat juga disenandungkan ibu saya ketika saya masih kecil.

Namun, apakah lagu tersebut sesuai dengan kondisi saat ini? Ketika masyarakat kita masih dicekam suasana pandemi yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Apalagi jika ditambahkan lirik berikutnya: “Siapa bilang bapak dari Blitar/Bapak kita dari Prambanan/ Siapa bilang rakyat kita lapar/Indonesia banyak makanan” Alhamdulillah, keluarga kami masih cukup memiliki makanan, tetapi bagaimana dengan ‘rakyat’ lainnya, yang benar-benar lapar dan membutuhkan makanan? Pandemi ini ternyata menghantam semua sektor yang berimbas pada nilai kemanusiaan kita. Untuk ini, walaupun sedikit, kami masih dapat membantu mereka yang ‘nyaris’ kelaparan.

Seperti tahun lalu, kami saat ini masih bekerja dari rumah. Sudah tak perlu ditanyakan lagi apakah menyenangkan bekerja dari rumah selama satu tahun setengah ini. Seperti tahun pula, saya tetap melakukan penelitian dengan keterbatasan karena harus bekerja dari rumah. Jika dihitung dari awal tahun 2021, sudah ada dua artikel yang diselesaikan. Satu artikel akan diterbitkan sebagai book chapter nasional dan satu artikel masih dalam bentuk draf yang telah dipresentasikan awal bulan Juni ini. Artikel ini direncanakan akan dipublikasikan untuk jurnal nasional sebagai salah satu syarat kepangkatan.

Sebenarnya ada beberapa artikel dari tahun-tahun sebelumnya yang masih harus dipoles sebelum dipublikasikan. Lalu, pertanyaan dari editor yang membantu mengedit salah satu buku saya, apakah saya memiliki naskah baru, membuat saya kembali bersemangat untuk menulis. Kumpulan ide dalam buku catatan yang masih berupa coretan-coretan. Beberapa coretan saya lihat ada yang sudah menjadi draf artikel. Saya tambah lagi coretan-coretan gagasan baru yang mungkin kelak berguna.

Sempat terpikir untuk menulis fiksi atau ‘mengarang’-pinjam ungkapan Pak Dwianto Setyawan penulis serial Sersan Grung-Grung, Kelompok 2 + 1. Sebenarnya, beberapa tahun silam, saya berlatih menulis fiksi atau mengarang. Selain menulis secara akademik. Bahkan, gabungan dari menulis akademik dan fiksi pernah diterbitkan beberapa tahun silam dalam bentuk sebuah buku yang mendapat sambutan dari pembaca. Royalti yang saya peroleh sangat lumayan. Oleh karena itu, sebagai pemula, seperti halnya menulis secara akademik, saya perlu asupan untuk dapat menghasilkan tulisan. Asupan itu berupa membaca buku-buku fiksi dan menonton film. Sejenak melupakan “duka lara” “Mari kita bergembira

foto: https://terbitnyamatahari.wordpress.com/2015/01/10/mari-bersuka-ria/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *